Ekspedisi Bela Negara, Menjemput Semangat PDRI di Masa Silam

Ekspedisi Bela Negara, Menjemput Semangat PDRI di Masa Silam

Rumah Wali Perang Silantai, tempat sidang kabinet PDRI 14-17 Mei 1949. (Foto: Hendra Makmur)

Mengenal sebuah sejarah tak harus di sekolah. Tak melulu melalui buku sejarah. Adakalanya orang-orang perlu berkunjung langsung ke lapangan - tempat dimana sejarah itu dulu pernah terjadi. Sama halnya seperti sebuah kegiatan yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Ini adalah ringkasan kegiatan, ulasan, dan perjalanan yang telah saya lakukan selama tiga hari dalam Ekspedisi 75Th PDRI Bela Negara.

Hal ini dimulai ketika saya tengah melakukan kegiatan wajib dari kampus yaitu magang di sebuah kantor berita dan media yang berada di Kota Padang, yakni Langgam. Pada pertengahan Desember 2023, Bang Ihsan -salah seorang editor di kantor mengumumkan pesan dalam grup, “Di sini ada yang mau jadi LO untuk kegiatan ekspedisi besok?” Tanpa menunggu lama, saya langsung saja mengajukan diri. LO (Liaison Officer) adalah orang yang menjadi penghubung antara panitia dengan peserta yang bertugas dalam menginformasi serta mengkoordinasi peserta. Setelahnya saya menerima beberapa arahan dari ketua pelaksana serta mempersiapkan diri untuk D-Day.

Ekspedisi Bela Negara ini telah dibagi menjadi 3 bagian. Rute 1 ke Koto Tinggi di Lima Puluh Kota, rute 2 ke Sijunjung, dan rute 3 ke Bidar Alam di Solok Selatan. Awalnya saya memilih rute 3 karena saya sangat suka tempat dengan suhu yang dingin dan juga view dari Saribu Rumah Gadang. Namun karena pada rute 2 kekurangan LO, ya sudahlah saya rela dipindahkan. Alasan lainnya juga karena daerah Sijunjung belum pernah saya kunjungi, berbeda dengan Solok Selatan dan Lima Puluh Kota.

Sijunjung, Hari Pertama.

18 Desember 2023, sampailah pada hari keseluruhan peserta dan panitia akan berangkat menuju rute-rute yang telah dipilih. Di pagi Senin itu semua orang baik itu peserta, panitia, LO, dan tim telah berkumpul. Khusus panitia dan LO diharuskan datang awal untuk membantu persiapan serta mengecek kehadiran dari masing-masing rute yang di amanahkan. Namun sayang itu tak berlaku bagi saya. Saya malah datang pukul 10.30 wib. Sikap yang santai namun tidak layak untuk ditiru. Dengan sigap saya mulai beradaptasi dan membantu apa yang diperlukan. Pada rombongan rute 2 ini mendapatkan 2 unit mobil Toyota HIACE dengan kapasitas penumpang 14 dengan sopir. Rata-rata dari penumpang rute 2 adalah influencer dari berbagai wilayah di Sumatera Barat. Kami memulai perjalanan setelah makan siang. Saya duduk di depan menemani bang sopir yang sedang bekerja.

Selama perjalanan diisi dengan canda tawa beberapa orang di belakang. Mereka berkenalan, berkaraoke, dan tertawa. Saya sangat tertutup awalnya, bingung bagaimana cara berkenalan dan ikut bergabung dengan mereka. Saya hanya sesekali tertawa dengan mereka dan sedikit berbincang agar saya tak dikira datar-datar amat. Tiga jam berlalu, sampailah kami di sebuah Perkampungan Adat di Nagari Sijunjung. Tempat yang masih asri dan jauh dari hiruk pikuk kota. Tak ada yang bising selain suara hewan peliharaan dan murrotal dari sebuah mushola. Ah, perasaan familiar yang terasa deja vu seperti zaman dulu. Di sini hampir semua rumah berbentuk Rumah Gadang. Saya takjub atas dedikasi masyarakat sekitar karena terus menjaga dan melestarikan budaya kami ini, budaya alam minangkabau. Jadi untuk Perkampungan Adat ini memang ditujukan untuk wisatawan yang ingin menginap. Di bagian depan dan tengah rumah gadang akan diisi oleh tamu sedangkan di bagian belakang adalah ruang keluarga yang memiliki rumah gadang tersebut. Selain itu, setiap rumah memiliki fokus masing-masing dalam pengelolaan oleh-oleh khas daerah.

Ada kerajinan, makanan ringan, tenun, dan minyak kelapa. Dengan total 27 orang, kami diantarkan menuju penginapan masing-masing. Pada tiap rumah menampung 4 hingga 5 orang. Saya mendapatkan rumah dengan nomor 36 bersama dengan Susan, Kak Indah, dan Kak Kintan. Dan kebetulan sekali di rute 2 ini yang menjadi LO adalah saya dan Susan.

Kami semua beristirahat sejenak. Ada yang pergi bebersih diri dan ada juga yang berkeliling, take video sambil menikmati suasana. Datanglah waktu makan malam yang dihidangkan oleh ibu-ibu di tiap-tiap rumah tempat kami menginap. Setelahnya ada agenda yang harus dilaksanakan yakni nobar dokumenter PDRI. Agenda malam itu dilakukan pada sebuah rumah adat yang cukup luas. Sepertinya memang ditujukan untuk kegiatan berkumpul-kumpul.

Kami semua duduk membentuk sebuah setengah diagonal walaupun ada yang tak beraturan. Memang di dalam sebuah perjalanan pasti selalu ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Siapa sangka bahwa proyektor kami tak bisa menyala. Kami merapat dan menonton dengan seksama dokumenter tersebut melalui laptop. Tak apalah, hitung-hitung lebih mendalami suasana layaknya menonton televisi pada masa orde lama.

Dalam seperempat menit video ditayangkan, sebuah keajaiban datang. Kami kembali mendapatkan proyektor yang entah bagaimana. Beberapa waktu semua tampak serius menyaksikan video ada juga sambil berbisik bercanda ringan. Kegiatan malam itu diakhiri dengan sebuah diskusi. Kami semua kembali membentuk sebuah lingkaran, kali ini teratur. Dibuka oleh pimpinan rombongan, anggota Dewan Redaksi Langgam.id Bang Hendra Makmur yang mengulas sepintas isi dari video dokumenter tersebut. Dan lalu satu persatu dari kami mulai memperkenalkan diri dan memberikan kesan apa yang ditangkap dari video serta perjalanan hari pertama itu.

Semua orang bercerita dengan luwes dan mudah dipahami. Tak disangka beberapa dari mereka memiliki background yang cukup mengesankan. Salah satu poin yang saya ingat adalah bahwa anak muda Indonesia terutama Minangkabau seharusnya melanjutkan estafet sejarah yang ada. Menjaganya, menyiarkannya agar semua tak dilupakan begitu saja. Itulah peranan penting anak muda. Walaupun malam kian larut, masih ada yang menyelipkan gurauan kecil agar tak terlalu tegang dalam diskusi itu. Selesai dan kami semua diperbolehkan kembali ke penginapan masing-masing.

Perkampungan Adat dan Silantai, Hari Kedua.

Malam yang syahdu karena ini pertama kalinya bagi saya tidur di Rumah Gadang. Saya adalah orang kedua yang bangun pagi itu, Susan yang pertama. Mengambil ponsel dan melihat pukul berapa sekarang, saya bergegas pergi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh. Dingin! Itu kata pertama yang keluar dari mulut saya pagi itu. Pintu rumah sudah dibuka terlebih dahulu oleh Susan. Udara pagi merasuk ke dalam jaringan kulit. Kami berdua berdiri beberapa saat di teras lalu saya berkata “San, jalan-jalan liat sekeliling yok”. Ia pun setuju.

Menelusuri jalanan di perkampungan adat di saat teman-teman yang lain masih istirahat sembari menyapa warga kampung setempat yang juga tengah asik bercakap-cakap. Setelah melewati sekitar sepuluh rumah, anak itu tersadar, “Ini cara nyusun pagar batunya gimana sih? kok bisa rapi semua gitu ya”. “Iya juga ya, di pilih yang sama mungkin san” jawab saya sekadarnya. Selagi masih sibuk mempertanyakan asal usul pagar batu, tak lama datanglah tiga orang penting di rute kami: Hendra Makmur, Jurnalis Tempo Fachri Hamzah dan Dosen Hukum Tata Negara FH Unand Ilhamdi. Bang Hen, Bang Fachri, dan Bang Ilham dan ketahuilah percakapan mereka juga tak kalah beratnya dengan kami. Kami berdua iseng bertanya terkait pagar batu itu sebab desainnya yang serupa dengan batu-batu yang ada di Bali. Bang Ilham pun menjawab “Semua batu kan dipilih, dicari yang sama tiap ujungnya. Pasti juga punya perhitungan tersendiri para tukangnya”. Kami berdua ber-oh ria saja.

Cukup jauh akhirnya kami berlima memilih kembali ke penginapan. Memberi tau teman-teman di grup whatsapp untuk segera bersiap dan sarapan pagi karena pukul 8 kita akan berangkat menuju Silantai. Sarapan pagi di rumah nomor 36 kala itu adalah sepiring nasi goreng dengan suwiran daging ayam dan sayur pokcoy. Cukup lezat pikir saya. Beberes, bermake-up, dan tak lupa berpamitan dengan ibu pemilik penginapan. Semua orang telah berkumpul di depan tugu Perkampungan Adat dan mengenakan kaos putih bela negara. Ya, hanya penghuni rumah 36 saja yang berinisiatif tidak memakainya. Kami berempat beralasan nanti saja jika sudah di Dharmasraya. Namun karena semua orang mulai berfoto dan kami mau tak mau juga harus mengganti pakaian.

Pukul 8.30 WIB, dua mobil Toyota HIACE itu telah melaju meninggalkan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung. Walau tak banyak hal yang dilakukan di sana, cukuplah persinggahan singkat itu menjadi pengalaman seru yang entah kapan akan terulang. Karena masih pagi semua orang bersemangat untuk melanjutkan ekspedisi. Menelusuri daerah yang dikelilingi sawah dan rimba dan juga rumah masyarakat yang masih berjarak satu sama lain. Tak banyak hal yang dilakukan di atas mobil selain abang-abang di kursi belakang yang terus saja berkaraoke dan tertawa. Kali ini saya ikut bersorak walaupun masih agak jaim.

Mendekati jalur Silokek, pemandangan yang kami lewati cukup bagus. Hamparan sawah, mengelilingi bukit rendah, dan sungai yang deras. Sayang sekali airnya tidak jernih malah berwarna cokelat keruh. Tak lama, hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Ada tanah longsor di depan sana yang membuat jalan kami tertutup tak bisa dilewati. Semua orang merasa kecewa. Kedua abang sopir itu memarkirkan mobil untuk istirahat sejenak. Semua laki-laki yang berada dalam dua mobil itu pun turun -melihat situasi, berdiskusi, membuat vlog, dan sebat.

Setelah percakapan yang panjang, keputusan pun disampaikan bahwa kami akan memutari jalan yang akan cukup jauh dan meneruskan ekspedisi ke Silantai. Ya sudahlah, itu juga di luar kendali semua. Kembali lagi ke rutinitas di dalam mobil, karaoke. Terkadang ada kalanya kami memasuki kawasan yang tidak ada internet dan sinyal. Lalu apalagi yang dilakukan selain tidur dan mengisap permen yang telah dibeli sebelumnya. Bagi mereka yang tidak tidur, tentu sesekali bergurau agar tak sunyi. Menuju Silantai, ada satu pemandangan yang sangat bagus yaitu barisan perbukitan yang indah bak animasi avatar. Bentuknya seperti onggokan nasi tumpeng, memiliki ketinggian yang rata-rata sama, dan itu semua berjejar banyak.

Setelah melalui perjalan yang sangat monoton itu, akhirnya kami sampai di Silantai sekitar pukul setengah13.30 WIB. Di Silantai ini terdapat sebuah surau/istana negara yang pada tahun 1940-an digunakan sebagai tempat rombongan Syafruddin Prawiranegara. Tak besar juga tak kecil dan terlihat biasa saja. Terbuat dari susunan kayu seperti surau (mushola) kampung pada umumnya. Namun, di bangunan inilah yang menjadi saksi bisu sejarah berpuluh-puluh tahun lalu. Di bangunan inilah tempat Syafrudin dan rombongan istirahat dan melakukan rapat ketika mereka dulunya dikejar oleh tentara belanda.

Perjalanan tadi membuat tenaga kami merosot, syukurlah di sana kami telah dihidangkan nasi dan lauk, cemilan, kopi dan teh, dan tak lupa buah-buahan. Setelah makan siang, beberapa dari kami mendengarkan cerita yang langsung dijabarkan oleh ibu-ibu yang merupakan anak-anak pada juru masak dari rombongan Syafruddin Prawiranegara. Selain amunisi persenjataan, amunisi untuk perut juga tak kalah pentingnya. Coba bayangkan jika perut kosong lalu anda berkelahi dengan penjajah. Tentu saja dalam sekali pukulan kita sudah kalah telak.

Melihat sisi luar surau, ada juga yang memilih take video untuk keperluan dokumentasi, bercakap-cakap sambil ngopi, dan lalu pergi ke museum yang lokasinya tak jauh dari sana. Dalam museum adat itu yang tampak seperti rumah kayu pada umumnya yang terdapat beberapa peninggalan sejarah serta sebuah tugu PDRI di halamannya. Takjub rasanya dapat melihat secara langsung sejarah yang terlupakan itu. Setelah dirasa cukup, kami semua pamit kepada ibu-ibu hebat yang telah menjaga surau itu dengan cukup baik dan telah menyambut hangat kedatangan kami, dan juga menghidangkan makan siang yang enak ini. Sudah hampir memasuki waktu ashar, kami bergegas melaju ke rute berikutnya yakni Dharmasraya.

Malam di Dharmasraya, Hari Kedua

Masih menyusuri lerengan kaki perbukitan tempat yang kami lewati sebelumnya. Dari atas ini tampaklah lerengan bukit yang disinari oleh mentari sore. "Sangat indah…," gumam saya. Ada sebuah pribahasa yang sering dilontarkan masyarakat Indonesia yaitu perut kenyang mata mengantuk. Tentu saja, setengah penghuni di mobil ini sudah berada di alam bawah sadarnya termasuk saya. Walaupun tanpa sinyal, audio sambungan dari ponsel di mobil itu tetap menyala. Abang sopir itu berbaik hati meminjamkan ponselnya agar suasana tak terlalu sunyi. 1 jam sebelum sampai di lokasi tujuan, ritual wajib di mobil sudah kembali di dendangkan apalagi kalau bukan karaoke. Kali ini saya berpartisipasi sebab saya hafal lagunya hahaha. Dengan layar tv mini dalam mobil yang menjadi acuan pencahayaan dan suara yang serentak dari penyanyi-penyanyi papan atas rute 2 yang membuat suasana pecah malam itu.

Perjalanan panjang malam kami akhirnya sampai di Dharmasraya. Tempat yang menjadi tujuan akhir dari rombongan Syafruddin dalam kejaran tentara belanda. Sangat ramai masyarakat berada d isana menunggu acara pembukaan dan pertunjukan dari bintang tamu yang diundang. Ketahuilah bahwa semua orang dari rute 1 dan 3 telah hadir beberapa jam terlebih dahulu. Memasuki auditorium bupati Dharmasraya, kami dipersilakan untuk menikmati makan malam sebelum akhirnya berpindah lokasi ke halaman depan untuk naik ke panggung.

Di hadapan khalayak ramai itu, seluruh rombongan ekspedisi maju ke depan. Memang bukan kali pertama saya dihadapkan dengan khalayak seramai itu, hanya saja saya tidak tau bahwa kami juga disuruh naik ke panggung. Ya sudahlah ternyata hanya untuk berfoto dan bersorak untuk slogan PDRI. Hampir saja saya jantungan sekiranya disuruh unjuk bakat. Sembari teman-teman yang lain sibuk dengan menonton penampilan yang mengundang darak badarak, ada dua mahasiswi yang berkelana entah kemana. Tebak itu siapa? ya, saya -Dola Aviola dan Susan Ellis. Kami berkeliling mencari jajanan yang enak walaupun akhirnya hanya 2 jenis jajanan yang kami beli, krepes matcha dan kembang gula kapas yang berhadiah stiker. Siapa sangka juga bahwa stiker itu menjadi penanda di wajah peserta rute 2 dan kepala suku.

Semua terlihat menyenangkan dan aman-aman saja hingga salah satu peserta pingsan tak sadarkan diri. Dengan cepat tim kesehatan disana memberikan pertolongan dengan memberikan oksigen. Hal itu biasa terjadi akibat kelelahan, pusing dan mual yang mengakibatkan pasokan udara terasa menipis. Syukurlah setelah beberapa saat kakak itu baik-baik saja. Malam semakin larut dan penampilan dari Darak Badarak juga telah usai.

Mengikuti arahan dari panitia, semua peserta ekspedisi diantar menuju penginapan masing-masing. Tepat di depan hotel tempat saya menginap, terdapat RSUD Sungai Dareh. Disana saya menyadari bahwa kawasan sekitar bernama Sungai Dareh, tempat dimana dulunya rombongan Syafrudin Prawiranegara diawasi dan dijaga oleh harimau yang berada di bawah kendali orang-orang silek (silat) pangian. Harimau-harimau itulah yang menjaga dari jarak jauh rombongan Syafruddin Prawiranegara dari tentara belanda. Hari yang terasa panjang sangat cocok disandingkan dengan kasur yang empuk. Di hotel kali ini saya sekamar kembali dengan Susan. Agaknya dalam ekspedisi ini kami berdua memang sepaket dalam melakukan kegiatan.

Dharmasraya, Hari Ketiga

Keesokan paginya, ada agenda yang telah menanti kami. Semua rombongan Ekspedisi 75Th PDRI Bela Negara diundang untuk sarapan pagi dan makan siang di Rumah Dinas Bupati Dharmasraya. Suatu pengalaman dan juga kehormatan bagi saya dapat menjadi tamu di saat itu. Setelah sarapan pagi baru lah diadakannya pembukaan dan kata sambutan dari orang nomor 1 di Dharmasraya itu yang dilanjutkan dengan berdiskusi tentang apa saja kesan dari beberapa peserta selama lebih kurang perjalanan 3 hari itu. Sejujurnya saya tak terlalu menangkap inti topiknya karena masih mengantuk. dan tidak fokus. Selesai dengan kegiatan semi-formal itu dilanjutkan dengan perkenalan diri dari seluruh peserta ekspedisi. Semua orang menyusun kursi membentuk bundaran. Tak terasa waktu sudah memasuki istirahat siang. Sambil menikmati suasana dan berfoto di sana sini, makan siang juga telah disediakan. Melahap makan siang yang juga lezat itu, salah seorang content creator menjadi pemecah suasana di dalam ruangan besar itu. Sebagai kenang-kenangan dan keperluan dokumentasi, kami semua berfoto dengan Bapak Sutan Riska, Bupati Dharmasraya yang menyambut semua kami dengan hangat itu.

Jikalau saya tidak dipindahkan ke rute 2, saya tidak akan tau sebuah perjalanan dengan orang-orang yang baru dikenal akan seseru ini. Saya juga tidak akan tau rasanya sakit pinggang sampai-sampai memakai salonpas karena terlalu lama duduk di dalam mobil. Dan jika tak ke rute 2, saya tidak akan tau rasanya masakan dari para ibu-ibu yang menjadi saksi bisu sejarah PDRI di zaman dahulu. Tujuan dari ekspedisi bukanlah melihat-lihat semata, namun merasakan bagaimana mental dan semangat rombongan Syafruddin Prawiranegara dulunya dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. (Dola Aviola, 31 Desember 2023)

Baca Juga

M. FAJAR RILLAH VESKY
75 Tahun Peristiwa Situjuah, dan Chatib Soelaiman yang Tak Kunjung Jadi Pahlawan Nasional
Puluhan Millenial dan Gen Z Mencari Ibu Kota Republik Lewat Ekspedisi D.Day Bela Negara 2023
Puluhan Millenial dan Gen Z Mencari Ibu Kota Republik Lewat Ekspedisi D.Day Bela Negara 2023
Menilik Konflik Agraria di Nagari Ibukota Republik
Menilik Konflik Agraria di Nagari Ibukota Republik
Misteri "Black Cat", Pesilat dan Harimau, Pengawal PDRI dari Kejaran Belanda
Misteri "Black Cat", Pesilat dan Harimau, Pengawal PDRI dari Kejaran Belanda
Menyambut 75 Tahun PDRI: Merunut Sejarah PDRI dalam Meningkatkan Partipasi Politik Generasi Z
Menyambut 75 Tahun PDRI: Merunut Sejarah PDRI dalam Meningkatkan Partipasi Politik Generasi Z
Hasril Chaniago Ajak Milenial Pahami Sejarah untuk Merancang Masa Depan
Hasril Chaniago Ajak Milenial Pahami Sejarah untuk Merancang Masa Depan