Mark Yunan Sirhan Terpilih Pimpin DPP Nasional IKTB

Langgam.id – Mark Yunan Sirhan terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasional Ikatan Keluarga Tanjung Barulak (IKTB) atau Perwatab. Ia terpilih dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana yang digelar di Asrama Haji Kota Bekasi, Sabtu (10/10/2026).

Mark Yunan Sirhan mendapat amanah untuk menyatukan perantau asal Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Rakernas tersebut dihadiri perwakilan perantau dari sejumlah daerah, di antaranya Perwatab Padang, IKTB Pekanbaru, Bengkulu, Lampung, Batam, Palembang, dan Jabodetabek. Hadir pula perwakilan Tiga Tungku Sajarangan serta sejumlah tokoh masyarakat di Jabodetabek.

Penyatuan perantau dalam satu wadah organisasi dinilai penting mengingat besarnya potensi diaspora Tanjung Barulak. Sejak gerakan perantau terorganisasi pada 1978, masyarakat asal nagari tersebut telah tersebar di sekitar 15 provinsi di Indonesia.

Di wilayah Jabodetabek, jumlah perantau Tanjung Barulak diperkirakan mencapai 500 kepala keluarga. Sementara itu, secara nasional jumlahnya sekitar 800 kepala keluarga.

Para perantau tersebut berkiprah di berbagai bidang, mulai dari kuliner, perdagangan, hingga profesional dan akademisi. Sejumlah nama dikenal melalui usaha rumah makan Padang, seperti Nurhayati Wardah, Ales Anto dengan jaringan Salero Denai, Montinovel dengan Tanjung Baru, serta Hernandes yang mengembangkan usaha Bungo Tanjuang di Brebes.

Selain itu, terdapat sejumlah tokoh profesional dan akademisi, di antaranya pakar psikologi politik Profesor Hamdi Muluk dan Profesor Surya Rosa. Dari bidang olahraga, ada Herman Taher yang menjabat sebagai petinggi KONI Kalimantan Barat.

Dalam Rakernas tersebut, peserta juga membahas identitas dan arah kelembagaan organisasi, termasuk penggunaan nama IKTB atau Perwatab.

Tokoh masyarakat, Syarun, menyampaikan bahwa Perwatab merupakan organisasi perantau Tanjung Barulak yang pertama. Menurutnya, penggunaan istilah perkumpulan warga memiliki cakupan yang lebih luas dan dapat merangkul masyarakat dari berbagai latar belakang.

Selain persoalan nama, pembahasan juga menyentuh bentuk organisasi ke depan. Peserta mendiskusikan pilihan sistem kepengurusan terpusat dengan aturan yang mengikat hingga tingkat daerah atau sistem desentralisasi yang memberikan keleluasaan kepada masing-masing wilayah.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang mampu mengakomodasi kebutuhan perantau sekaligus memperkuat hubungan dengan kampung halaman.

Wali Nagari Tanjung Barulak, Doni Afriko, menyambut baik konsolidasi perantau tersebut. Ia mengatakan, salah satu fokus kepengurusan baru adalah melakukan pendataan menyeluruh terhadap perantau Tanjung Barulak di berbagai daerah.

Pendataan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menyatukan potensi diaspora yang selama ini tersebar.

Pemerintah nagari juga berharap terbangun sinergi antara organisasi perantau dengan pemerintah nagari, Badan Permusyawaratan Rakyat Nagari (BPRN), dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) untuk mendukung pembangunan kampung halaman.

Dukungan juga disampaikan Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly. Ia menilai penyatuan perantau merupakan langkah penting untuk membangun wadah bersama yang dapat saling mendukung dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia mengingatkan agar keberagaman latar belakang dan potensi tokoh dalam organisasi tidak memunculkan ego sektoral. Sebaliknya, seluruh potensi tersebut harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan mendorong kemajuan nagari.

Menurutnya, peran perantau selama ini sangat penting, terutama ketika Sumbar menghadapi situasi sulit, seperti pandemi dan bencana alam. Bantuan dari perantau turut mendukung upaya pemulihan masyarakat dan daerah terdampak.

Dengan terbentuknya kepengurusan nasional, organisasi perantau Tanjung Barulak diharapkan tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung pembangunan di kampung halaman.

Selain memilih ketua umum, Rakernas juga menetapkan 13 orang sebagai formatur untuk menyusun kepengurusan organisasi.

Mereka adalah H M. Yunan Sirhan dari Medan, Hernandes, Rosmayeti, Amani Nawawi, dan Effendi dari Jabodetabek; Nafriadi, Idrus, dan Nofrizal Nawawi dari Palembang; Darlis dari Bandar Lampung; Tabrani dari Batam; Desmalita dari Padang; Hengky dari Bengkulu; serta Robby Oktika Yusni dari Pekanbaru. (HER)

Baca Juga

Yogi Nofrizal
Soroti Penanganan Kasus VCS Bupati Safni, Perantau Limapuluh Kota Desak Polda Uji Digital Forensik
PCMM Satukan Orang Minang di Malaysia Lewat Semangat Akademis
PCMM Satukan Orang Minang di Malaysia Lewat Semangat Akademis
Sejumlah perantau Minang turut menunjukkan kepeduliaannya terhadap bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumbar
Para Perantau Minang Galang Donasi dan Bantu Korban Bencana di Sumbar
In Memoriam Prof. Dr. Hasjim Djalal Gelar Tuanku Pujangga Diraja: Patriot Negara Kepulauan Indonesia Dalam Kenangan
In Memoriam Prof. Dr. Hasjim Djalal Gelar Tuanku Pujangga Diraja: Patriot Negara Kepulauan Indonesia Dalam Kenangan
Peduli Bencana Tanah Datar, BM 3 Sumut Salurkan Bantuan dan Santunan
Peduli Bencana Tanah Datar, BM 3 Sumut Salurkan Bantuan dan Santunan
Kadisnakertrans Sumbar, Nizam Ul Muluk mengatakan bahwa saat ini perantau Minang tidak lagi didominasi oleh laki-laki, namun perempuan.
Kadisnakertrans Sumbar: 94 Persen Pekerja Migran Minang Adalah Perempuan