Langgam.id – Empat hari pascabanjir, proses belajar mengajar di SMP Negeri 41 Kota Padang yang ditarget hari, Jumat (7/8/2026), belum bisa dimulai. Hal ini lantaran pembersihan material lumpur masih dilakukan.
Pantauan Langgam.id di lokasi menunjukkan satu unit ekskavator berukuran kecil dikerahkan, untuk membersihkan endapan lumpur yang masih menutupi pekarangan sekolah. Alat berat tersebut tampak mengeruk lumpur dan memindahkannya ke titik penampungan agar area sekolah dapat kembali digunakan.
Proses pembersihan tidak hanya dilakukan dengan alat berat. Sejumlah personel TNI turut bergotong royong bersama petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang dan Baznas Kota Padang membersihkan lingkungan sekolah. Mereka terlihat mengangkat lumpur, membersihkan saluran air, serta mengevakuasi material yang terbawa banjir.
Meski pembersihan terus berlangsung, kondisi sekolah belum memungkinkan untuk kembali digunakan sebagai tempat belajar. Sejumlah fasilitas sekolah masih mengalami kerusakan akibat terendam banjir, sehingga kegiatan belajar mengajar belum dapat dimulai.
Suasana sekolah masih tampak lengang tanpa kehadiran para siswa. Para pelajar masih diliburkan, sementara para guru memanfaatkan waktu untuk membersihkan ruang kelas dan bagian-bagian sekolah lainnya yang terdampak banjir.
Di beberapa sudut sekolah, sisa lumpur masih terlihat menempel di lantai dan halaman. Proses pemulihan diperkirakan masih membutuhkan waktu, agar seluruh area sekolah benar-benar bersih dan aman sebelum siswa kembali mengikuti proses belajar mengajar.
SMP Negeri 41 Kota Padang menjadi salah satu sekolah yang mengalami dampak cukup parah akibat banjir yang melanda Kota Padang pada Senin (3/8/2026). Banyak fasilitas pendidikan yang rusak sehingga aktifitas belajar mengajar belum bisa dilakukan.
Kepala SMP Negeri 41 Kota Padang Amridas mengakui, target semula proses belajar belum dapat direalisasikan hari ini karena dampak banjir yang masih belum rampung dibersihakan.
“Rencana awal kami kalau pembersihan bisa cepat selesai, hari ini sudah mulai belajar. Tetapi ternyata kondisinya belum memungkinkan karena masih banyak fasilitas yang rusak,” kata Amridas kepada Langgam.id, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, banjir tidak hanya meninggalkan endapan lumpur yang tebal di lingkungan sekolah, tetapi juga merusak sejumlah sarana penunjang pembelajaran. Bahkan, beberapa meja dan kursi siswa dilaporkan hilang setelah terbawa arus banjir.
Selain kondisi ruang dan lingkungan sekolah yang masih dalam tahap pembersihan, kerusakan fasilitas tersebut menjadi kendala utama dimulainya kembali aktivitas belajar mengajar.
Meski demikian, Amridas berharap proses pembersihan dapat dipercepat dalam beberapa hari ke depan. Jika seluruh pekerjaan berjalan sesuai rencana, aktivitas belajar mengajar diperkirakan baru bisa dimulai kembali pada Senin (10/8/2026).
“Sekarang fokus kami adalah menyelesaikan pembersihan sekolah bersama seluruh pihak yang membantu, termasuk dari instansi pemerintah di Kota Padang dan TNI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah proses pembersihan selesai, pihak sekolah akan melakukan pendataan atau inventarisasi terhadap seluruh fasilitas yang mengalami kerusakan maupun hilang akibat banjir. Hasil pendataan tersebut selanjutnya akan dilaporkan kepada Dinas Pendidikan Kota Padang sebagai dasar penanganan lebih lanjut.
“Kami akan inventarisasi dulu semua kerusakan yang ada, kemudian dilaporkan ke Dinas Pendidikan. Harapan kami, pembersihan segera selesai sehingga kegiatan belajar mengajar bisa kembali berjalan normal,” tuturnya. (WAN)






