Langgam.id – Panas gurun menyengat kulit. Waktu istirahat sering kali hanya tersisa beberapa jam. Ribuan jemaah datang dengan berbagai kebutuhan kesehatan yang harus ditangani secepat mungkin.
Namun di tengah padatnya tugas sebagai petugas haji Indonesia, dr. Yelvi Novita Roza justru merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan kelelahan yang mendominasi harinya di Arab Saudi, melainkan rasa syukur karena pertolongan allah SWT yang hadir berkali-kali dalam setiap langkah pengabdiannya.
Bagi perempuan yang bertugas mendampingi jemaahdalam penyelenggaraan ibadah haji 2026 itu, pengalaman berada di Tanah Suci menjadi perjalanan yang jauh melampaui tugas profesional.
Di tengah kesibukan melayani kesehatan jamaah, ia menemukan makna baru tentang kehidupan, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah SWT. Pengalaman itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kisah panjang pelayanan jemaahhaji Indonesia di Arab Saudi.
“Arab Saudi itu tempat yang ajaib. Tidak terasa lelah meski aktivitas begitu padat. Semua pertolongan dari Tuhan terasa begitu nyata dan datang pada saat yang tepat,” ujarnya dengan senyum hangat di Asrama Haji Padang, Kamis (11/6/2026).
Bagi Yelvi, Tanah Suci menghadirkan pelajaran yang sulit ditemukan di tempat lain. Setiap hari yang dijalani seolah menjadi cermin kehidupan manusia. Di sana, ia melihat bagaimana kesabaran diuji, kepedulian tumbuh tanpa diminta, dan kebersamaan hadir melampaui batas daerah maupun latar belakang sosial.
Menurutnya, pelaksanaan haji merupakan miniatur kehidupan yang sesungguhnya. Apa yang dialami seseorang selama berada di Makkah dan Madinah sering kali menjadi gambaran tentang bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari.
“Apa yang kita lakukan di Tanah Suci sebenarnya menggambarkan bagaimana kita menjalani kehidupan di Indonesia. Di sana kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan,” tuturnya.
Selama bertugas dalam layanan kesehatan haji, Yelvi menyaksikan berbagai peristiwa yang menurutnya sulit dijelaskan hanya dengan logika. Ketika tenaga mulai terkuras akibat aktivitas yang berlangsung hampir tanpa henti, selalu ada kekuatan baru yang datang. Saat persoalan muncul, jalan keluar sering kali hadir pada waktu yang tidak diduga.
Hari-hari panjang yang dijalani bersama jemaahtidak pernah terasa sebagai beban. Sebaliknya, pengalaman tersebut menghadirkan rasa persaudaraan yang kuat di antara sesama petugas maupun jamaah.
“Banyak sekali pertolongan yang kami rasakan. Banyak pula saudara dan keluarga baru yang kami temukan. Di sana kita benar-benar merasakan arti keluarga dan kebersamaan, meskipun berasal dari daerah dan latar belakang yang berbeda,” kenangnya.
Di lapangan, ia juga menyaksikan dedikasi para tenaga medis Indonesia yang bekerja tanpa mengenal waktu. Dokter, perawat, dan petugas kesehatan bergerak cepat ketika ada jamaah yang membutuhkan bantuan. Fokus utama mereka adalah memastikan seluruh jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan aman dan nyaman.
“Kami berusaha melayani sepenuh hati. Ketika jamaah sakit, seluruh tim bergerak cepat. Alhamdulillah, banyak jamaah yang kondisinya membaik dengan cepat setelah mendapatkan penanganan,” ujarnya.
Data penyelenggaraan haji setiap tahun menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan menjadi salah satu aspek paling krusial dalam operasional haji Indonesia. Dengan jumlah jemaah yang mencapai ratusan ribu orang, kesiapan tenaga medis menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan jemaahselama menjalankan ibadah di Arab Saudi.
Namun bagi Yelvi, pengalaman paling membekas bukan hanya soal tugas pelayanan. Ada sejumlah momen spiritual yang hingga kini masih tersimpan kuat dalam ingatannya.
Ia mengaku beberapa kali memperoleh kemudahan yang sulit dijelaskan secara rasional. Kesempatan memasuki Raudhah tanpa antrean panjang hingga momen dapat menyentuh Ka’bah tanpa harus berdesak-desakan menjadi pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Banyak hal luar biasa yang saya alami di sana. Rasanya seperti mendapatkan undangan khusus dari Allah. Semua terjadi begitu saja dan meninggalkan rasa syukur yang mendalam,” katanya.
Kini, setelah kembali ke Indonesia bersama jemaah yang didampinginya, Yelvi membawa pulang lebih dari sekadar catatan tugas. Ia membawa keyakinan bahwa setiap pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan menghadirkan pelajaran berharga.
Baginya, Tanah Suci bukan hanya tempat menjalankan umrah dan haji atau menunaikan kewajiban agama. Tempat itu menjadi ruang pembelajaran kehidupan yang mengajarkan manusia untuk lebih dekat kepada sesama sekaligus lebih dekat kepada Sang Pencipta.
“Yang paling saya syukuri bukan hanya bisa bertugas dan melayani jemaah, tetapi juga pelajaran hidup yang saya dapatkan. Di sana saya belajar bahwa ketika kita ikhlas membantu orang lain, Allah akan menunjukkan begitu banyak jalan kemudahan yang tidak pernah kita duga sebelumnya,” pungkasnya.
Kisah Yelvi menjadi potret bahwa di balik padatnya tugas seorang petugas haji Indonesia, selalu ada ruang bagi ketulusan, pengabdian, dan keyakinan. Di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci, ia menemukan satu pelajaran sederhana: pertolongan Tuhan bisa terasa sangat dekat bagi mereka yang ikhlas melayani. (WAN)






