Langgam.id — Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Sumatera Barat pada 2025 tercatat berada di atas rata-rata nasional. Namun, capaian tersebut dinilai belum menjadi alasan untuk berpuas diri karena budaya literasi masih perlu terus diperkuat.
Hal itu disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI E. Aminudin Aziz dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Padang, Sabtu (8/8/2026).
Aminudin menyebutkan, TKM Sumbar pada 2025 berada di atas rata-rata nasional yang tercatat 54,8 atau masih dalam kategori rendah.
Meski demikian, ia mengingatkan Pemerintah Provinsi Sumbar dan pemerintah kabupaten/kota agar tidak cepat puas dengan capaian tersebut. Menurutnya, peningkatan budaya membaca harus menjadi gerakan bersama dan tidak hanya dibebankan kepada instansi yang menangani perpustakaan.
“Pertanyaannya sekarang, apakah urusan literasi sudah jadi program bersama yang dikerjakan secara bersama-sama? Urusan literasi adalah pekerjaan bersama yang dikerjakan bersama, maka harus jadi tanggung jawab bersama. Ini kata kuncinya,” tegas Aminudin.
Ia mengapresiasi rekam jejak tokoh-tokoh asal Sumatera Barat yang memiliki perhatian kuat terhadap literasi. Menurutnya, modal sosial tersebut perlu terus dikembangkan agar budaya membaca di Sumbar semakin kuat dan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Sementara itu, mewakili Gubernur Sumbar, Asisten Administrasi Umum Medi Iswandi mengatakan penguatan budaya gemar membaca menjadi semakin penting di tengah derasnya transformasi digital.
Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat serta wadah pemberdayaan masyarakat.
Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), perpustakaan didorong menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan keterampilan, hingga membuka peluang peningkatan ekonomi.
“Gubernur mengimbau seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi, mengakselerasi inovasi digital, mengoptimalkan perpustakaan berbasis inklusi sosial, serta terus meningkatkan status akreditasi perpustakaan,” kata Medi.
Ia juga meminta perangkat daerah yang menangani urusan perpustakaan untuk memperhatikan peningkatan akreditasi. Menurutnya, akreditasi tidak sekadar formalitas, tetapi menjadi salah satu indikator kualitas pengelolaan dan pelayanan perpustakaan kepada masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, Jumadi, mengatakan Rakor Perpustakaan 2026 digelar untuk menyamakan visi pengembangan perpustakaan di seluruh Sumbar sekaligus memperkuat sinergi dengan Perpusnas.
Selain itu, rakor menjadi forum untuk mengevaluasi capaian program literasi sekaligus menyelaraskan perencanaan, program, kegiatan, dan anggaran antara pemerintah pusat dan daerah.
Kegiatan tersebut diikuti jajaran Dinas Perpustakaan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pendidikan, serta pegiat literasi dari seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Rakor kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama Pustakawan Madya Perpusnas RI yang membahas strategi penguatan literasi dan sinkronisasi program perpustakaan pusat dan daerah.(HER)






