Tambang Emas Ilegal hingga Pelangsir Biang Kerok Solar Langka di Sumbar 

Sebanyak 11 orang dilaporkan meninggal dan 25 orang lainnya masih tertimbun di lokasi tambang emas di Sungai Abu, Kecamatan Hiliran Gumanti,

Ilustrasi tambang ilegal di Pasbar. [foto: Ist]

Langgam.id – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumatera Barat (Sumbar), Helmi Heriyanto, mengungkap aktivitas tambang emas ilegal diduga salah satu penyebab kelangkan BBM subsidi jenis solar di sejumlah wilayah di Sumbar.  

“Aktivitas tambang ilegal ini selain merusak lingkungan juga memberikan dampak lain berupa kelangkaan BBM subsidi di Sumbar,” ujarnya, Kamis (21/5/2026). 

Helmi menyebutkan, ketika dirinya melakukan kunjungan ke salah satu lokasi tambang di kawasan Batu Gando, Kabupaten Sijunjung, didapati penggunaan BBM subsidi jenis solar dalam jumlah banyak untuk aktivitas tambang.

“Kami hitung kemarin ketika kunjungan ke Batu Gando, Kabupaten Sijunjung sekitar  1.000 liter per hari bahan bakar jenis solar yang dibutuhkan. Itu untuk pengoperasian ponton-ponton di kawasan satu titik saja,” katanya.  

Ia menyebutkan, belum lagi dengan penggunaan bahan bakar jenis solar untuk tambang-tambang yang menggunakan alat berat tentu akan bertambah konsumsi bahan bakar. 

Temuan ini menjadi evaluasi berkala agar nantinya distribusi bahan bakar subsidi tidak diperuntukkan bagi aktivitas tambang. 

“Tujuannya agar masalah kelangkaan BBM di Sumbar bisa segera teratasi,” ucapnya. 

Selain tambang ilegal, lanjut Helmi, penyebab kelangan solar juga disebabkan naiknya harga BBM non subsidi. Dikatakannya, khusus sepuluh hari belakangan data dari Pertamina terdapat kenaikan permintaan pendaftaran untuk akses mendapatkan BBM subsidi, sehingga pengguna BBM subsidi jenis solar juga alami lonjakan.

“Temuan di beberapa SPBU dapat disaksikan bahwa antrean BBM jenis solar yang biasanya diisi oleh truk dan angkutan umum, sekarang juga sudah diisi oleh mobil pribadi milik masyarakat. Kalau di persentasekan terjadi kenaikan sekitar 8 persen,” jelasnya.  

Selanjutnya, kata Helmi masih terjadi oknum-oknum pelangsir yang menggunakan truk modifikasi untuk membeli BBM subsidi dengan jumlah banyak, kemudian dijual kembali.

“Praktik seperti ini masih marak terjadi di SPBU yang ada di Sumatera Barat. Oknum ini bisa menjual lagi dengan harga lebih mahal,” ungkap Helmi.

Gambaran Helmi, misalkan satu truk tersebut bisa menampung sekitar 200 liter solar setiap hari, dalam sepekan bisa memperoleh 1400 liter yang membuat penggunaan BBM subsidi menjadi tidak tepat sasaran.

“Sehingga seharusnya solar tidak langka karena bisa mencukupi menjadi tidak lagi cukup karena ulah oknum yang tidak bertanggung jawab ini,” tutur Helmi.

“Oknum pelangsir ini menjual untuk pengguna mobil pribadi tentu penjualan mereka tidak banyak. Maka, ke aktivitas tambang ilegal inilah dijual BBM subsidi tadi,” pungkasnya. (WAN) 

Baca Juga

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah mengatakan bahwa penanganan dampak bencana hidrometeorologi tidak boleh dibebankan
Gubernur Layangkan Teguran untuk 12 Kabupaten/Kota, Susun Perkada Tanpa Fasilitasi Pemprov
Paduan Komposisi Skuad Semen Padang FC Musim Depan, Hasil Transfer 34 Pemain
Paduan Komposisi Skuad Semen Padang FC Musim Depan, Hasil Transfer 34 Pemain
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM, saat berorasi dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumatra Barat (Sumbar) di Padang, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Langgam.id/ Buliza Rahmat)
KDM Singgung Otonomi Daerah di Muswil KAHMI Sumbar: Jangan Divonis Gagal Gegara Segelintir Kasus Korupsi!
Lazar Zlicic Resmi Gabung Semen Padang FC: Mari Kita Berjuang Bersama
Lazar Zlicic Resmi Gabung Semen Padang FC: Mari Kita Berjuang Bersama
Warga Agam dan Tanjung Pinang Diduga Disekap di Myanmar: Tangan Diikat, Kaki Penuh Luka
Warga Agam dan Tanjung Pinang Diduga Disekap di Myanmar: Tangan Diikat, Kaki Penuh Luka
Suasana proses belajar mengajar di MAN 3 Padang, Rabu (15/7/2026).
Kesaksian Siswa: Detik-detik Sebelum Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang