Langgam.id – Sejumlah petani kelapa sawit di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mengeluhkan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit dalam beberapa hari terakhir.
Harga sawit yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.000 per kilogram kini turun drastis hingga mencapai Rp800 per kilogram di tingkat petani.
Salah seorang petani sawit di Kecamatan Lengayang, Irul (49), mengatakan penurunan harga tersebut sangat memberatkan para petani.
“Penurunan terjadi secara tiba-tiba dan jauh dari perkiraan. Sebelumnya masih Rp2.000 per kilogram. Kini turun hingga Rp800 per kilogram,” ujar Irul, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, penurunan harga mulai dirasakan sejak Sabtu (24/5/2026). Kondisi tersebut membuat petani kesulitan menutupi biaya produksi dan perawatan kebun.
Keluhan serupa disampaikan Tami (49), petani sawit lainnya di daerah tersebut. Ia menilai harga sawit saat ini tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi, terutama harga pupuk yang terus mengalami kenaikan.
“NPK saja Rp800 ribu per karung, sementara harga sawit cuma Rp800 per kilo,” ujarnya.
Menurut Tami, kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menghentikan sementara aktivitas panen karena biaya operasional dinilai lebih besar dibanding hasil yang diperoleh.
“Dengan kondisi ini, kami memilih tidak panen atau mogok panen karena untuk panen sawit tentu ada upah yang harus dikeluarkan. Belum lagi harga pupuk mahal. Jadi, modal perawatan lebih besar daripada hasil panen,” jelasnya.
Tak hanya petani, Oyon selaku Toke sawit didaerah tersebut juga memilih untuk mogok dan tidak membeli sawit ke petani sementara waktu.
“Karena harga yang sangat murah, para toke juga memilih tidak membeli sawit untuk sementara waktu sampai harga sawit kembali normal,” ungkapnya.
Oyon membeberkan, sebelum harga sawit terjun bebas, biasanya ia bisa membeli sawit ke petani 3 ton per hari.
“Tak hanya saya, agen yang lain juga memilih mogok mengambil sawit. Untuk jangka waktunya, tentu sampai harganya kembali normal,” tutupnya. (HER)






