Batuk Kering Tak Kunjung Sembuh? Kenali Gejala Fibrosis Paru Sejak Dini

Langgam.id — Batuk kering yang tak kunjung sembuh selama lebih dari tiga minggu, terlebih jika disertai sesak napas saat beraktivitas, perlu diwaspadai. Keluhan tersebut bisa menjadi tanda fibrosis paru, penyakit yang menyebabkan jaringan paru mengalami penebalan, kaku dan membentuk jaringan parut.

Dokter spesialis paru RS M. Djamil Padang, dr. Fenty Anggrainy, Sp.P(K), FAPSR mengatakan fibrosis paru merupakan penyakit kronis yang membuat paru kehilangan elastisitasnya sehingga tidak dapat mengembang secara normal.

Hal itu disampaikannya dalam edukasi kesehatan dalam rangka Bulan Peduli Fibrosis Paru yang digelar di Poliklinik Paru Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil, Senin (28/9/2026).

Kegiatan tersebut digelar Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RS M. Djamil bersama Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RS M. Djamil.

“Fibrosis paru adalah kondisi kronis di mana jaringan di dalam paru menebal, menjadi kaku dan membentuk luka parut. Hal ini membuat paru tidak bisa mengembang dengan normal,” jelas dr. Fenty.

Ia mengibaratkan paru yang mengalami fibrosis seperti spons kering yang kaku dan mengeras. Kondisi tersebut membuat paru sulit mengembang dan menghambat proses pertukaran oksigen.

“Fibrosis paru seperti spons kering yang kaku dan mengeras, sulit mengembang karena adanya bekas luka parut. Hal ini menghalangi oksigen masuk ke dalam darah sehingga membuat Anda merasa sesak,” katanya.

Sementara paru yang sehat, kata dia, dapat dianalogikan seperti spons basah yang lembut dan elastis. Paru normal dapat mengembang ketika menyerap udara sehingga oksigen dapat masuk ke dalam aliran darah dengan baik.

Fenty menjelaskan fibrosis paru dapat berkembang secara perlahan. Karena itu, gejalanya terkadang dianggap sebagai keluhan biasa dan baru diperiksa ketika kondisi sudah semakin berat.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk kering yang berlangsung lebih dari tiga minggu, sesak napas terutama saat melakukan aktivitas fisik ringan, mudah lelah dan penurunan berat badan.

Pada kondisi tertentu, ujung jari tangan atau kaki juga dapat mengalami perubahan bentuk menjadi lebih melebar. Warna ujung jari atau bibir terkadang terlihat kebiruan akibat berkurangnya kadar oksigen.

“Batuk kering persisten lebih dari tiga minggu, sesak napas saat aktivitas fisik ringan, kelelahan dan penurunan berat badan merupakan beberapa gejala yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat tidak menunggu gejala berkembang menjadi berat sebelum memeriksakan diri.

“Jika Anda atau keluarga mengalami batuk kering lebih dari tiga minggu, disertai sesak napas yang tiba-tiba memberat atau ujung jari dan bibir mulai membiru, segera jadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis paru,” tegasnya.

Menurut dr. Fenty, fibrosis paru merupakan penyakit tidak menular dan berbeda dengan kanker paru.

Karena itu, masyarakat perlu memahami kondisi tersebut agar tidak setiap gangguan pada paru langsung dikaitkan dengan kanker.

Fibrosis paru umumnya ditemukan pada kelompok usia lanjut, terutama sekitar 50 hingga 70 tahun dan lebih sering dialami pria. Kebiasaan merokok serta faktor genetik juga menjadi sejumlah faktor risiko.

Selain itu, fibrosis paru dapat berkaitan dengan paparan lingkungan dan pekerjaan, terutama bagi orang yang dalam aktivitas sehari-hari terpapar debu atau bahan tertentu yang dapat mengganggu kesehatan paru.

Penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan dan riwayat radioterapi juga dapat berkaitan dengan fibrosis paru. Sementara pada sebagian pasien, penyebabnya tidak diketahui secara pasti atau disebut fibrosis paru idiopatik.

“Kalau dilihat dari penyebabnya, fibrosis paru dapat berasal dari lingkungan dan pekerjaan, penyakit medis, obat-obatan, radioterapi, dan ada juga yang idiopatik atau penyebabnya tidak diketahui,” jelasnya.

Untuk mengetahui kondisi paru, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, pencitraan atau pemindaian serta tes fungsi paru. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk melihat kondisi jaringan sekaligus menilai fungsi pernapasan pasien.

Dr. Fenty mengatakan saat ini belum ada obat yang dapat menghilangkan jaringan parut pada paru. Penanganan lebih diarahkan untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mengurangi gejala.

“Saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan atau menghilangkan luka parut. Namun, perawatan bertujuan memperlambat kerusakan dan meringankan gejala,” ungkapnya.

Penanganan dapat berupa pemberian obat dan terapi oksigen sesuai kondisi pasien. Fisioterapi paru juga dapat membantu pasien mempertahankan kemampuan pernapasan.

Pasien dapat dilatih melakukan teknik pernapasan tertentu, termasuk pursed-lip breathing atau teknik bernapas dengan bibir mengerucut. Latihan fisik secara bertahap dan latihan batuk efektif juga dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi pasien.

Pada kasus tertentu dengan kondisi berat, transplantasi paru dapat menjadi salah satu pilihan. Namun, tindakan tersebut harus melalui evaluasi menyeluruh dan pertimbangan tim medis.

Selain pengobatan, pasien fibrosis paru juga perlu memperhatikan pola hidup sehari-hari.

Salah satu hal terpenting adalah berhenti merokok. Pasien juga dianjurkan menjaga pola makan dengan mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering serta memperhatikan vaksinasi rutin untuk membantu menjaga kesehatan.

Bagi pasien yang akan bepergian menggunakan pesawat, dr. Fenty mengingatkan agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Tekanan kabin dapat memengaruhi kondisi oksigen pada pasien dengan gangguan paru.

“Jika bepergian menggunakan pesawat, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu karena tekanan kabin dapat memengaruhi oksigen,” jelasnya.

Menurutnya, fibrosis paru memang merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Namun, penanganan yang tepat dapat membantu pasien mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup.

“Meski tidak bisa kembali seperti semula, dengan pengobatan yang tepat, fisioterapi dan gaya hidup sehat, Anda masih bisa mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup yang lebih baik,” pungkasnya. (HER)

Tag:

Baca Juga

Sering Lupa dan Tersesat Bisa Jadi Tanda Demensia, RSUP M Djamil Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Sering Lupa dan Tersesat Bisa Jadi Tanda Demensia, RSUP M Djamil Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Tak Cukup Lihat Kemasan, Orang Tua Diminta Cek Asal dan Proses Produksi Susu Anak
Tak Cukup Lihat Kemasan, Orang Tua Diminta Cek Asal dan Proses Produksi Susu Anak
Perluas Layanan Kesehatan, Putra Specialist Hospital Melaka Hadir di Bukittinggi
Perluas Layanan Kesehatan, Putra Specialist Hospital Melaka Hadir di Bukittinggi
Kebotakan Dini pada Usia 20–30 Tahun Kian Marak, Dokter ERHA Ungkap Penyebab dan Solusinya
Kebotakan Dini pada Usia 20–30 Tahun Kian Marak, Dokter ERHA Ungkap Penyebab dan Solusinya
Menjaga Kepercayaan dan Kemanusiaan dalam Pelayanan Kesehatan
Menjaga Kepercayaan dan Kemanusiaan dalam Pelayanan Kesehatan
Transformasi Ketahanan Kesehatan Indonesia
Transformasi Ketahanan Kesehatan Indonesia