Langgam.id – Gangguan layanan air Perumda Air Minum atau PDAM membuat sejumlah warga Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut membuat warga harus berjaga pada malam hari untuk menampung air ketika alirannya kembali deras. Sebagian warga bahkan terpaksa membeli air, menumpang mandi di masjid, hingga mengambil air dari bak penampungan untuk dibawa pulang.
Seorang warga Sawahan Meliani (31) mengatakan, aliran air PDAM di rumahnya selama ini lebih sering deras pada malam hari. Kondisi itu membuat dirinya bersama saudara-saudaranya harus menunggu hingga malam untuk mengisi persediaan air.
“Air biasanya deras malam. Jadi kami harus menunggu dan menampung untuk dipakai siang,” kata Meliani saat ditemui di rumahnya, Senin (21/9/2026).
Namun, kondisi tersebut kembali terjadi pada Sabtu (19/9/2026) dan Minggu (20/9/2026). Saat itu, air PDAM tidak mengalir ke rumah Meliani maupun sejumlah rumah warga di sekitarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Meliani akhirnya membeli sembilan galon air. Air itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan 16 orang yang tinggal di rumahnya, terutama anak-anak dan anggota keluarga berkebutuhan khusus.
“Lima galon kami pakai untuk anak-anak, usianya mulai dua sampai tujuh tahun,” ujarnya.
Di rumah tersebut juga terdapat dua anggota keluarga berkebutuhan khusus. Kondisi itu membuat ketersediaan air menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Ketika air PDAM tidak mengalir, Meliani bersama saudaranya terpaksa mengambil air dari bak penampungan masjid. Mereka juga menggunakan fasilitas masjid untuk mandi.
“Kalau tidak ada air, kami harus mandi di masjid. Setelah itu, air juga dibawa pulang untuk kebutuhan saudara saya,” ungkapnya.
Meliani mengungkapkan kondisi tersebut cukup membebani keluarganya. Sebab, setiap bulan mereka tetap membayar tagihan air PDAM.
Perempuan yang akrab disapa Imel itu menyebut, biaya air yang dibayarkan bersama saudara-saudaranya berkisar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per bulan.
Meski demikian, menurutnya, layanan yang diterima belum sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan, terlebih ketika air tidak mengalir selama berhari-hari.
Pada Senin (21/9/2026), aliran air kembali masuk ke rumah Meliani. Namun, debitnya masih sangat kecil dan hanya mampu mengalir dari keran di bagian depan rumah.
“Kalau masuk ke bak penampungan, airnya hanya menetes kecil,” jelasnya.
Keluhan serupa disampaikan warga Sawahan lainnya, Rika (39). Ia mengatakan aliran air yang tidak stabil membuat keluarganya harus menampung air setiap malam sebagai persediaan.
Jika air tidak mengalir sama sekali, Rika dan keluarganya terpaksa mandi di masjid. Mereka juga membawa pulang sekitar tiga hingga lima galon air untuk memenuhi kebutuhan di rumah.
“Kami punya anak kecil di rumah. Kalau tidak ada stok air, bagaimana nanti untuk kebutuhan mereka,” kata dia.
Rika mengatakan warga juga sempat mendapatkan pasokan air melalui mobil tangki PDAM. Menurutnya, layanan tersebut sudah dua kali diberikan ke kawasan tempat tinggalnya.
“Kemarin air tangki PDAM juga datang ke kompleks kami,” ujarnya.
Sementara itu, warga Sawahan lainnya, Afdhal Afrianto, mengaku sudah sekitar lima hari mengalami gangguan aliran air PDAM.
Kata Afdal, kondisi itu mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan, untuk mandi dan menggunakan toilet, ia terkadang harus menumpang ke rumah temannya.
“Kalau pagi mau ke kantor, saya mandi di kantor. Untuk ke toilet juga kadang harus menumpang di rumah teman,” tuturnya. (WAN)





