Merajut Potensi Alumni, Bahan Bakar Kemandirian UNAND di Masa Mendatang

Fakultas Teknik Universitas Andalas (FT Unand) menerima mahasiswa baru angkatan pertama untuk Program Studi Sarjana Arsitektur tahun ini.

Gerbang masuk Universitas Andalas. [foto: IG @uni_hanifa]


Langgam.id — Suaranya bergetar ketika mengenang masa kuliah di Universitas Andalas (UNAND). Ada jeda sebelum ia melanjutkan cerita, seolah puluhan tahun yang telah berlalu mendadak kembali ke hadapannya.

Mahrauza Purnaditya, Direktur Bisnis PT Bank Mandiri Taspen, adalah alumni Program Studi Akuntansi UNAND angkatan 1989. Ia diwisuda lima tahun setelahnya pada 1994.

“Dulu, kami masih di kampus Jati. Baru setelah itu, sekitar tahun 1990-an secara bertahap (perkuliahan) dipindahkan ke Limau Manis,” kenangnya, di hadapan Rektor, Wakil Rektor II dan sejumlah pimpinan kampus, saat MoU UNAND dengan PT Mandiri Taspen, Kamis (27/8/2026).

Tidak ada cerita tentang dirinya sebagai mahasiswa paling pintar. Justru sebaliknya, Mahrauza mengaku bukan bagian dari kelompok mahasiswa yang menonjol secara akademik.

Namun, ada satu pencapaian yang sampai sekarang tak bisa ia lupakan.

“Saya bukan termasuk kelompok mahasiswa yang pintar, tetapi saya malah masuk 10 mahasiswa pertama yang lulus dari Akuntansi angkatan saya,” katanya sambil tertawa.
IPK-nya ketika lulus hanya 2,76.

Angka itu bahkan sempat membuatnya berpikir apakah harus mengulang mata kuliah lagi atau tidak. Ia akhirnya memilih tidak mengulang.

“Saat itu saya ditawari dosen, mau mengulang atau tidak. Karena IPK rendah. Tidak, Pak. Saya lulus saja, mau cari kerja. Untungnya syarat IPK waktu itu untuk kerja cuma 2,75. Jadi saya lulus,” ujarnya.

Kalimat itu disampaikan dengan tawa. Tetapi di balik cerita sederhana tersebut tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting. Baginya, UNAND bukan hanya tempat untuk memperoleh gelar sarjana.

Lebih dari itu, kampus tertua di Pulau Sumatra itu adalah tempat pembentukan karakter. Tempat menuntut ilmu. Tempat membangun jaringan. Dan, dalam perjalanan hidupnya kemudian, tempat yang memberi fondasi untuk tumbuh.

Puluhan tahun setelah meninggalkan bangku kuliah, Mahrauza kembali berhadapan dengan almamaternya dalam posisi yang berbeda.

Ia kini berada di jajaran pimpinan perusahaan. Posisi sebagai direksi sekaligus pengambil kebijakan membuka ruang lebih luas baginya untuk memberikan sesuatu kepada kampus yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Salah satunya melalui kerja sama UNAND dengan Bank Mandiri Taspen. Kerja sama tersebut membuka ruang untuk mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kegiatan riset, beasiswa hingga layanan keuangan bagi para pensiunan.

Bagi Mahrauza, inilah salah satu bentuk sederhana dari hubungan alumni dengan almamater. Alumni tidak berhenti ketika wisuda. Justru setelah memasuki dunia profesional, ada kesempatan untuk kembali membawa pengalaman, jaringan, pengetahuan, bahkan kewenangan yang dimiliki untuk memperkuat kampus.

“Saya berkomitmen untuk terus mendukung kampus agar semakin tumbuh dan berkembang,” katanya.

Dari semangat seorang Mahrauza Purnaditya, pertanyaan yang lebih besar kemudian muncul. Bagaimana jika pengalaman dan kapasitas yang dimiliki seorang alumni tidak berdiri sendiri? Bagaimana jika ribuan, bahkan ratusan ribu alumni UNAND yang tersebar di berbagai bidang dapat dihubungkan dalam sebuah ekosistem untuk membesarkan institusi?

Itulah yang disadari Rektor UNAND Efa Yonnedi. Sejak terpilih menjadi orang nomor satu di kampus hijau itu pada 2023 lalu, mengoptimalkan potensi dan jejaring alumni menjadi prioritas kerjanya. Efa punya mimpi, UNAND punya jejaring alumni yang berkontribusi bagi pengembangan institusi di masa mendatang, seperti kampus-kampus top dunia.

UNAND yang kini genap berusia 70 tahun, memiliki lebih dari 160 ribu alumni. “Alumni menjadi bagian strategis dalam pengembangan kampus ke depan,” kata Efa kepada langgam.id, Kamis (3/9/2026).

Ia menyebutkan alumni UNAND sudah menyebar di berbagai institusi dan lembaga. Mereka ada di pemerintahan, perusahaan negara, sektor swasta, industri, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga internasional, organisasi profesi, hingga berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Angka 160 ribu itu bukan sekadar statistik. Di dalamnya ada modal sosial yang sangat besar. Ada pengalaman. Ada kompetensi. Ada jaringan. Ada reputasi. Ada akses. Dan tentu saja, ada potensi finansial.

Masalahnya adalah bagaimana potensi tersebut dirajut. Sebab, alumni yang bergerak sendiri-sendiri hanya akan menghasilkan kontribusi yang sporadis. Sebaliknya, alumni yang terhubung dalam sistem dapat menjadi kekuatan institusional.

Pimpinan UNAND telah menyadari kondisi itu, dan memperkuat antara kampus dengan alumni. Bukan semata-mata berhenti pada pertanyaan “Berapa alumni yang mau menyumbang?” Melainkan, “Bagaimana seluruh potensi alumni dapat dioptimalkan untuk membantu pengembangan universitas ke depan”.

Apalagi dengan status UNAND yang menghadapi tuntutan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum atau PTNBH. Sejak 31 Agustus 2021, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2021, UNAND resmi menyandang status sebagai PTNBH.

Status itu, memberikan ruang otonomi yang lebih besar, tetapi sekaligus membawa tuntutan kemandirian yang lebih besar pula.

Kasarnya, UNAND dituntut meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat riset, mengembangkan inovasi, meningkatkan reputasi internasional, membangun fasilitas, memperluas jejaring global dan menghasilkan lulusan berkualitas. Namun, itu semua membutuhkan sumber daya alias dana.

Kebutuhan dana itu tidak bisa serta merta dibebankan ke mahasiswa, lewat UKT. Kampus harus kreatif mencari sumber pemasukan untuk memenuhi semua kebutuhan pendanaan tersebut, dan tidak lagi sepenuhnya bergantung ke APBN.

Di sinilah tantangannya. Efa Yonnedi menegaskan, universitas harus mengejar peningkatan mutu tanpa membebani mahasiswa. “Dilemanya, perguruan tinggi dituntut meningkatkan mutu, tetapi juga bagaimana proses ini tidak membenani mahasiswa,” kata alumnus Doktoral di University of Manchester itu.

Makanya, UNAND mengambil kebijakan tidak menaikan UKT (Uang Kuliah Tunggal), bahkan sejak pertama kali diterapkan pada 2013 lalu.
“Bisa dicek, UKT UNAND paling rendah di seluruh PTNBH se Indonesia,” sebut Efa.

Temuan langgam.id mencatat UNAND memiliki tujuh level UKT. Mulai dari kelompok I Rp500.000 atau terendah, kelompok 2 Rp1.000.000, kelompok 3 hingga kelompok 7 menyesuaikan dengan program studi di masing-masing fakultas, dengan angka terbesar Rp12.000.000 di Prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi.

Mantan Komisaris Utama Askrida itu menilai kebijakan tidak menaikan UKT didasari pada kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pasca bencana Covid-19. Bahkan, di Sumbar diperparah dengan bencana ekologis dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami komit tidak akan menaikkan UKT. Tetapi, ada rencana untuk menambah level UKT, menjadi 8 kelompok,” jelasnya.

Keputusan tidak menaikan UKT tersebut jelas memperlihatkan keberpihakan kampus kepada akses pendidikan. Namun, pada saat bersamaan, universitas tetap harus membiayai peningkatan kualitas. Laboratorium membutuhkan investasi. Riset membutuhkan dana. Dosen membutuhkan dukungan hingga internasionalisasi membutuhkan biaya.

Sementara ruang untuk menaikkan beban mahasiswa tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban. Karena itu, UNAND harus mencari sumber energi lain. Kerja sama dengan pihak ketiga menjadi salah satunya. Beasiswa dan penelitian yang dibiayai sponsor terus didorong.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kamahasiswaan Syukri Arief menyebutkan saat ini lebih dari 25 persen mahasiswa UNAND telah mendapatkan beasiswa, baik melalui KIP Kuliah maupun berbagai skema lainnya.

Angka tersebut terus didorong agar semakin besar. Karena bagi universitas, beasiswa bukan sekadar bantuan. Beasiswa adalah investasi. “Kami terus upayakan bagaimana mahasiswa UNAND mendapatkan lebih banyak akses ke beasiswa,” tambahnya.

Selain itu, tentu saja UNAND mengembangkan Dana Abadi yang akan menjadi fondasi pendanaan berkelanjutan di masa mendatang. Potensi alumni, menjadi bagian paling penting dalam pengembangan dana abadi.

Dana abadi UNAND per Maret 2026 mencapai Rp32,2 miliar, dengan imbal hasil pengembalian (return) investasi meningkat dari 2,39 persen pada 2024 menjadi 5,13 persen pada 2025. Hasil pengelolaan dana abadi itu sudah mulai dimanfaatkan Rp1 miliar pada tahun lalu untuk alokasi beasiswa.

Meski angka ini masih tergolong kecil dan belum cukup untuk membiayai kebutuhan universitas. Tetapi dana abadi memiliki makna yang jauh lebih panjang daripada sekadar angka. Dana tersebut adalah investasi lintas generasi.

Modal yang dikembangkan hari ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa pada masa depan. Dalam konteks inilah, Efa memandang pengalaman universitas-universitas besar dunia menjadi menarik untuk dipelajari.

Harvard University, misalnya. Kampus tersebut memiliki lebih dari 420 ribu alumni di seluruh dunia. Namun, kekuatan alumninya tidak hanya dihitung dari jumlah orang. Alumni dibangun menjadi bagian dari ekosistem universitas melalui jejaring, filantropi, pelayanan, kepemimpinan dan berbagai bentuk keterlibatan lainnya.

Yang paling menarik adalah bagaimana Harvard mengelola dana abadi. Pada tahun 2025, endowment atau dana abadi Harvard mencapai sekitar US$56,9 miliar, dengan kurs saat ini Rp17.600 per dolar Amerika, nilainya berkisar Rp1.003 triliun.

Dari dana tersebut, didistribusikan untuk mendukung operasional universitas mencapai US$2,5 miliar, atau sekitar 37 persen dari total pendapatan operasional Harvard pada tahun tersebut.

Dana abadi tersebut juga menopang berbagai kebutuhan, termasuk gaji dan tunjangan profesor, bantuan keuangan mahasiswa, fellowship, kehidupan mahasiswa, program akademik, perpustakaan hingga berbagai fasilitas.

Namun, Harvard tidak sekadar mengumpulkan dana. Ia membangun tradisi kontribusi alumni sebagai bagian dari keberlanjutan universitas. Ada kontribusi untuk beasiswa hingga warisan yang dirancang untuk mendukung universitas pada masa depan. Ada pula alumni yang berkontribusi melalui kepemimpinan dan pelayanan.

Bahkan, Board of Overseers Harvard yang memiliki peran penting dalam tata kelola universitas terdiri dari alumni. Mereka membawa pengalaman dan perspektif untuk memberi masukan terhadap arah strategis universitas.

Artinya, alumni di Harvard tidak ditempatkan hanya sebagai donatur. Mereka juga menjadi bagian dari jaringan pengetahuan, kepemimpinan dan pengembangan institusi.

UNAND kini menuju upaya tersebut. Alumni tidak hanya diminta memberikan uang. Alumni memberikan waktu. Pengetahuan. Pengalaman. Jaringan dan akses.

“Alumni adalah asset strategis universitas. Kita ingin ada database yang kuat, dan pemberdayaan potensi alumni. Makanya, kita ingin semua diintegrasikan di aplikasi MyUNAND untuk memudahkan sinergisitas kampus, mahasiswa, alumni, hingga orangtua,” jelas Efa.

Ia mengakui dalam pengelolaan potensi alumni, harus ada pemetaan kompetensi, jejaring profesi, program mentoring, akses magang, kolaborasi riset, juga perlu ada ruang bagi alumni membuka jejaring internasional.

Dan tentu saja harus ada mekanisme kontribusi finansial yang mudah, transparan dan berkelanjutan. Dengan lebih dari 160 ribu alumni, UNAND sebenarnya memiliki fondasi untuk membangun sistem tersebut.

Secara finansial misalnya, jika seorang alumni menyumbang Rp100 ribu saja per tahun, maka sudah terkumpul Rp16 miliar untuk dana abadi.
Belum modal lainnya, yaitu modal jejaring. Sebab, banyak alumni UNAND kini berkiprah di pemerintahan, di perbankan, di perusahaan multinasional, di BUMN, di rumah sakit, media, dan berbagai bidang lainnya.

Yang diperlukan kini adalah kemampuan universitas menghubungkan semua modal tersebut dengan kebutuhan kampus. Mulai dari kebutuhan mahasiswa untuk tempat magang, mentor, mitra riset, dan jejaring penghubung internasional.

Ini lah konsep yang sedang dibangun UNAND, bagaimana alumni yang merupakan bagian dari akar perguruan tinggi memperkuat perannya memperkokoh bangunan Andalas hingga menjulang tinggi dan berdampak luas.

Dan praktik itu sebenarnya sudah mulai tumbuh di UNAND. Andalas Golf Club atau AGC, organisasi di bawah IKA UNAND, menjadi salah satu contoh. Terbaru, AGC memberikan beasiswa Rp150 juta kepada 75 mahasiswa UNAND. Bahkan, tahun lalu memberikan donasi untuk beasiswa sebesar Rp500 juta.

Ketua Umum AGC Suwirman menegaskan bahwa beasiswa tersebut tidak hanya ditujukan untuk meringankan beban finansial mahasiswa.
Penerima diharapkan menjadikan kesempatan itu sebagai motivasi untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan dan meraih prestasi.

“Berorganisasilah dan berprestasilah. Gunakan kesempatan lewat beasiswa ini untuk meningkatkan skill dan mengembangkan jaringan,” pesan Suwirman, saat penyerahan beasiswa Jumat (14/8/2026) lalu.

Bagi Suwirman, komunikasi dan relasi merupakan indikator penting untuk mencapai kesuksesan pada masa mendatang.

Pandangan itu sekaligus menunjukkan bahwa kontribusi alumni tidak selalu berbentuk cek. Ada kontribusi yang berbentuk kesempatan, berbentuk akses, berbentuk pengalaman, berbentuk jaringan, dan semua itu memiliki nilai.

Ketua Umum Alumni UNAND Denny Abdi, yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, melihat hal serupa.

Program kerja alumni, menurutnya, perlu dibuat sejalan dengan rencana pengembangan universitas. Dengan begitu, alumni dapat menjadi mitra strategis dalam pembangunan kampus.

“Fokusnya adalah pemberdayaan potensi alumni. Sehingga, ke depan alumni benar-benar berperan optimal untuk mendukung pengembangan institusi,” katanya.

Denny juga mengingatkan agar kegiatan alumni tidak justru membebani organisasi. Lebih jauh, kontribusi alumni tidak boleh selalu dipersempit menjadi persoalan dana. Uang memang penting. Tetapi jika 160 ribu alumni hanya dilihat sebagai 160 ribu calon donatur, maka sebagian besar potensi itu justru terlewatkan.

Sebab, ada ribuan orang yang memiliki keahlian, yang memiliki jaringan, dan pengalaman. Ada ribuan orang yang dapat membuka kesempatan. Maka yang dibutuhkan adalah sistem untuk mempertemukan semua itu.

Di sinilah konsep alumni sebagai “modal sosial” menjadi penting. Modal sosial tidak selalu terlihat dalam laporan keuangan. Namun, ia dapat menentukan seberapa cepat sebuah institusi bergerak.

Karena itu, kemandirian UNAND tidak harus dimaknai sebagai kemampuan universitas berdiri sendiri. Kemandirian justru berarti kemampuan mengorganisasi seluruh kekuatan yang dimiliki. Mulai dari pemerintah, mahasiswa, dosen, dunia usaha. Masyarakat, dan alumni yang menjadi satu simpul saling terhubung.

Jika ekosistem itu terbangun, maka ketergantungan pada satu sumber pembiayaan dapat dikurangi secara bertahap. Dan tentu saja mimpi mencapai misi UNAND menjadi kampus global dengan menempatkan alumni sebagai bagian penting dari perjalanan tersebut menjadi relevan.

Dengan kata lain, peran alumni memberikan efek berantai. Mahasiswa dibantu, lulus, dan berhasil. Kemudian ia membantu mahasiswa berikutnya. Siklus itu dapat berlangsung terus menerus.

Semangat yang sesungguhnya terkandung dalam tema besar UNAND: berakar, tumbuh menjulang dan berdampak. Akar tidak terlihat. Tetapi akar menentukan seberapa kuat pohon berdiri.

Alumni adalah bagian dari akar itu. Mereka pernah tumbuh dari tanah yang sama. Mereka membawa nama UNAND ke berbagai tempat. Kini, mereka dapat kembali memberikan nutrisi bagi pohon yang dahulu membesarkan mereka.

Mereka hanya butuh ruang untuk berkontribusi, dan pastikan kontribusi itu memberi dampak yang dapat mereka lihat. Sebab, alumni yang melihat kontribusinya melahirkan perubahan akan lebih mudah tumbuh menjadi bagian dari gerakan jangka Panjang.

Pada akhirnya, pohon Andalas itu tidak cukup hanya berakar. Ia harus tumbuh. Tidak cukup hanya tumbuh. Tapi menjulang dan tentu saja berdampak. Bagi mahasiswa, bagi masyarakat, bagi kejayaan bangsa.

Tag:

Baca Juga

Cermin Lama dengan Wajah Baru
Cermin Lama dengan Wajah Baru
Polisi Ringkus Pelaku Curanmor yang Beraksi Tahun Lalu di Padang
Polisi Ringkus Pelaku Curanmor yang Beraksi Tahun Lalu di Padang
Penerbangan BIM Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Pengamat: Risiko Tak Ditentukan Jarak
Penerbangan BIM Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Pengamat: Risiko Tak Ditentukan Jarak
Diduga Dipicu Puntung Rokok, 3 Hektare Lahan Terbakar di Dharmasraya
Diduga Dipicu Puntung Rokok, 3 Hektare Lahan Terbakar di Dharmasraya
Pipa milik Perusaah Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Padang atau dulu disebut PDAM, mengalami kebocoran di Jalan Sungai Lareh,
Daftar Wilayah Alami Gangguan Air PDAM, Dampak Perbaikan Accelator 2 IPA Gunung Pangilun  
Perumda Air Minum Padang Lanjutkan Perbaikan Accelator 2 IPA Gunung Pangilun
Perumda Air Minum Padang Lanjutkan Perbaikan Accelator 2 IPA Gunung Pangilun