Langgam.id – DPRD Provinsi Sumatra Barat meminta pemerintah menyiapkan langkah antisipasi pasca kualitas udara di sejumlah wilayah terus memburuk akibat kabut asap dari kebakaran lahan hutan atau Karhutla.
DPRD mendorong penerapan work from home (WFH) serta sekolah jarak jauh, sehingga kondisi udara yang memburuk tidak berdampak pada kesehatan masyarakat.
“Pemerintah perlu menyiapkan sejumlah opsi karena belum dapat dipastikan sampai kapan kondisi kabut asap akan berlangsung. Apalagi udara semakin hari semakin memburuk. Kemarin kategorinya sudah masuk berbahaya,” kata Wakil Ketua DPRD Sumbar, Nanda Satria kepada Langgam.id, Sabtu (5/9/2026).
Ia menyebut telah menyampaikan kondisi tersebut kepada jajaran pemerintah provinsi, serta dinas yang membidangi pendidikan agar mulai menyiapkan langkah antisipasi.
“Salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan yakni penerapan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara. Sementara untuk siswa, pemerintah dapat mempertimbangkan pembelajaran dari rumah jika kondisi udara semakin membahayakan,” ujarnya.
Nanda mengatakan langkah tersebut penting karena pemerintah belum mengetahui secara pasti kapan kabut asap akan berakhir. Terlebih, masih terdapat titik api yang harus ditangani.
“Kita belum tahu sampai kapan kabut asap ini terjadi. Titik api juga masih ditangani. Jadi kita harus melakukan antisipasi,” katanya.
Selain menyiapkan kebijakan, Nanda mengimbau masyarakat menjaga kondisi kesehatan selama kualitas udara memburuk. Masyarakat diminta memperhatikan kondisi tubuh, menjaga pola makan, dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Yang paling penting, masyarakat harus menjaga kesehatan. Jaga kondisi tubuh, makan yang baik, dan gunakan masker,” ujarnya.
Menurut Nanda, perlindungan terhadap masyarakat harus berjalan beriringan dengan penanganan sumber asap. Pemerintah diminta terus berupaya memadamkan titik-titik api yang masih menjadi sumber kabut asap.
“Di sisi lain, pemerintah juga harus mempercepat penanganan titik api dan memastikan apinya bisa dipadamkan,” katanya.
Ia menilai penerapan WFH maupun pembelajaran dari rumah bagi siswa dapat menjadi langkah sementara untuk mengurangi paparan masyarakat terhadap udara yang tidak sehat, sembari pemerintah menangani sumber asap.
“Jadi dua langkah ini harus berjalan bersamaan. Masyarakat kita lindungi dari paparan asap, sementara titik apinya juga harus segera ditangani,” tuturnya.





