Langgam.id – Hasil pemeriksaan laboratorium sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam yang mengakibatkan 344 orang keracunan, ditemukan adanya bakteri bacillus cereus.
Hal ini diungkap Bupati Agam Benni Warlis. Ia menyebutkan, bakteri tersebut ditemukan pada cabai dan tahu yang digunakan dalam menu semur.
“Dari hasil laboratorium ditemukan bakteri bacillus cereus pada cabai dan tahu, termasuk semurnya,” katanya, Kamis (10/9/2026).
Dilansir dari halodoc.com, bakteri bacillus cereus ini merupakan salah satu penyebab utama keracunan makanan di seluruh dunia, dan sering kali terabaikan karena gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan biasa.
Bakteri ini sangat unik karena mampu menghasilkan spora pelindung yang membuatnya kebal terhadap suhu panas. Artinya, proses memasak atau memanaskan makanan yang tidak dilakukan dengan suhu yang sangat tinggi dan durasi yang tepat mungkin tidak cukup untuk membunuh sporanya.
Ketika makanan—terutama nasi, pasta, dan makanan bertepung lainnya—dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama, spora tersebut akan berkembang biak dan melepaskan racun yang menyerang sistem pencernaan manusia.
Infeksi akibat bacillus cereus umumnya terbagi menjadi dua jenis sindrom. Pertama adalah sindrom emetik (muntah) yang sering dikaitkan dengan konsumsi nasi basi, dan biasanya muncul sangat cepat dalam 1 hingga 5 jam setelah makan.
Kedua adalah sindrom diare yang kerap ditularkan lewat daging, sup, atau sayuran yang terkontaminasi, dengan masa inkubasi sekitar 8 hingga 16 jam. Meski sebagian besar kasus bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 24 jam, gejala yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu dan memicu dehidrasi jika tidak ditangani dengan baik.
Kunci utama dalam mengatasi keracunan makanan akibat bakteri ini adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi dan meredakan gejala yang muncul. (WAN)



