Pendeta Sentil Abu Janda yang Sebut Sumbar Barbar: Narasi Berlebihan

Pendeta Sentil Abu Janda yang Sebut Sumbar Barbar: Narasi Berlebihan

Foto: Ilustrasi toleransi. Foto: Pixabay

Langgam.id – Tokoh agama Kristen di Sumatera Barat (Sumbar), Pendeta Bilman Simanjuntak, menilai pernyataan pegiat media sosial Abu Janda yang menyebut Sumbar sebagai daerah “barbar” merupakan narasi yang berlebihan dan tidak tepat.

Kata Bilman, selama ini hubungan antarumat beragama di Sumbar berjalan baik dan masyarakat hidup berdampingan secara damai. Ia menilai tidak tepat jika seluruh masyarakat Sumbar diberi cap negatif hanya karena adanya persoalan tertentu.

“Kalau Sumbar dikatakan barbar, saya pikir itu narasi yang berlebihan. Barbar itu identik dengan masyarakat yang tidak punya aturan, adat istiadat dan hidup bebas. Sementara di Sumbar masyarakat masih menjunjung adat dan norma,” katanya kepada Langgam.id, Jumat (29/5/2026).

Bilman mengatakan, secara pribadi dirinya tidak melihat masyarakat Sumbar bersikap intoleran terhadap umat agama lain. Namun, ia juga mengakui masih ada beberapa persoalan yang kerap menjadi perdebatan, terutama terkait pendirian rumah ibadah di sejumlah daerah.

Menurutnya, ada beberapa kabupaten di Sumbar yang memang belum memiliki gereja. Kondisi itu, menjadi salah satu alasan munculnya pembahasan mengenai kebebasan pendirian rumah ibadah.

“Ada sisi yang memang harus kita akui, soal izin pendirian gereja di beberapa daerah masih terbatas. Itu bisa dibicarakan dan dicari jalan keluarnya bersama,” ujarnya.

Meski demikian, Bilman menilai persoalan izin pendirian gereja tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyebut masyarakat Sumbar intoleran atau barbar. Ia meminta semua pihak lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di ruang publik agar tidak memicu perpecahan.

“Kalau ada persoalan, mari dibicarakan baik-baik. Tapi jangan sampai menggunakan istilah yang melukai masyarakat Sumbar,” ungkapnya.  

Ia juga berharap polemik tersebut menjadi momentum untuk memperkuat toleransi antarumat beragama di Sumbar. Menurutnya, toleransi tidak hanya soal kebebasan beribadah, tetapi juga saling menghormati budaya, adat dan perasaan masyarakat setempat.

“Orang Kristen di Sumbar selama ini hidup baik-baik saja. Karena itu, mari sama-sama menjaga suasana damai dan saling menghargai,” pungkasnya. (WAN)

Baca Juga

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, Dr. Bakhtiar, M.Ag. (Istimewa)
Soroti Pernyataan Abu Janda, Ketua Muhammadiyah Sumbar Ingatkan Pentingnya Menghormati Kearifan Lokal
Otak Kosong Abu Janda
Otak Kosong Abu Janda
Kasus-kasus yang dinilai publik sebagai tindakan intoleran, hampir selalu muncul di bulan Ramadhan. Selain aksi sweeping oleh ormas, operasi
Ramadhan, Toleransi Resiprokal, dan Etika Sosial
Kemenag Sumbar: Moderasi Beragama Antisipasi Ekstrem Kiri dan Ekstrem Kanan
Kemenag Sumbar: Moderasi Beragama Antisipasi Ekstrem Kiri dan Ekstrem Kanan
Jemaat Nasrani Diusik saat Beribadah di Banuaran Padang
Jemaat Nasrani Diusik saat Beribadah di Banuaran Padang
Pelita Padang Dorong Partisipasi Anak Muda Lintas Iman Menjadikan Padang Kota Toleran
Pelita Padang Dorong Partisipasi Anak Muda Lintas Iman Menjadikan Padang Kota Toleran