Langgam.id – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan para pelaku usaha tempe di Kota Padang, Sumatera Barat.
Penguatan dolar AS menyebabkan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama pembuatan tempe mengalami kenaikan signifikan dalam dua bulan terakhir.
Kondisi tersebut dialami salah satu perajin tempe di kawasan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.
Usaha tempe milik Dariani yang telah berdiri sejak era 1980-an kini menghadapi tekanan biaya produksi akibat lonjakan harga bahan baku.
Dariani mengatakan, harga kedelai impor saat ini mencapai Rp550 ribu hingga Rp560 ribu per karung ukuran 50 kilogram. Padahal, sekitar dua bulan lalu harga kedelai masih berada di kisaran Rp400 ribu hingga Rp450 ribu per karung.
“Naiknya dalam dua bulan terakhir cukup terasa. Harga kedelai sekarang sudah Rp550 ribu sampai Rp560 ribu per karung,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Tidak hanya kedelai, harga plastik kemasan juga mengalami kenaikan. Saat ini harga plastik mencapai Rp50 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp39 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Meski biaya produksi terus meningkat, Dariani mengaku belum berani menaikkan harga jual tempe. Ia menilai daya beli masyarakat sedang menurun sehingga kenaikan harga dikhawatirkan akan memengaruhi penjualan.
“Penjualan masih tetap, tapi kami susah menaikkan harga karena daya beli masyarakat turun,” katanya.
Usaha tempe yang sebelumnya dirintis di Lubuk Alung sebelum pindah ke Alai Parak Kopi pada era 1980-an itu hingga kini masih mempertahankan kapasitas produksi sekitar 200 kilogram per hari.
Untuk tenaga kerja, Dariani memastikan tidak ada pengurangan pekerja karena sebagian besar pekerja merupakan anggota keluarga sendiri.
“Alhamdulillah, karena usaha keluarga, kami tidak ada pengurangan pekerja,” jelasnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada Rabu (20/5/2026) berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga kedelai impor yang selama ini mendominasi sekitar 70 hingga 90 persen kebutuhan pasar Indonesia. (HER)






