Langgam.id -Pengamat transportasi dari Universitas Andalas Yostrizal menyoroti wacana perubahan nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menjadi Bandara Syekh Burhanuddin.
Menurutnya, usulan menggunakan nama tokoh pada sebuah bandara pada dasarnya tidak menjadi persoalan, namun perlu dikaji secara mendalam sebelum direalisasikan.
Yostrizal mengatakan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan pemerintah dalam wacana perubahan nama tersebut. Salah satunya terkait identitas dan singkatan bandara yang selama ini dikenal dengan tiga huruf.
“Biasanya singkatan nama untuk bandara itu tiga huruf. Nah, ini apa singkatannya?” kata Yostrizal Jumat (25/9/2026).
Selain itu, ia mempertanyakan apakah nama Bandara Internasional Minangkabau yang digunakan saat ini memang memiliki persoalan sehingga perlu diganti.
Selain itu menurutnya, perubahan nama bandara juga membutuhkan sosialisasi kembali, terutama kepada dunia internasional. Hal tersebut dinilai penting agar perubahan nama tidak menimbulkan kebingungan bagi pengguna jasa penerbangan.
Yostrizal menjelaskan, pada umumnya nama bandara di berbagai negara menggunakan identitas wilayah sehingga lebih mudah dikenali dan dirasakan sebagai identitas bersama.
Ia mencontohkan sejumlah bandara yang menggunakan nama wilayah seperti Dubai, Doha, dan Miami. Sementara bandara yang menggunakan nama tokoh biasanya merujuk pada tokoh yang dikenal secara internasional, seperti mantan presiden atau pahlawan yang memiliki jasa besar.
Terkait dampak perubahan nama terhadap pelayanan, Yostrizal menilai pergantian nama tidak serta-merta memberikan perubahan terhadap kualitas pelayanan di bandara.
“Dampak yang lebih pasti justru berada pada sisi keuangan karena perubahan nama akan membutuhkan penyesuaian berbagai dokumen, merek, media promosi dan kebutuhan lainnya,”ucapnya,
Ia juga menilai kebingungan pada tahap awal sangat mungkin terjadi apabila sosialisasi perubahan nama tidak dilakukan secara masif dan tidak menjangkau seluruh pemangku kepentingan, khususnya pihak luar negeri.
Menurut Yostrizal, dampak perubahan nama juga perlu dilihat dari karakteristik wisatawan atau penumpang yang menggunakan BIM. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti seberapa banyak wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Barat untuk berziarah ke makam Syekh Burhanuddin.
“Kalau memang banyak dan tersebar luas, tentu akan semakin membuat mereka lebih mudah mengenal nama baru bandara ini,” katanya.
Namun, apabila wisatawan mancanegara yang datang melalui BIM lebih banyak memiliki tujuan lain, seperti menuju Kepulauan Mentawai, perubahan nama berpotensi membuat calon penumpang kembali mempelajari informasi mengenai bandara tersebut.
“Maka mereka akan cek konektivitas transportasi, baik darat maupun udara ke kota tujuan, seolah ini adalah bandara baru,” ujarnya.
Karena itu, Yostrizal berharap pemerintah melakukan kajian secara mendalam sebelum mengambil keputusan terkait perubahan nama BIM.
“Saya berharap pemerintah mengkaji ulang secara mendalam wacana pergantian nama ini. Apakah seimbang dengan pengorbanan yang dilakukan karena pergantian nama ini. Apa keuntungannya ganti nama,” katanya.






