Langgam.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumatera Barat pada Februari 2026 sebesar 5,51 persen. Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, angka tersebut masih menjadi yang tertinggi ketiga di Pulau Sumatera setelah Kepulauan Riau dan Aceh.
Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, mengatakan TPT Sumbar turun 0,18 persen poin dibandingkan Februari 2025. Namun, tingkat pengangguran di daerah itu masih relatif tinggi dibandingkan provinsi lain di Sumatera.
“Dari 100 orang angkatan kerja, sekitar lima sampai enam orang masih menganggur. Walaupun ada perbaikan dibanding tahun lalu, tantangan penyerapan tenaga kerja di Sumbar masih cukup besar,” kata Nurul dikutip, Jumat (8/5/2026).
Menurut dia, pengangguran merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja namun belum mulai bekerja, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
BPS mencatat, tingkat pengangguran perempuan masih lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada Februari 2026, TPT perempuan mencapai 5,60 persen, sedangkan laki-laki sebesar 5,44 persen.
Meski demikian, kedua kelompok mengalami penurunan dibandingkan Februari 2025. TPT laki-laki turun 0,21 persen poin, sementara perempuan turun 0,14 persen poin.
Jika dilihat berdasarkan wilayah tempat tinggal, pengangguran di perkotaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan perdesaan. TPT perkotaan tercatat sebesar 6,83 persen, sedangkan di wilayah perdesaan sebesar 3,83 persen.
“Wilayah perkotaan memiliki jumlah pencari kerja lebih besar dan persaingan kerja yang lebih ketat dibandingkan daerah perdesaan,” ujar Nurul.
Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan Diploma I, II, dan III menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni mencapai 9,84 persen. Posisi berikutnya ditempati lulusan Diploma IV hingga doktoral sebesar 8,48 persen, disusul lulusan SMA sebesar 7,19 persen.
Sementara itu, tingkat pengangguran terendah berasal dari kelompok pendidikan SD ke bawah dengan TPT sebesar 2,25 persen.
Dari sisi distribusi pengangguran, lulusan SMA menjadi penyumbang terbesar pengangguran di Sumbar dengan proporsi mencapai 31,99 persen. Adapun lulusan Diploma I, II, dan III menjadi kelompok dengan distribusi pengangguran terendah, yakni 6,79 persen.
Nurul menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya penyesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja agar angka pengangguran dapat terus ditekan.
“Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri menjadi faktor penting untuk menurunkan pengangguran,” katanya.






