Tantangan dan Peluang: Antisipasi Perubahan Iklim demi Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Perubahan iklim adalah sebuah fenomena alam di mana terjadi variasi dalam unsur-unsur iklim, baik secara alami maupun yang dipercepat oleh aktivitas manusia di planet ini. Sejak dimulainya era revolusi industri, telah terjadi peningkatan suhu udara secara global.

Selain kenaikan suhu, perubahan iklim juga mengakibatkan pola iklim yang tidak biasa, seperti Enso (El-Nino dan La-Nina), IOD (Indian Ocean Dipole), fluktuasi ekstrem suhu udara, perubahan pola curah hujan, pergeseran musim dari yang biasanya, serta kenaikan permukaan air laut dan kejadian rob di beberapa wilayah.

El-Nino merujuk pada peristiwa iklim yang menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan karena kenaikan suhu permukaan laut di bagian selatan Samudra Pasifik, yang mengakibatkan pergeseran massa uap air dari wilayah Indonesia ke arah timur.

Sebaliknya, La-Nina merupakan kejadian iklim di mana terjadi peningkatan jumlah dan intensitas curah hujan, bahkan hingga musim kemarau, karena adanya penurunan suhu permukaan laut di wilayah selatan Samudra Pasifik, yang menghasilkan peningkatan konsentrasi massa uap air di wilayah Indonesia.

Fenomena perubahan iklim telah terjadi dan masih berlanjut ke masa depan. Pada dasarnya, perubahan ini terjadi ketika unsur-unsur iklim mengalami variasi intensitas dari kondisi normal menuju arah tertentu. Berbagai penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrousoksida (N2O) di atmosfer meningkat sekitar 20% sejak awal revolusi industri. Limbah gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan oleh sektor industri, seperti karbondioksida, metana, dan nitrousoksida, menyebabkan efek pemanasan global yang meningkatkan suhu di permukaan bumi.

Perbandingannya dengan masa pra-industri menunjukkan peningkatan signifikan dalam konsentrasi GRK, seperti CO2 yang meningkat dari 290 ppmv menjadi 360 ppmv saat ini.

Perubahan iklim kini bukan hanya sekadar perdebatan, tetapi telah menjadi masalah serius yang melibatkan komunitas, lembaga, negara, bahkan skala global karena dampaknya yang luas, terutama dalam sektor pertanian. Produktivitas pertanian dipengaruhi oleh perubahan dan anomali iklim. Oleh karena itu, banyak yang menganggap sektor pertanian sebagai bidang usaha yang tidak pasti (unpredictable).

Ketahanan pangan dapat terwujud jika pada level makro terdapat pasokan pangan yang memadai secara jumlah, kualitas, keamanan, dan aksesibilitasnya, serta pada level mikro setiap rumah tangga mampu mengonsumsi pangan yang cukup, aman, bergizi, dan sesuai dengan pilihan mereka untuk menjalani kehidupan yang produktif dan sehat.

Namun, upaya mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia menghadapi hambatan besar karena ketersediaan pangan yang jauh lebih rendah dibandingkan permintaan.

Sektor pertanian tidak hanya menjadi penyumbang emisi GRK, tetapi juga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama terhadap tanaman pangan. Perubahan iklim telah mengakibatkan penurunan produktivitas dan produksi tanaman karena meningkatnya suhu udara, banjir, kekeringan, serangan hama, penyakit, dan penurunan kualitas hasil pertanian.

Untuk mengatasi dampak ini, strategi pengelolaan lingkungan pertanian diperlukan melalui perencanaan, penyesuaian kegiatan pertanian, manajemen sumber daya, serta penerapan teknologi pertanian.

Sektor pertanian harus cepat beradaptasi dan mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim dengan mengelola sumber daya tanah dan air secara optimal, menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi iklim setempat, menggunakan teknologi pertanian yang efektif, dan menerapkan praktik yang adaptif.

Penulis : Rahmi Awalina, S.TP.,MP
Dosen TPB – Fateta Unand

Baca Juga

Petani di Kaki Bukit Barisan Terkebat Perubahan Iklim
Petani di Kaki Bukit Barisan Terkebat Perubahan Iklim
Perubahan Iklim Ancaman Terbesar, Pemko Pariaman Sosialisasi Proklim
Perubahan Iklim Ancaman Terbesar, Pemko Pariaman Sosialisasi Proklim
Analisis Ekonomi: 'Tepat Langkah BI Menahan BI Rate'
Analisis Ekonomi: 'Tepat Langkah BI Menahan BI Rate'
Petani Jangan Bunuh Parasitoid, Parasitoid Itu Musuh Alami Hama
Petani Jangan Bunuh Parasitoid, Parasitoid Itu Musuh Alami Hama
Musa, Anies dan Pengulangan Sejarah
Musa, Anies dan Pengulangan Sejarah
Arfi Bambani Amri
Selamat Tinggal Prabowo, Jokowi