LANGGAM.ID– Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat laju inflasi yang cukup tinggi pada Desember 2025 di Sumatra Barat yaitu 5,15 persen. Hal ini menempatkan Sumbar di peringkat kedua provinsi dengan inflasi tertinggi secara nasional.
Faktor bencana banjir dan longsor yang menerjang Sumbar ditengarai memicu kenaikan harga sejumlah komoditas melambung, sehingga berdampak pada kenaikan laju inflasi di penghujung tahun 2025.
“Pada Desember 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sumatera Barat sebesar 5,15 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,41,” ujar Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat Sugeng Arianto dalam keterangan resminya dikutip Rabu (7/1/2026).
Berdasarkan empat wilayah cakupan indeks harga konsumen, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 7,09 persen dengan IHK sebesar 115,17 dan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 4,66 persen dengan IHK sebesar 111,66. Sementara itu, Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi sebesar 4,77 persen dengan IHK sebesar 112,64 dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 4,99 persen dengan IHK sebesar 111,69.
Sugeng menjelaskan, berdasarkan empat wilayah cakupan indeks harga konsumen, inflasi di Sumbar dipicu oleh kenaikan harga komoditas bawang merah dengan andil 0,22 persen, cabai rawit 0,18 persen, beras 0,14 persen, daging ayam ras 0,10 persen, kangkung 0,09 persen dan emas perhiasan 0,09 persen.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI Pudji Ismartini menyebutkan tiga daerah yang mengalami bencana banjir dan longsor yaitu Aceh, Sumut dan Sumbar masuk dalam daftar provinsi dengan inflasi tertinggi.
BPS mencatat inflasi di Aceh di angka 6,71 persen, Sumatra Utara 4,66 dan Sumbar 5,15 persen. “Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, mengalami inflasi di Desember setelah sebelumnya deflasi di November 2025. Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan inflasi tertinggi,” ujar Pudji
Ia menjelaskan, penyebab terjadinya inflasi di ketiga wilayah tersebut karena kenaikan harga komoditas yang diakibatkan efek bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. (fx)






