Langgam.id — Universitas Andalas (UNAND) menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi keluarga Ryan Alghifary, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika angkatan 2022 yang dilaporkan hilang sejak 17 November 2025. Delapan bulan setelah kepergiannya, upaya pencarian masih terus dilakukan bersama keluarga dan aparat kepolisian.
Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil Zetra, saat mengunjungi kediaman keluarga Ryan pada Senin (13/7/2026). Kunjungan itu turut didampingi Kepala Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik UNAND, Hary Efendi.
Aidinil mengatakan, UNAND tidak pernah berhenti memberikan dukungan kepada keluarga Ryan. Selain terus berkoordinasi dengan kepolisian dan pihak terkait, kampus juga mengajak masyarakat untuk turut membantu apabila memiliki informasi mengenai keberadaan mahasiswa tersebut.
“Universitas Andalas terus berupaya memberikan dukungan dan berkoordinasi dengan pihak keamanan maupun kepolisian. Kami berharap masyarakat yang memiliki informasi mengenai Ryan dapat menyampaikannya kepada keluarga, kepolisian ataupun Universitas Andalas. Seluruh sivitas akademika turut mendoakan agar Ryan segera ditemukan dan kembali dalam keadaan sehat,” ujarnya, dikutip dari siaran resmi kampus.
Ryan diketahui meninggalkan rumah pada dini hari, 17 November 2025. Kepergiannya baru disadari sang ibu menjelang waktu subuh ketika hendak menyiapkan adik-adiknya berangkat ke sekolah.
Yang membuat keluarga semakin khawatir, Ryan pergi tanpa membawa telepon genggam, laptop, dompet berisi kartu identitas, kartu ATM maupun kartu mahasiswa. Ia hanya mengenakan kaus, celana jeans, dan sandal jepit.
Sejak saat itu, keluarga telah berusaha mencari Ryan ke berbagai tempat, mulai dari rumah teman-temannya hingga melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian. Berbagai kemungkinan juga telah ditelusuri, termasuk pencocokan DNA terhadap sejumlah jenazah yang ditemukan pascabencana galodo di Sumatera Barat. Namun hingga kini belum ada petunjuk mengenai keberadaannya.
UNAND juga telah terlibat sejak awal proses pencarian. Bersama aparat kepolisian, pihak kampus membantu menelusuri berbagai informasi, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap perangkat elektronik milik Ryan. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Selain mendukung pencarian, UNAND memastikan hak akademik Ryan tetap menjadi perhatian. Aidinil menyebut kampus akan mengupayakan kebijakan khusus terkait masa studi Ryan mengingat kondisi yang dialaminya merupakan situasi luar biasa.
Menurut pihak kampus, Ryan dikenal sebagai mahasiswa yang pendiam, tetapi memiliki prestasi akademik yang membanggakan. Ia pernah menerima penghargaan atas kontribusinya dalam pengembangan sistem informasi. Bahkan, keluarga mengaku baru mengetahui capaian tersebut setelah mendapat penjelasan dari para dosennya.
Meski demikian, bagi keluarga, seluruh prestasi itu kini bukan lagi menjadi hal utama. Harapan terbesar mereka hanyalah Ryan dapat segera ditemukan dan kembali berkumpul bersama keluarga.
UNAND pun kembali mengajak masyarakat yang memiliki informasi sekecil apa pun mengenai keberadaan Ryan Alghifary agar segera menyampaikannya kepada keluarga atau pihak kepolisian. Kampus berharap setiap informasi dapat menjadi titik terang bagi pencarian yang telah berlangsung selama delapan bulan.
Bersama seluruh sivitas akademika, UNAND terus memanjatkan doa agar Ryan Alghifary segera ditemukan dalam keadaan sehat dan dapat kembali melanjutkan pendidikannya. (HER)






