Transit Terakhir Hatta-Sjahrir Sebelum Bebas dari Tahanan Belanda

Transit Terakhir Hatta-Sjahrir Sebelum Bebas dari Tahanan Belanda

Bung Hatta dan Sutan Sjahrir dalam suatu kesempatan tahun 1948. (Foto: Repro Foto Rosihan Anwar dalam Buku 'Sutan Sjahrir' hal 116)

Langgam.id - "Hari Sabtu pagi tanggal 21 Maret 1942, aku menerima surat dari Bupati Sukabumi, diantar ke tempat tinggalku oleh seorang pegawainya.

Dalam surat itu disebutkan, bahwa seorang kolonel sakura Jepang datang tadi malam dan menginap di rumahnya. Dia ingin bertemu dengan aku dan mengadakan pertukaran pikiran..."

Tulisan Bung Hatta di Buku 'Mohammad Hatta Memoir' (1979) tersebut, seperti buku harian. Mencatat hampir tiap saat perjalanannya, menekankan hal-hal yang dinilai perlu dan detail menyebut tanggal hingga hitungan menit untuk soal-soal penting.

Sabtu yang dicatat Bung Hatta itu adalah hari terakhir ia bersama Sjahrir berada di tahanan Pemerintah Hindia Belanda, Sukabumi. Hari tersebut tepat 77 tahun yang lalu dari hari ini, Kamis (21/3/2019).

Kolonel sakura yang dimaksudkan Bung Hatta, adalah Kolonel Ogura. Ketika bertemu saat Bung Hatta memenuhi undangan itu di sore hari, Ogura memperkenalkan diri sebagai utusan Jenderal Kumakichi Harada.

Jenderal Harada setingkat berada di bawah Jenderal Hitoshi Immamura, Komandan Tentara ke-16 Angkatan Darat Jepang yang menginvasi Pulau Jawa dan membuat Belanda menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942. Kelak, Harada menggantikan Immamura menjadi Komandan Pasukan ke-16.

"Kolonel Ogura menanyakan kepadaku apakah aku bersedia berangkat esok pagi bersama-sama dengan dia ke Jakarta," tulis Hatta.

Bung Hatta menyampaikan, sebelum Ogura datang, ia sudah ditemui seorang pembesar Kempetai yang memintanya datang ke Markas Besar Angkatan Perang Jepang di Bandung. Hatta memintanya untuk berkoordinasi dengan yang menghubungi sebelumnya.

"Tuan pikirkanlah atau tuan telepon kepada kedua-duanya instansi itu, apa yang mesti kuperbuat," kata si Bung.

Hatta sebenarnya memang berniat ke Jakarta. Ia ingin mengantarkan Ibundanya Siti Saleha yang sejak beberapa hari terakhir berkunjung ke Sukabumi. Kunjungan melepas rindu, setelah enam tahun tak bertemu, sejak Bung Hatta ditangkap pada 1934 dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul dan kemudian Banda Neira.

Lalu, bagaimana Hatta dan Sjahrir bisa sampai di Sukabumi? Ia dan Sjahrir dijemput dengan pesawat air Catalina yang mendarat di pantai Banda Neira pada 1 Februari 1942.

Saat Hatta dan Sjahrir dijemput, Jepang sudah mulai menginvasi Hindia Belanda. Balatentara Jepang mendarat pertama kali di Tarakan, Kalimantan pada 11 Januari 1942. Awal Februari 1942, mereka sudah hampir menguasai seluruh Pulau Kalimantan. (Baca: Ultimatum Jepang dan Cerita Gerobak Sapi Bung Karno Menuju Padang)

Dengan perjalanan udara sampai ke Surabaya, disambung kereta ke Jakarta dan berakhir dengan mobil ke Sukabumi, Hatta, Sjahrir dan tiga anak angkatnya baru sampai di Sukabumi pada 3 Februari 1942.

Di Sukabumi, Hatta dan Sjahrir ditempatkan di rumah dalam komplek sekolah polisi milik pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai orang tawanan, awalnya ada aturan untuk mereka. Ada aturan boleh berkeliling kota, tetapi mereka harus melapor dulu ke petugas jaga. Pada malam hari, mereka sudah harus sudah kembali ke rumah di komplek sekolah polisi.

Lama kelamaan, aturan itu makin longgar. Para polisi Hindia Belanda tak lagi memedulikan Hatta dan Sjahrir. Aturan pun hilang sejak Belanda menyerah tanpa syarat.

Dua hari setelah penyerahan diri tersebut, polisi Belanda bahkan meminta Hatta dan Sjahrir mengosongkan rumah.

Keduanya menolak, apabila pemerintah kolonial yang telah kalah itu tak bisa mencarikan rumah pengganti. "Tetapi apabila tuan-tuan tidak bisa (mencarikan rumah), kami akan tetap di sini sampai waktunya kami berangkat ke Jakarta."

Demikianlah penahanan itu berakhir tanpa surat apapun. Mirip dengan Sukarno yang ditinggal lari polisi Hindia Belanda yang membawanya ke Padang dari Bengkulu.

Hatta tetap di rumah tersebut sampai pertemuan tanggal 21 Maret dengan Kolonel Ogura. Esoknya, Hatta pun berangkat ke Jakarta, setelah sekitar 1,5 bulan di Sukabumi.

Mengutip De Kadt yang menulis 'Sjahrir, Poging tot plaatsbepaling', Rudolf Mrazek dalam Biografi 'Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia' (1996) menulis, saat Hatta ke Jakarta, Sjahrir tetap berada di Sukabumi.

"Hatta menerima perintah untuk ke Batavia. Ia pergi dengan pengawalan Jepang. Tiada perhatian terhadap diri saya. Saya ditinggal dengan tiga anak, tidak mudah bagi kami untuk mencari pemondokan baru. Karena itu, dengan tenang kami tetap tinggal kompleks polisi..." kata Sjahrir seperti dikutip Mrazek.

Saat itu, tentu status Sjahrir bukan lagi sebagai tawanan. Ia bahkan disindir-sindir supaya pergi dari sana. Begitulah cara mereka.

Hatta dan Sjahrir, kembali bertemu pada Juli 1942 bersama Sukarno, saat Bung Karno telah kembali dari Padang. Saat mereka menyepakati strategi perjuangan di Zaman Jepang. (HM)

Baca Juga

Menhir Maek Tiang Peradaban yang Selaras dengan Semesta
Menhir Maek Tiang Peradaban yang Selaras dengan Semesta
Tanjung Barulak Menolak Pajak
Tanjung Barulak Menolak Pajak
HIMA Sejarah Unand Bekali Angkatan Muda
HIMA Sejarah Unand Bekali Angkatan Muda
Situs Diduga Peradaban Era Neolitik-Megalitik Ditemukan di Lubuk Alung
Situs Diduga Peradaban Era Neolitik-Megalitik Ditemukan di Lubuk Alung
Penutur Kuliner
Penutur Kuliner
Deddy Arsya Dosen Sejarah UIN Bukittinggi
Hasrat Bersekolah dan Ruang Kelas