Langgam.id — Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi di Sumatera Barat pada Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, inflasi Dharmasraya secara tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 4,34 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tiga daerah lain yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat.
Kepala BPS Sumatera Barat Nurul Hasanudin mengatakan, inflasi y-on-y Dharmasraya pada Agustus 2026 tercatat sebesar 4,34 persen dengan IHK 115,69.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 3,76 persen dengan IHK sebesar 113,79,” kata Nurul.
Secara keseluruhan, Sumatera Barat mengalami inflasi sebesar 3,76 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut dihitung berdasarkan kenaikan IHK dari 109,67 pada Agustus 2025 menjadi 113,79 pada Agustus 2026.
Sementara itu, setelah Dharmasraya, inflasi y-on-y tertinggi berikutnya terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 4,11 persen dengan IHK 115,61.
Kemudian Kota Bukittinggi mencatat inflasi sebesar 3,78 persen dengan IHK 113,23, sedangkan Kota Padang menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,55 persen dengan IHK 113,04.
Jika dilihat secara bulanan, Dharmasraya pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,11 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Pasaman Barat yang mencapai 0,46 persen dan Bukittinggi 0,20 persen, namun sedikit lebih tinggi dibandingkan Kota Padang yang sebesar 0,10 persen.
Inflasi Dharmasraya tersebut terjadi di tengah kenaikan harga berbagai komoditas yang tercermin dalam 11 kelompok pengeluaran. Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran di Sumbar mengalami inflasi.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan inflasi tertinggi, mencapai 10,62 persen. Salah satu komoditas yang memberikan andil besar adalah emas perhiasan dengan kontribusi 0,46 persen terhadap inflasi Sumbar.
Selain itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 5,53 persen, transportasi 4,81 persen, serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,32 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi Sumbar dengan andil 1,44 persen. Komoditas seperti daging ayam ras, beras, cabai merah dan minyak goreng menjadi sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi.
Secara keseluruhan, inflasi Sumatera Barat secara bulanan pada Agustus 2026 tercatat 0,18 persen. Sementara inflasi tahun kalender hingga Agustus 2026 mencapai 1,23 persen. (HER)





