Langgam.id – Kemacetan panjang berjam-jam yang sempat terjadi akibat truk patah gardan di Jalur Sitinjau Lauik pada Rabu (20/5/2026), tak hanya membuat penumpang kelelahan dan bus antar kota antar provinsi (AKAP) terlambat berangkat.
Sejumlah hewan peliharaan yang dibawa penumpang bus juga dilaporkan mati, karena terlalu lama terjebak di dalam bagasi kendaraan.
Salah seorang penumpang bus EPA Start asal Palembang, Weli, mengaku ayam bangkok miliknya mati setelah berjam-jam berada di dalam bagasi bus saat antrean kendaraan tidak bergerak.
“Pagi tadi waktu awal macet masih berkokok ayamnya. Sekitar jam 9 saya cek sudah tidak ada bunyi lagi, ternyata sudah mati,” katanya kepada Langgam.id sambil tertawa kecil, Rabu (20/5/2026).
Ayam bangkok itu dibawa dari Palembang menuju Padang. Menurut Weli, ayam tersebut sudah dipeliharanya hampir dua tahun dan pernah ditawar hingga Rp1 juta oleh orang lain.
“Belinya dulu Rp200 ribu. Sudah ada yang nawar sejuta,” ujarnya. Karena sudah mati, ayam tersebut akhirnya dibuang ke jurang di kawasan Sitinjau Lauik.
“Daripada dibawa lagi, dicampakkan saja ke jurang tadi,” sambungnya.
Weli berharap pemerintah segera memperbaiki jalur Sitinjau Lauik, karena kemacetan panjang dan kendaraan rusak sudah terlalu sering terjadi di kawasan tersebut.
Menurut dia, kondisi jalan yang sempit dengan tikungan tajam membuat perjalanan sopir dan penumpang selalu dihantui rasa khawatir.
“Harapan kami jalan Sitinjau ini cepat dibenahi. Kasihan penumpang, sopir juga capek kalau macet terus begini,” harapnya.
Ia menilai pembangunan flyover maupun pelebaran jalur perlu dipercepat, agar kendaraan besar tidak lagi kesulitan melintas di tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik.
“Kalau ada truk rusak sedikit saja langsung lumpuh total. Mudah-mudahan pemerintah cepat menyelesaikannya,” ujarnya.
Selain ayam bangkok, seekor anjing yang ikut dibawa penumpang lain juga dilaporkan mati diduga akibat terlalu lama berada di dalam kendaraan saat kemacetan terjadi sejak subuh.
Jalur penghubung Padang-Solok itu baru kembali normal setelah proses evakuasi selesai sekitar pukul 14.20 WIB.
Sementara itu, sopir bus NPM tujuan Jambi, Libero, mengatakan kemacetan di Sitinjau Lauik sudah terlalu sering terjadi dan sangat merugikan penumpang maupun perusahaan otobus.
“Penumpang kecewa karena harus lama menunggu. Banyak yang akhirnya turun dijemput keluarga atau lanjut naik travel,” katanya.
Menurut dia, selain merugikan waktu perjalanan, operasional bus juga terganggu karena kendaraan harus tetap hidup selama macet agar pendingin ruangan tetap menyala.
“Minyak banyak habis karena AC hidup terus,” ujarnya.
Libero berharap pemerintah provinsi dan pusat segera mempercepat pembangunan fly over Sitinjau Lauik agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Kami berharap jalan ini segera dibenahi. Kalau tidak, macet dan kecelakaan akan terus terjadi,” imbuhnya. (WAN)






