Langgam.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Barat mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan di Sumatera Barat mencapai Rp77,70 triliun pada Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 5,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala OJK Provinsi Sumatera Barat Roni Nazra mengatakan, pertumbuhan penyaluran kredit tersebut menunjukkan kinerja perbankan di Sumatera Barat tetap positif seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi daerah.
“Total penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan di Sumatera Barat pada Juni 2026 mencapai Rp77,70 triliun atau tumbuh 5,92 persen secara tahunan,” kata Roni Nazra, Rabu (12/8/2026).
Dari total penyaluran tersebut, kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp31,17 triliun. Porsi kredit UMKM mencapai 40,11 persen dari total kredit perbankan di Sumatera Barat.
Meski memiliki porsi cukup besar, penyaluran kredit UMKM tercatat terkontraksi 1,44 persen secara tahunan.
Roni mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan sektor perbankan Sumatera Barat, mengingat UMKM memiliki peran penting dalam menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
“Penyaluran kredit untuk UMKM mencapai Rp31,17 triliun atau sekitar 40,11 persen dari total kredit. Namun, secara tahunan masih mengalami kontraksi 1,44 persen,” ujarnya.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan Sumatera Barat justru menunjukkan pertumbuhan cukup kuat. Pada Juni 2026, DPK tercatat sebesar Rp65,55 triliun atau tumbuh 13,02 persen secara tahunan.
Sementara itu, total aset perbankan Sumatera Barat mencapai Rp88,20 triliun atau tumbuh 4,72 persen dibandingkan posisi Juni 2025.
Dari sisi risiko kredit, Roni menyebut kondisi perbankan masih berada dalam level yang terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,87 persen, meskipun meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,65 persen.
“Risiko kredit masih terjaga dengan NPL sebesar 2,87 persen, walaupun terdapat sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2,65 persen,” katanya.
Pertumbuhan juga terlihat pada sektor perbankan syariah. Pada Juni 2026, total aset perbankan syariah di Sumatera Barat mencapai Rp15,14 triliun atau tumbuh 10,91 persen secara tahunan.
Penghimpunan DPK perbankan syariah mencapai Rp11,62 triliun atau tumbuh 6,70 persen, sedangkan total penyaluran pembiayaan mencapai Rp13,27 triliun atau tumbuh 16,22 persen.
Rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) perbankan syariah tercatat sebesar 1,94 persen, meningkat dari 1,58 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Bank Perekonomian Rakyat (BPR), baik konvensional maupun syariah, juga mencatat pertumbuhan positif. Total aset BPR pada Juni 2026 mencapai Rp3,04 triliun atau tumbuh 6,34 persen secara tahunan.
Penghimpunan DPK BPR mencapai Rp2,21 triliun atau tumbuh 7,05 persen, sedangkan penyaluran kredit atau pembiayaan mencapai Rp2,27 triliun atau tumbuh 1,62 persen.
Dari total penyaluran tersebut, sebanyak 71,15 persen merupakan kredit atau pembiayaan kepada UMKM.
Roni menambahkan, kinerja positif sektor jasa keuangan tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Berdasarkan data yang disampaikan OJK, ekonomi Sumatera Barat pada triwulan II-2026 tumbuh 4,54 persen secara tahunan.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan sektor jasa keuangan masih memiliki peran dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah melalui fungsi intermediasi dan penyaluran pembiayaan kepada masyarakat serta pelaku usaha. (HER)






