Ahli Geologi Ungkap Penyebab Krisis Air di Kuranji dan Pauh Pascabencana

Ahli Geologi Ungkap Penyebab Krisis Air di Kuranji dan Pauh Pascabencana

Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji di kawasan Gunung Nago. Foto: Rahmi Awalina

Langgam.id – Ahli Geologi, Ade Edward, mengungkap kekeringan yang melanda Kecamatan Kuranji dan Pauh, Kota Padang, pascabencana akhir 2025 disebabkan material longsoran yang mengendap di Sungai Batang Kuranji.

Hal ini membuat aliran sungai menyusut drastis, sehingga pasokan air baku berkurang dan sumur-sumur warga ikut mengering.

Ade mengatakan, banjir bandang membawa material longsoran dari hulu dalam jumlah masif. Material tersebut, mengendap di bagian tengah hingga hilir sungai, menyebabkan pendangkalan dasar sungai satu hingga dua meter.

“Dampaknya, aliran Sungai Batang Kuranji yang sebelumnya menjadi sumber air baku bagi warga Kuranji dan Pauh, kini menyusut drastis. Dan diperparah perubahan alur sungai yang berpindah dari posisi semula,” katanya kepada Langgam.id, Kamis (23/7/2026).

Ade menyoroti fenomena sungai yang kehilangan air ke lapisan batuan, kerikil, atau pasir di bawah permukaan tanah yang mampu menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah signifikan.

Dasar sungai yang tersusun material vulkanik berpori tinggi, justru membuat air sungai meresap ke dalam tanah, ketika muka air tanah turun.

“Setelah hujan berhenti, sungai kehilangan pasokan air dari bawah permukaan. Ini yang menyebabkan aliran menipis dan sumur-sumur warga mengering,” jelasnya.

Masalah utamanya, lanjut Ade, terletak pada melemahnya fungsi tanah dan batuan di hulu sebagai resapan air. Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kebun, ladang, jalan, dan permukiman membuat air hujan lebih cepat mengalir di permukaan, tanpa tersimpan sebagai cadangan air tanah.

Kondisi ini berdampak pada melemahnya aliran dasar sungai. Padahal, aliran tersebut berperan penting menjaga sungai tetap mengalir saat hujan berhenti.

“Longsor di hulu tidak bisa dicegah sepenuhnya. Mitigasi harus difokuskan secara besar-besaran di sepanjang bantaran sungai hingga muara,” tegasnya.

Ade menambahkan, curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 500 milimeter pada November 2025 lalu itu, membuat tanah di hulu jenuh total. Pori-pori tanah yang biasanya menyimpan air tidak lagi mampu bekerja optimal.

Akibatnya, air berubah menjadi limpasan permukaan dan memicu banjir bandang. Sedimen halus dan kasar dari kawasan hulu, terbawa ke alur sungai dan mengendap di bagian tengah hingga hilir.

“Kondisi Batang Kuranji saat ini merupakan pesan ekologis dari kawasan hulu. Solusi jangka panjang tidak berada di hilir sungai, melainkan pada upaya pemulihan fungsi DAS,” pungkasnya. (WAN)

Baca Juga

Presiden Prabowo Subianto meninjau perbaikan jalan nasional di Lembah Anai
Satgas PRR Klaim 13 Daerah di Sumbar Pulih Pascabencana, 3 Daerah Masih Jadi Perhatian
Sejumlah potongan tubuh diduga milik mayat di aliran sungai Batang Anai, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat
Pria di Padang Diserang Pakai Samurai Saat Antarkan Es Kristal, Tangan Robek
Pergi Memancing, Pria Lansia Ditemukan Meninggal di Muaro Lasak Padang
Pergi Memancing, Pria Lansia Ditemukan Meninggal di Muaro Lasak Padang
LBH Padang menyoroti proses pencabutan terhadap 28 izin perusahaan. Terdiri dari 22 izin berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) hutan alam
LBH Soroti Euforia HUT Kota Padang di Tengah Warga Masih Berjuang Pulih Pascabanjir
Wapres Gibran dan BNPB Kirim Bantuan untuk Korban Banjir Padang
Wapres Gibran dan BNPB Kirim Bantuan untuk Korban Banjir Padang
Banjir di Kecamatan Kuranji, Kota Padang. (Dok. Istimewa)
Banjir di Padang Terus Berulang, DPRD Dorong Solusi dari Hulu hingga Muara