Langgam.id – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Pasaman Barat masih bertahan di level tinggi pada Minggu (2/8/2026). Berdasarkan pemantauan harian Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Pasaman Barat, harga tertinggi mencapai Rp3.972,26 per kilogram, sementara harga terendah berada di angka Rp3.230 per kilogram.
Harga tertinggi sebesar Rp3.972,26 per kilogram tercatat pada pembelian TBS petani mitra plasma di PT Bina Tani Nusantara (BTN) dan PT Agrowiratama. Harga yang sama juga berlaku untuk petani mitra swadaya di PT Rimbo Panjang Sumber Makmur (RPSM).
Sementara itu, harga TBS terendah sebesar Rp3.230 per kilogram tercatat pada kategori nonmitra di PT Agro Wira Ligatsa (AWL).
Untuk kategori nonmitra, harga tertinggi mencapai Rp3.435 per kilogram yang ditetapkan PT Gunung Sawit Abadi (GSA). Beberapa perusahaan lainnya juga menawarkan harga kompetitif, di antaranya PTPN IV Regional IV sebesar Rp3.400 per kilogram, PT Pasaman Marama Sejahtera (PMS) Rp3.335 per kilogram, PT Gersindo Rp3.340 per kilogram, serta PT Berkat Sawit Sejahtera (BSS) Rp3.375 per kilogram.
Pada kelompok mitra plasma, selain BTN dan PT Agrowiratama yang mematok harga Rp3.972,26 per kilogram, PT Gersindo, PT Andalas Agro Industri (AAI), dan PT Laras Internusa (LIN) masing-masing membeli TBS dengan harga Rp3.754,06 per kilogram.
Di kategori mitra swadaya, selain PT RPSM yang menjadi pembeli dengan harga tertinggi Rp3.972,26 per kilogram, PT Sawita Pasaman Jaya (SPJ) dan PT Agro Wira Ligatsa (AWL) menetapkan harga Rp3.480 per kilogram, sedangkan PT Usaha Sawit Mandiri (USM) membeli TBS seharga Rp3.240 per kilogram.
Sementara itu, harga brondolan masih bertahan di level Rp3.700 per kilogram dan berlaku di PT Rimbo Panjang Sumber Makmur (RPSM). Harga tersebut relatif stabil dibandingkan beberapa pekan terakhir.
Stabilnya harga TBS di kisaran Rp3.900 per kilogram menjadi kabar positif bagi petani sawit di Pasaman Barat. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga pendapatan pekebun di tengah dinamika harga komoditas perkebunan dan biaya produksi yang masih cukup tinggi. (HER)


