Langgam.id – Pasar Tanah Kongsi di Kota Padang terus dipersiapkan menjadi salah satu tujuan wisata gastronomi unggulan yang terintegrasi dengan kawasan cagar budaya Kota Tua Padang.
Kepala UPTD Pasar Tanah Kongsi Dinas Perdagangan Kota Padang, Masrizal Raba’is, mengatakan kekuatan utama pasar tersebut terletak pada keberagaman kuliner yang berasal dari empat suku.
“Pasar Tanah Kongsi mempunyai beragam kuliner yang spesifik dan tidak ditemui di pasar lain. Di mana kuliner di sini dijual oleh empat suku yaitu Minang, Tionghoa, India, dan Nias,” kata Masrizal, Minggu (28/6/2026).
Menurut dia, perpaduan budaya tersebut menjadikan Pasar Tanah Kongsi memiliki karakter kuliner yang khas dan berbeda dengan pasar rakyat lainnya. Kondisi itu dinilai menjadi modal penting dalam pengembangan wisata gastronomi di Kota Padang.
Selain mengangkat potensi kuliner lokal, pengelola pasar juga melakukan pembenahan fasilitas dan tata kelola dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 8152:2015 tentang Pasar Rakyat.
Masrizal menjelaskan, proses menuju pasar berstandar nasional telah dimulai sejak 2024 dan sertifikat resminya diserahkan pada 2025. Penerapan standar tersebut mencakup penataan lapak, kebersihan, keamanan, hingga pembagian zona perdagangan.
“Di situ sudah ada SOP penataan, baik itu dalam segi kebersihan, keamanan dan penataan zona-zonasi yang harus kita ikuti sesuai standar SNI,” ujarnya.
Ke depan, pihak UPTD menargetkan potensi wisata kuliner di Pasar Tanah Kongsi dapat dipromosikan bersama sektor pariwisata daerah. Letaknya yang berada di kawasan Kota Tua Padang dinilai menjadi nilai tambah karena wisatawan dapat menikmati wisata sejarah sekaligus mencicipi ragam kuliner khas dalam satu kawasan.
“Kami menargetkan untuk ke depannya bagaimana potensi wisata kuliner yang ada di Pasar Tanah Kongsi bisa kita kerja samakan dengan pariwisata, salah satunya yakni kawasan Kota Tua yang merupakan kawasan yang tergabung di Pasar Tanah Kongsi,” kata Masrizal.
Dengan pengembangan tersebut, Pasar Tanah Kongsi diharapkan tidak hanya menjadi pusat perdagangan rakyat, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata gastronomi yang mampu menarik lebih banyak wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat setempat. (HER)






