Pemimpin Minang dan Kepemimpinan Sektor Publik

Belum lama ini seorang yunior sekaligus tokoh generasi muda di komunitasnya bertamu ke rumah penulis. Entah siapa yang memulainya, percakapan yang tadinya berupa silaturrahmi kekeluargaan berubah menjadi diskusi dan bertukar pikiran tentang kepemimpinan sektor publik. Mulai dari profil ketua paguyuban, kepala dinas, ketua partai, bupati hingga gubernur menjadi materi diskusi kami.

Yunior ini tiba-tiba bertanya; “Izin bang, bagaimana pendapat abang tentang kriteria kepemimpinan di sektor publik dan pemimpin yang ideal? Mohon pencerahannya bang”. Kemudian penulis mencoba memaparkan pemahaman tentang filosofi masyarakat Minang terhadap kriteria umum pemimpin dan kepemimpinan sektor publik berdasarkan perspektif perilaku kepemimpinan.

Ternyata beliau sangat antusias sehingga tanpa kami sadari waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ketika pamit mau pulang, didahului dengan permintaan maaf sekaligus berterima kasih beliau meminta agar dibikinkan tulisan tentang diskusi kami tersebut. Permintaan yang bersangkutan dengan alasan agar dia bisa baca ulang poin-poin diskusi kami dan juga mengingatkan bahwa tulisan penulis sebelumnya sudah terlalu jauh jarak waktunya.

Karena berbagai keterbatasan, maka tulisan ini disusun seringkas mungkin dengan harapan semoga tulisan ini menjadi inspirasi dan pengingat kembali kepada adinda kami tersebut sekaligus bermanfaat bagi pembaca yang budiman.

Kriteria Umum Kepemimpinan Masyarakat Minang

“Tokoh, Takah dan Tageh”, tiga kata yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Minang umumnya atau Sumatera Barat khususnya sebagai kriteria umum pemimpin atau kepemimpinan di masyarakat. Makna masing-masing kata yang lebih mendalam pun lebih luas tergantung pemahaman dan penerapan di masing-masing nagari sesuai filosofi, “adaik salingka nagari”.

Jika ingin lebih memahami makna masing-masing kata berdasarkan petatah petitih minang sebagai literatur dasar maka ada baiknya bertanya ke para kepala suku (panghulu pucuak) di masing-masing nagari selaku, “lubuak ilimu tapian tanyo, suluah bendang dalam nagari”.

Sebagai anak kemenakan keturunan Minang, maka tentunya penulis terikat dengan aturan, “mancancang ba landasan, malompek ba tumpuan”. Oleh karena demikian pada kesempatan ini kita membatasi pemahaman makna ketiga kata tersebut berdasarkan perspektif orientasi perilaku kepemimpinan sektor publik (oriented behavior of leadership in the public sector) yang penulis pahami.

Pemimpin Harus Tokoh

Untuk dapat dikategorikan seorang pemimpin adalah tokoh maka orang tersebut harus memiliki kemampuan perilaku kepemimpinan berorientasi organisasi (organization-oriented behaviors). Adapun kemampuan atau kompetensi perilaku pemimpin berorientasi organisasi adalah sebagai berikut;

Mampu bekerjasama dengan semua pihak (networking and partnership).

Kemampuan untuk bekerjasama dengan semua pihak dalam mengelola jaringan dan kemitraan merupakan sesuatu yang berbeda sebagaimana mengelola sebuah komunitas masyarakat dan hirarki organisasi lainnya. Masyarakat bersifat multisenter, berkelompok, dan tidak terstruktur sedangkan negara dan perusahaan memiliki hierarki organisasi yang jelas, namun mengelola kemitraan lebih pluralistic dan majemuk. Jaringan dan kemitraaan merupakan bentuk alternatif dari pendekatan organisasi sosial dan politik dengan tantangannya bentuk organisasi tradisional umumnya.

Tugas seorang pemimpin dalam mengelola jaringan kemitraan adalah mengelola kerjasama antara orang-orang dan organisasi bahkan antar organisasi. Kemampuan untuk mengelola literasi dan tata Bahasa dalam komunikasi verbal adalah suatu keharusan (menjadi teladan), sehingga jaringan kemitraan dibangun dan mampu menghimpun seluruh potensi sumber daya yang ada seperti informasi, keahlian personil, dan teknologi dari seluruh elemen organisasi untuk saling berkolaborasi satu sama lain.

Mampu mengambil keputusan disaat krisis (decision-making).

Seorang tokoh juga harus mampu membuat keputusan dalam situasi krisis atau situasi genting (mitigasi bencana). Pada situasi krisis selalu terjadi ketidakpastian yang menimbulkan ketakutan dan tekanan dalam masyarakat dan internal organisasi. Situasi krisis ditandai dengan sesuatu hal tidak terduga atau tidak biasa. Gangguan pada komunikasi dan pengambilan keputusan merupakan gambaran kemampuan sistem tanggap darurat itu sendiri yang berawal dari gangguan dalam koordinasi dan komunikasi, dalam hal ini adalah kemampuan pemimpin membuat keputusan yang tepat dibawah tekanan kondisi krisis/ situasi genting.

Mampu menganalisa situasi lingkungan (scanning the environment).

Kemampuan analisis atau pemetaan situasi lingkungan adalah kemampuan kepemimpinan tokoh lainnya. Kemampuan pemetaan situasi ini terutama mencari informasi peluang dan ancaman dari luar organisasi. Organisasi pemerintah memiliki kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai elemen organisasi pemerintahan itu sendiri sebagaimana organisasi perusahaan. Tetapi seorang tokoh harus mampu mengakses informasi penting dari berbagai sumber bukan hanya berdasarkan satu sumber saja. Kemampuan ini sangat penting dan krusial bagi seorang pemimpin terutama jika lingkungan masyarakat yang dinamis dan berubah-ubah.

Mampu atau memiliki logika perencanaan strategis (strategic planning).

Seorang tokoh juga merupakan seorang perencana strategis yang memiliki visi dan misi pribadi serta mampu mengkolaborasikannya dengan visi dan misi organisasi yang bersifat jangka panjang. Sehingga seorang tokoh memiliki metode logika berfikir yang terukur dalam mengambil keputusan untuk menentukan tahapan proses sebuah kebijakan organisasi. Dengan kemampuan tersebut maka seorang tokoh mampu memimpin organisasi dalam mencapai tujuan, target, kegiatan dan metode kerja organisasi.

Baca Juga: Paradigma Baru PP 54 Tahun 2017 dalam Pendirian dan Tata Kelola BUMD

Pemimpin Harus Takah

Seorang pemimpin dikatakan memiliki takah adalah apabila orang tersebut memiliki kemampuan perilaku pemimpin berorientasi sumber daya manusia (people-oriented behaviors) yang terdiri dari;

Mampu membangun tim (team building).

Kemampuan membangun tim yang terdiri dari 2 orang atau lebih dengan tugas dan aturan spesifik, bekerjasama untuk tujuan yang terukur, target dan misi tertentu merupakan suatu keharusan bagi seorang pemimpin. Sebuah tim dibentuk dari beberapa orang yang memiliki kemampuan saling melengkapi satu sama lainnya untuk saling bekerjasama mencapai tujuan yang spesifik dan sasaran kinerja tim yang sama dalam hubungan timbal balik terhadap tanggung-jawab masing-masing. Kemampuan pemimpin dalam perilaku kepemimpinan berorientasi "people" adalah untuk menciptakan hubungan kerja dan komunikasi antar anggota tim agar mampu meningkatkan efektifitas organisasi.

Mampu merencanakan dan menggorganisasikan personil (planing and organizing personnel).

Kemampuan seorang pemimpin dalam merencanakan dan mengorganisasikan personil sangat ditentukan dari kemampuan untuk mengidentifikasi tujuan jangka panjang serta menetapkan keputusan dalam memperkerjakan dan mengatur personil. Focus utama dalam kemampuan ini adalah menemukan cara terbaik untuk membagi dan mengatur pekerjaan yang memberi semangat dan melibatkan para staf pegawai. Cara tersebut secara berkelanjutan meningkatkan efektifitas kinerja melalui; kegiatan pelatihan dan pengembangan, appraisal kinerja, event social, team building, mengenali dan memberi penghargaan pegawai. Ini merupakan proses yang dinamis untuk menciptakan pegawai yang terlatih dan kepuasan jangka pendek serta untuk menciptakan kestabilan dan keberlanjutan budaya organisasi jangka panjang.

Mampu memotivasi pengikut bahkan ketika terjadi bencana (motivating).

Secara umum konsep motivasi adalah merumuskan factor-faktor yang mengarahkan perilaku, keinginan, kebutuhan, dan harapan seseorang untuk mencapai tujuan dalam periode tertentu. Factor-faktor tersebut dapat berupa eksternal dan internal untuk menciptakan suatu pekerjaan yang spesifik yang menggugah semangat dan menarik bagi pegawai (intrinsic) maupun penghargaan berupa uang dan promosi jabatan (extrinsic). Kemampuan motivating ini sangat menentukan performa dan image pemimpin dimata pengikutnya.

Pemimpin Harus Tageh

Pemimpin yang “tageh” (tangguh) adalah pemimpin yang memiliki kompetensi perilaku orientasi tugas (task-oriented behaviors), yang terdiri dari;

Mampu memberikan solusi masalah (problem solving).

Masalah merupakan sebuah hambatan akibat perbedaan antara kenyataan dengan situasi yang diharapkan atau bahkan tidak diharapkan yang menimbulkan kesulitan untuk diselesaikan. Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) adalah kemampuan pemimpin untuk menganalisa masalah dalam waktu dan perilaku yang logis untuk mengenali penyebab, menemukan solusi permanen, kemudian menerapkan solusi tersebut secara tepat untuk memecahkan masalah atau krisis secara signifikan. Akibatnya seorang pemimpin harus memiliki kecakapan atau kompetensi teknis terhadap tugas yang diberikan kepada pengikutnya sehingga mampu membimbing staf untuk dapat mandiri mengatasi masalah yang sama dimasa depan.

Mampu mengelola kreativitas dan innovasi (managing innovation and creativity).

Kreatifitas adalah kemampuan mengembangkan ide baru yang berguna, sedangkan inovasi adalah kesuksesan ide kreatif tersebut untuk organisasi. Jika kreatifitas terjadi ditingkat individu maka innovasi terjadi di tingkat perusahaan. Kemajuan innovasi organisasi sangat ditentukan oleh karakter individu-individu kreatif yang membentuk tim masa depan organisasi. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mentransformasikan perilaku kreatif individu menjadi inovasi produk dan organisasi sebagai budaya untuk mendukung lingkungan kerja yang inovatif. Kemampuan tersebut tentunya membutuhkan kompetensi strategis dalam perspektif organisasi (helicopter view) dan kompetensi teknis dalam perspektif individu (ground view) dari seorang pemimpin. Secara normatif, pemimpin karir berdasarkan kompetensi tugas (task competency) lebih mampu mengelola kreatifitas pengikutnya menjadi transformasi budaya inovasi organisasi.

Kategori Pemimpin Ideal

Siapapun dapat dikategorikan sebagai pemimpin ideal di sektor publik apabila memiliki kriteria-kriteria di atas. Rekam jejak untuk membuktikan semua kriteria tersebut dimiliki oleh seorang pemimpin adalah sebuah keharusan, karena seorang pemimpin terlahir dari proses. Meskipun seseorang terlahir memiliki bakat pemimpin namun kepemimpinan harus diuji dan dibentuk dengan proses, seumpama bilah besi biasa yang diasah setiap waktu menjadi pedang tajam jauh lebih ampuh di medan perang dibandingkan bilah baja yang tidak pernah diasah dan diproses menjadi sebuah pedang.

Jika kita ambil contoh di lingkungan pemerintah daerah selaku penyelenggara pelayanan publik negara di daerah maka persamaan jabatan eselon III selaku pemimpin sektor publik, idealnya minimal harus memiliki rekam jejak kemampuan perilaku kepemimpinan yang “tageh”. Namun jika pemimpin yang menjabat eselon II maka idealnya harus memiliki rekam jejak perilaku kepemimpinan yang “tageh” dan “takah”.

Maka jika ingin memilih kepala daerah atau bahkan perwakilan legislatif yang ideal, pilihlah pemimpin yang memiliki rekam jejak perilaku kepemimpinan yang “tageh”, “takah” dan “tokoh”. (*)

(Negeri Sepucuk, Sembilan Jurai, 14 November 2022)

--

Ikuti berita Sumatra Barat hari ini, terbaru dan terkini dari Langgam.id.  Anda bisa bergabung di Grup Telegram Langgam.id News Update di tautan https://t.me/langgamid atau mengikuti Langgam.id di Google News pada tautan ini.

 

Baca Juga

Berita terbaru dan terkini hari ini: Chalil mendoakan agar pembangunan IKN lancar dan pepimpin Indonesia  diberikan maunah dan hidayah.
Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI Doakan Ini untuk IKN dan Pemimpin Indonesia
Berburu Takjil Antaragama
Berburu Takjil Antaragama
Ingatan Kita Terhadap Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Respons Terhadap Wacana Penggantian Nama Masjid Raya Sumbar
Ingatan Kita Terhadap Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Respons Terhadap Wacana Penggantian Nama Masjid Raya Sumbar
Sebelum Masjid Raya Sumbar Berganti Nama
Sebelum Masjid Raya Sumbar Berganti Nama
Pancasila Sumbar Pilkada
PPP, Pemilu 2024 dan Politik Islam
In Memoriam Prof. Dr. M. Alwi Dahlan, M.A "Harimau Tjampa" dan Bapak Komunikasi Indonesia
In Memoriam Prof. Dr. M. Alwi Dahlan, M.A "Harimau Tjampa" dan Bapak Komunikasi Indonesia