Langgam.id – Rencana revitalisasi Basement Blok 3 Pasar Raya Padang membawa kembali kenangan panjang bagi Indra (59), pedagang sarapan pagi yang telah hampir dua dekade mencari nafkah di kawasan pasar.
Bagi Indra, relokasi bukanlah hal baru. Sejak mulai berjualan pada 2009, ia sudah beberapa kali berpindah tempat mengikuti perubahan wajah Pasar Raya Padang.
Indra mengawali usahanya pada pertengahan 2009 di kawasan sekitar Blok 2 Pasar Raya Padang. Namun, baru sekitar dua bulan berjualan, gempa besar mengguncang Kota Padang pada 30 September 2009.
Aktivitas perdagangan lumpuh dan para pedagang terpaksa meninggalkan lokasi dagang mereka.
Pasca gempa, Pemerintah Kota Padang di bawah kepemimpinan Wali Kota Fauzi Bahar ketika itu membangun pondok-pondok darurat untuk menampung pedagang terdampak.
Indra pun direlokasi ke kawasan depan bioskop yang saat itu menjadi pusat aktivitas sementara para pedagang Pasar Raya Padang.
“Waktu mulai jualan baru sekitar dua bulan, langsung terjadi gempa. Setelah itu kami dipindahkan ke pondok-pondok darurat di depan bioskop,” kenang Indra saat ditemui Langgam.id, Senin (15/6/2026).
Seiring berjalannya proses pemulihan Pasar Raya, Indra kembali berpindah lokasi. Kali ini ia menempati kawasan dekat Gedung Padang Theatre. Di lokasi tersebut, usahanya mulai berkembang dan pelanggan baru berdatangan setelah masa sulit pascagempa.
Namun, saat pembangunan Gedung Blok 3 dalam masa pembaruan, Indra kembali harus menghadapi perpindahan. Sekitar tahun 2014, gerobak dagangannya diangkut petugas pada malam hari ketika dirinya dan sang istri sudah berada di rumah.
Kejadian saat itu seluruh perlengkapan usaha masih berada di dalam gerobak. Mulai dari piring, gelas, kompor hingga peralatan memasak lainnya belum sempat dipindahkan.
“Waktu itu kami sudah pulang. Gerobak dipindahkan malam hari, padahal di dalamnya masih ada piring, gelas, kompor dan perlengkapan jualan lainnya. Alhamdulillahnya tidak ada yang rusak selain baguan bawah gerobak,” ujarnya.
Setelah meninggalkan kawasan Padang Theatre, Indra direlokasi ke sekitar kawasan dekat Blok A. Di lokasi tersebut ia kembali memulai usaha dari awal dan berupaya mempertahankan pelanggan yang telah mengenalnya.
“Baru pada 2018, saya pindah ke Basement Blok 3. Nah di sini saya paling lama jualan,” ungkapnya.
Sementara itu, rencana revitalisasi yang akan merelokasi sekitar 32 pedagang Basement 3 membuatnya khawatir. Karena kepindahan ini membuat peralatan jualannya harus diangkut.
“Kondisi gerobak tidak ada rodanya, selain itu tempatt relokasi tidak cocok dan semput,” ceritanya.
Ia berharap pemerintah dapat mengatur waktu pengerjaan tanpa harus merelokasi seluruh pedagang. Menurutnya, aktivitas jual beli di basement biasanya selesai sekitar pukul 10.00 WIB sehingga pekerjaan revitalisasi bisa dilakukan setelah jam operasional pasar berakhir.
“Kami hanya ingin tempat yang jelas kalau memang direlokasi. Jangan sampai terjadi keributan dengan pedagang lain karena semuanya sama-sama mencari nafkah,” pungkasnya. (WAN)





