Langgam.id- Sejumlah orang tua murid SDN 03 Alai, Kota Padang, lebih memilih pembelajaran tatap muka, dibandingkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Meski durasi belajar dikurangi akibat memburuknya kualitas udara, mereka menilai belajar langsung di sekolah lebih efektif.
Seorang orang tua murid, Anita (40), mengatakan pembelajaran daring menambah pengeluaran keluarga. Orang tua harus mengeluarkan biaya untuk mencetak tugas yang diberikan sekolah.
“Daring itu banyak keluar biaya untuk cetak-mencetak tugas,” kata Anita saat ditemui di Padang, Kamis (22/10/2026).
Selain menambah biaya, Anita menilai tugas yang diberikan selama PJJ lebih banyak dibandingkan pembelajaran tatap muka. Kondisi itu membuatnya lebih memilih anak belajar langsung di sekolah.
“Lagipula, kalau PJJ atau daring itu biasanya soal dan tugasnya jauh lebih banyak daripada tatap muka. Terkadang saya juga yang membuat tugas anak,” ujarnya.
Anita mengatakan, pengurangan jam belajar di sekolah bukan persoalan utama. Baginya, anak-anak tetap bisa mendapatkan pembelajaran secara langsung, meskipun waktu belajar lebih singkat.
“Yang penting tetap sekolah tatap muka, walaupun jam belajarnya dikurangi. Biarlah 4 jam, tapi efektif, tidak masalah bagi kami, katanya.
Orang tua murid lainnya, Cici (40), juga memilih pembelajaran tatap muka. Ia menilai pengawasan anak selama belajar di rumah tidak selalu maksimal, terutama bagi orang tua yang harus bekerja.
Cici menilai, keterbatasan perangkat telepon seluler juga menjadi kendala bagi sebagian keluarga, saat mengikuti pembelajaran daring.
Karena itu, ia melihat pembelajaran langsung di sekolah lebih memudahkan anak mengikuti kegiatan belajar.
“Lebih baik sekolah tatap muka. Yang penting kegiatan di luar, seperti upacara dan olahraga, ditiadakan dulu,” ujarnya.
Meski memilih tatap muka, Cici memahami perlunya langkah pencegahan di tengah kondisi udara Kota Padang yang kurang baik. Ia berharap kegiatan belajar tetap berlangsung dengan memperhatikan kesehatan siswa.
“Anak-anak tetap memakai masker,” katanya.
Sementara itu, Kepala SDN 03 Alai, Anri, mengatakan siswa antusias kembali mengikuti pembelajaran tatap muka pada Kamis (22/10/2026). Berdasarkan catatan sekolah, tingkat kehadiran siswa mencapai sekitar 98 persen.
Dari total 734 siswa, sekitar 2 persen tidak hadir pada hari pertama PTM. Anri mengatakan sebagian siswa yang absen mengalami sakit, seperti demam.
Namun, pihak sekolah tidak memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Anri mengatakan pembelajaran tatap muka dinilai lebih efektif, karena siswa dapat berinteraksi langsung dengan guru. Ia juga menyebut orang tua cenderung memilih belajar secara langsung, karena pengawasan selama PJJ di rumah tidak selalu maksimal.
“Kalau di PJJ ini tidak maksimal, karena banyak siswa yang bermain dan tidak belajar. Kalau tatap muka lebih maksimal karena lebih fokus dan interaksi antara guru dan murid itu lebih terjalin,” kata Anri.
Meski pembelajaran kembali berlangsung di sekolah, SDN 03 Alai tetap membatasi aktivitas di luar ruangan. Kegiatan belajar dipusatkan di dalam kelas, sedangkan kegiatan seperti upacara dan olahraga di lapangan ditiadakan sementara.
Sebelumnya, siswa di Kota Padang menjalani PJJ pada 9–10 Oktober, 14–17 Oktober, dan 19–21 Oktober 2026 akibat memburuknya kualitas udara. Pembelajaran tatap muka kembali berlangsung pada Kamis (22/10/2026), dengan pembatasan aktivitas luar ruangan sebagai langkah pencegahan.






