Cerita Fauziah Bertahan di Lonteng 14 Jam Saat Banjir Padang

Cerita Fauziah Bertahan di Lonteng 14 Jam Saat Banjir Padang

Fauziah termenung di depan daganganya yang berhasil diselamatkan saat banjir. (Foto: Fajar Hadiansyah/Langgam.id)

Langgam.id – Fauziah masih sibuk mengelap satu per satu barang dagangannya yang berhasil diselamatkan dari banjir. siang itu, Kamis (6/8/2026), dua kasur tampak dijemur di depan rumahnya di kawasan Parak Jambu, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. 

Langit memang mulai cerah, tetapi kekhawatiran perempuan 50 tahun itu belum benar-benar hilang. Bekas banjir masih membekas di dinding rumahnya. 

Garis kecokelatan setinggi lebih dari satu setengah meter, menjadi penanda betapa besar air yang sempat merendam tempat tinggalnya pada Senin (3/8/2026).

Fauziah masih mengingat detik-detik saat air mulai memasuki rumahnya. Sekitar pukul 15.00 WIB, genangan sudah mencapai 60 hingga 70 sentimeter. Ia dan suaminya berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

Seluruh makanan dagangan dipindahkan ke tempat paling tinggi. Sebagian bahkan digantung agar tidak tersentuh air.

Namun, upaya itu tidak bertahan lama. Air terus naik hingga membuat suaminya meminta Fauziah segera naik ke loteng sekitar pukul 17.00 WIB.

“Suami bilang sudah, naik saja ke loteng karena air terus naik,” katanya kepada Langgam.id, Kamis (6/8/2026). 

Loteng menjadi satu-satunya tempat yang dianggap aman. Hampir setiap rumah di kawasan itu, emang memiliki loteng yang digunakan warga untuk berlindung saat banjir datang.

Dari atas loteng, Fauziah hanya bisa memandangi rumahnya yang perlahan tenggelam. Sesekali ia melihat ke bawah melalui celah pintu loteng, meski gelap namun cahaya senter kepala, ia bisa menyaksikan air terus meninggi hingga mencapai sekitar 160 sentimeter.

Ia dan suaminya bertahan semalaman di ruang sempit itu. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu air surut.

“Kami cuma melihat ke bawah dari pintu loteng. Rumah semuanya terendam,” ceritanya. 

Makanan yang mereka santap malam itu bukan bantuan, melainkan sisa dagangan yang masih bisa dimakan. Itulah yang menjadi bekal mereka hingga banjir mulai surut keesokan paginya, Selasa (4/8/2026). 

Sekitar pukul 07.00 WIB, air mulai surit hingga setinggi lutut. Fauziah dan suaminya akhirnya berani turun dari loteng untuk melihat kondisi rumah.

Pemandangan yang mereka temui membuat hati mereka semakin berat. Lumpur memenuhi lantai rumah, sementara sejumlah peralatan elektronik sudah tidak bisa digunakan lagi.

Kulkas mengalami korsleting. Mesin cuci rusak. Sebagian besar barang dagangan juga terendam air.

“Kalau masih bisa dijual, kami bersihkan lagi. Kalau tidak bisa, kami makan sendiri atau kasih ke ayam,” tuturnya. 

Hari-hari setelah banjir diisi dengan membersihkan rumah dan mencoba menyelamatkan apa yang masih tersisa. Bantuan makanan memang sudah datang, tetapi kebutuhan lain masih belum terpenuhi.

Hingga kini, tiga kasur milik keluarganya masih basah. Fauziah bersama keluarga terpaksa tidur di atas tikar.

“Kalau bangun tidur, tangan sampai ada bekas anyaman tikar,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Meski cuaca mulai membaik, rasa waspada belum hilang. Setiap awan gelap datang, Fauziah mengaku langsung teringat malam ketika ia hanya bisa bertahan di loteng sambil berharap air segera surut.

Baginya, banjir kali ini bukan sekadar merendam rumah dan barang-barang. Peristiwa itu meninggalkan kenangan yang akan selalu diingat setiap kali hujan kembali turun di Kota Padang. (WAN)

Baca Juga

Kondisi terkini banjir kanal kota Padang tempat penyelenggaraan cabor dayung di Porprov Sumbar 2026.(Panitia Porprov Sumbar)
Dua Cabor Porprov Sumbar 2026 Terganggu Hujan Deras, Dayung Terancam Tertunda
Petugas BPBD Agam memantau kondisi sungai mengantisipasi banjir akibat hujan deras. (Dok. BPBD Agam)
Waspada Hujan Deras, BPBD Agam Siagakan Petugas Pantau Sungai Batang Kumayo
Salah satu kafe yang terendam banjir di kawasan Kampus III UIN Imam Bonjol Padang. (Dok. Istimewa)
Banjir Rendam Kafe-kafe di Seputaran Kampus III UIN Imam Bonjol Padang
Kondisi banjir di kawasan Lumin Park Lubuk Minturun, Koto Tangah, Padang. (Dok. Istimewa)
Hujan Deras Picu Banjir di Kota Padang, Lubuk Minturun dan Guo Kembali Terendam
Sejumlah wilayah di Pesisir Selatan diterjang banjir hingga longsor karena dipicu hujan deras. (Dok. BPBD Kabupaten Pesisir Selatan)
Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Pesisir Selatan, Sejumlah Titik Butuh Alat Berat
Polresta Padang akhirnya membekuk terduga pelaku pembunuhan seorang wanita yang ditemukan tewas di sebuah hotel di Padang. (Dok. Polresta Padang)
Terduga Pelaku Pembunuhan Perempuan di Hotel Padang Ditangkap, Diburu Gegara Ponsel Tertinggal