Langgam.id – Ahli Geologi Sumatra Barat, Ade Edward, mengatakan penanganan krisis air bersih pascabencana di Kecamatan Kuranji dan Pauh, Kota Padang, melalui pembuatan sumur bor di fasilitas umum dinilai hanya bersifat darurat.
Ia menegaskan, bahwa solusi tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga dalam jangka panjang.
“Sumur bor itu solusi, tapi bukan untuk jangka panjang, karena selalu disuplai pakai air tanah. Kalau masih untuk bersama, itu belum permanen,” ujar Ade, Kamis (23/07/2026).
Ia menjelaskan, sumur bor memiliki keterbatasan jumlah dan apalagi ditempatkan untuk digunakan bersama. Air bersih seharusnya mengalir hingga ke rumah-rumah masyarakat, melalui jaringan perpipaan permanen, seperti PDAM.
“Pelayanan darurat pakai sumur bor itu bagus, tapi jangan diabaikan untuk menyiapkan jaringan air bersih yang permanen. Itu kewajiban pemerintah,” tegasnya.
Ade mengungkapkan, krisis air bersih di dua kecamatan tersebut dipicu oleh perpindahan alur Sungai Batang Kuranji akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Perpindahan alur ini, mengakibatkan sumur-sumur dangkal milik masyarakat mengering.
“Terjadi peliaran jalur sungai akibat penumpukan sedimen berupa lumpur, pasir, kerikil, batu, hingga material bangunan dan pepohonan,” tuturnya. (WAN)






