Langgam.id – Universitas Andalas (UNAND) menggelar The 7th International Conference on Sustainable Agriculture and Biosystem (ICSAB 2026) di Gedung Pascasarjana Lantai 3 UNAND, Rabu (7/10/2026). Konferensi internasional ini membahas inovasi pertanian cerdas atau smart agriculture untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendorong pertanian berkelanjutan.
Konferensi tersebut diinisiasi Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UNAND, bekerja sama dengan Faculty of Plantation and Agrotechnology, Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.
Kegiatan ini juga didukung sejumlah perguruan tinggi mitra internasional, yakni King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand, Kyushu University, Jepang, dan The University of Queensland, Australia.
Mengusung tema “Innovations in Smart Agriculture: Strengthening Global Food Systems for a Sustainable Future”, ICSAB 2026 menjadi forum bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk berbagi hasil penelitian serta memperkuat kolaborasi lintas negara di bidang pertanian.
Ketua ICSAB 2026, Khandra Fahmy, mengatakan konferensi tersebut merupakan penyelenggaraan yang ketujuh oleh Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UNAND.
Ia menyebutkan, antusiasme peserta terlihat dari jumlah karya ilmiah yang masuk. Sebanyak 73 makalah telah disubmit untuk mengikuti konferensi, dengan 71 makalah dijadwalkan dipresentasikan secara oral.
Makalah terpilih juga berpeluang dipublikasikan melalui IOP Conference Series dan penerbit lain yang terindeks Scopus.
Pembukaan konferensi dilakukan Rektor UNAND, Efa Yonnedi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi teknologi untuk menjawab tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian, bahkan sejumlah komoditasnya telah menembus pasar internasional. Namun, sebagian besar produk pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan perlunya pengembangan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
Penerapan smart agriculture dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mencapai tujuan tersebut. Teknologi seperti sensor, otomasi, analisis data, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan sumber daya, serta kualitas hasil pertanian.
Selain itu, penerapan teknologi juga perlu didukung praktik budidaya dan pascapanen yang tepat agar produktivitas meningkat tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Rektor menegaskan, pengembangan teknologi pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada usaha berskala besar. Inovasi yang dihasilkan harus dapat diterapkan oleh petani kecil, termasuk mereka yang memiliki lahan terbatas dan terfragmentasi.
Teknologi tersebut diharapkan mudah digunakan, ramah lingkungan, dan mampu memberikan nilai tambah bagi hasil pertanian.
ICSAB 2026 menghadirkan lima pembicara utama dari institusi nasional dan internasional. Mereka adalah Shamsiah Abdullah dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia; Panida Boonyaritthongchai dari King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Thailand; Takashi Okayasu dari Kyushu University, Jepang; Vilim Filipović dari The University of Queensland, Australia; serta Putri Wulandari Zainal dari UNAND.
Para pembicara membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan pengembangan pertanian berkelanjutan, mulai dari teknologi cerdas dalam sistem pertanian, sosial ekonomi dan rantai nilai pertanian, teknik pascapanen, biosistem dan bioproses, hingga pengelolaan sumber daya lahan dan air.
Topik lain yang menjadi perhatian meliputi teknologi pangan, sistem produksi agroindustri, energi terbarukan, dan biodiversitas.
Berbagai bidang tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian berkelanjutan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup pengolahan hasil, rantai pasok, pemanfaatan energi, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui penyelenggaraan ICSAB 2026, UNAND berharap jejaring akademik dan penelitian internasional semakin kuat. Konferensi ini juga diharapkan membuka peluang kerja sama riset yang menghasilkan inovasi serta solusi nyata bagi sektor pertanian.
Dengan demikian, pengembangan teknologi pertanian diharapkan dapat mendukung sistem pangan yang lebih tangguh, efisien, inklusif, dan berkelanjutan. (HER)






