Langgam.id – Sumatra Barat (Sumbar) memiliki karakter geografis yang membuat hujan relatif sering turun. Kawasan lereng dan pegunungan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pembentukan hujan di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Decky Irmawan, mengatakan salah satu proses pembentukan hujan yang berpengaruh di Sumbar adalah hujan orografis.
Menurutnya, hujan orografis terjadi ketika massa uap air yang terbentuk dari proses penguapan terdorong hingga mencapai kawasan lereng. Kondisi tersebut kemudian memicu proses pembentukan hujan di sekitar wilayah tersebut.
“Kalau kita bicara dari sisi pembentukan curah hujan, salah satunya adalah faktor orografi. Faktor orografi itu ketika penguapan tinggi kemudian terdorong hingga sampai ke lereng, maka proses pembentukan hujannya akan banyak terjadi di sekitar lereng,” ujar Decky, Jumat (25/9/2026).
Ia menjelaskan, karakter geografis tersebut membuat hujan dapat terjadi hampir sepanjang bulan di Sumbar. Curah hujan yang turun juga relatif tinggi dan tersebar dari wilayah bagian barat hingga selatan Sumbar.
“Secara umum Sumbar itu hampir sepanjang bulan itu selalu ada hujan dan intensitas hujannya relatif tinggi,” katanya.
Decky menyebut kawasan lereng yang membentang dari bagian paling barat hingga selatan Sumbar menjadi salah satu wilayah yang dipengaruhi proses hujan orografis.
“Jadi bisa dibilang sepanjang lereng dari Sumbar paling barat sampai paling selatan, maka salah satu penyebab hujan adalah hujan orografis akibat kondisi geografis,” ujarnya.
Waspadai Hujan Beruntun
Di sisi lain, Decky mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan hujan yang terjadi secara beruntun. Hujan yang turun terus-menerus dapat membuat tanah mengalami kejenuhan, meski intensitas hujannya tidak selalu masuk kategori lebat atau ekstrem.
“Tadi juga sudah disampaikan waktu kemarin di Solok, kalau hujan itu menciptakan kejenuhan tanah. Jadi perlu diperhatikan, curah hujan walaupun tidak lebat, ekstrem, tetapi kejadiannya runtut, bisa jadi memberikan kontribusi terhadap banjir bandang,” katanya.
Menurut Decky, perkembangan cuaca dan kondisi atmosfer juga bersifat dinamis. Karena itu, analisis yang dikeluarkan BMKG dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer terbaru.
“Ini hasil analisis hari ini. BMKG selalu memutakhirkan informasi, jadi informasi hari ini bisa berbeda lagi besoknya,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau.
“Termasuk situs resmi dan media sosial BMKG Minangkabau,” ungkapnya. (ICA)






