Syekh Abdurrahman: Kakek Bung Hatta, Ulama Besar dari Batuhampar

Surau Batu Hampar Syekh Abdurrahman Kakenda Bung Hatta

Komplek Pesantrean Batu Hampar yang didirikan Syekh Abdurrahman. (Foto: Dok. Balai Litbang Agama Jakarta/kemenag.go.id)

Langgam.id - Bung Hatta tak sempat bertemu dengan Syekh Abdurrahman. Ulama besar Minangkabau asal Batuhampar, Kabupaten Limapuluh Kota tersebut adalah kakek kandung sang proklamator dari pihak ayah.

Saat Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902, Syekh Abdurrahman sudah wafat sekitar tiga tahun. Sang kakek memang berpulang pada 1899, dalam usia yang terbilang sepuh, lebih dari 110 tahun. Satu versi menyebut ia lahir pada 1777 dan versi lainnya menyebut pada 1783.

Meski tak pernah bertemu, kisah kakeknya diterima Bung Hatta dari Syekh Arsyad, anak Syekh Abdurrahman sekaligus saudara sang ayah. Si Bung sendiri juga tak sempat mengenal ayahnya Muhammad Djamil yang meninggal dunia saat Bung Hatta berusia 8 bulan.

Tak bertemu dengan kakeknya dan tak sempat mengenal ayahnya, membuat Bung Hatta menjadi kesayangan Syekh Arsyad sejak kecil. Dalam Biografinya "Memoir" (1979) Bung Hatta menulis, keluarga ibunya Saleha di Bukittinggi terus menjaga hubungan baik dengan keluarga ayahnya.

"Kontakku dengan keluarga ayahku di Batuhampar bermula sesudah aku berumur 7 tahun. Sekurang-kurangnya dua kali setahun aku dibawa berziarah ke Batuhampar dan selalu aku ditempatkan pada lingkungan ayah gaekku Arsad. Beliau sangat sayang padaku," tulis Bung Hatta.

Ranji yang dimuat Buku "Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat" menyebut, Syekh Abdurrahman mempunyai 10 anak dari lima istri. Syekh Arsyad pelanjutnya adalah anak kedua dari isteri bernama Afifah. Sementara, dari isteri bernama Saadiyah, lahir Muhammad Djamil. Ia merupakan ayahanda Mohammmad Hatta, yang kelak menjadi salah satu proklamator kemerdekaan RI.

Baik ayahnya Muhammad Djamil, kakendanya Syekh Abdurrahman maupun pamannya Syekh Arsyad, diceritakan oleh Bung Hatta dalam buku biografinya "Memoir" (1981) Bung Hatta menulis, "Aku tak pernah berjumpa dengan Datukku, sebab sebelum aku lahir beliau sudah berpulang ke Rahmatullah. Beliau digantikan oleh anak (laki-laki) tertua Haji Arsad sebagai Syekh Batuhampar."

Karena kebesaran kakendanya, menurut Bung Hatta, murid-murid bukan saja datang dari Pulau Sumatra. Tetapi juga dari Kalimantan dan Semenanjung Malaka. "Beliau bukan saja seorang guru agama yang besar pengaruhnya, tetapi juga seorang ahli Tarikat Islam. Ia bercita-cita menjadikan Batuhampar sebagai benteng pertahanan agama Islam, karena penyerbuan bangsa kulit putih ke Minangkabau sudah mendesak umat Islam ke pinggir," tulis Hatta.

Syekh Abdurrahman Batuhampar dianugerahi ilmu yang dalam, umur yang panjang dan anugerah kesehatan yang berlimpah. Berbagai literatur menulis, Abdurrahman lahir pada tahun 1777 Masehi di Nagari Batuhampar, Luhak Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sumber lain menyebutnya lahir pada 1783.

Ia lahir dari ayah Abdullah gelar Rajo Intan dan ibu Tuo Tungga. Abdurrahman adalah satu-satunya anak yang hidup dari pasangan ini. Karena itu, ia menerima curahan kasih sayang dan tumpuan harapan kedua orang tua.

Mansur Malik dalam tulisannya di Buku "Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat" (1981) yang diterbitkan Islamic Center Sumatera Barat menyebut, Abdurrahman sudah berkemauan keras, cerdas dan cakap sejak berusia kecil.

Di usia 15 tahun, sekitar tahun 1792, ia minta izin kepada orang tua untuk belajar agama pada Syekh Galogandang di Batusangkar. Bertahun-tahun di sana, ia kemudian berangkat berjalan kaki ke Tapak Tuan, Aceh.

Di Aceh, Abdurrahman belajar pada Syekh Abdur Rauf sekitar 8 tahun, sebelum kemudian memutuskan berangkat ke Mekkah untuk naik haji. Di Mekkah, Abdurrahman tinggal selama 7 tahun untuk memperdalam pengetahuan agama.

Setelah merantau 48 tahun, Syekh Abdurrahman pulang ke Batuhampar dalam usia 63 tahun. Sesampai di kampung halaman, ia melihat masyarakat yang telah beragama Islam belum menjalankan tuntunan agama sebagaimana mestinya. Judi dan sabung ayam marak, masjid sepi tak berjamaah.

Syekh Abdurrahman melakukan pendekatan bertahap. Sikap ramah dan pemurahnya adalah modal meraih simpati masyarakat. Sejak anak-anak, penyabung ayam, hingga petinggi adat ia rangkul, untuk meramaikan masjid.

Ia kemudian mendirikan surau. Mulai mengajar ilmu tilawatil Qur'an, tuntunan salat dan ilmu tauhid. Namanya makin besar. Murid datang dari berbagai penjuru, sampai dari Jambi, Palembang dan Bengkulu. Rumah penduduk ramai karena diinapi murid-murid Syekh.

Karena sudah tak muat di rumah penduduk, di areal sekitar 3 hektare Syekh Abdurrahman membangun komplek pemukiman untuk murid-muridnya yang dinamakan kampung dagang. Banguna utama di bagian tengah, dikelilingi puluhan surau tempat menginap murid-muridnya.

Komplek itu makin lama makin megah, saat Syekh Arsyad, anak yang kelak menjadi pelanjut Syekh Abdurrahman mendirikan bangunan utama bergaya timur tengah dengan menara. Berhadapan dengan bangunan itu, Syekh Abdurrahman mendirikan masjid untuk beribadah sekaligus mengajar agama.

"Jumlah murid yang belajar pada Syekh Abdurrahman mencapai 1.000-2.000 orang. Jumlah tertinggi santri yang belajar di komplek tersebut terjadi pada masa Syekh Arsyad yang kemudian menggantikan Syekh Abdurrahman," tulis Malik.

Santri yang disebut orang siak tersebut belajar tanpa dipungut biaya. Surau hidup dari sumbangan masyarakat, baik yang anaknya belajar di sana maupun tidak.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra dalam "Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di tengah Tantangan Milenium III" menulis, sistem yang dibangun Syekh Abdurrahman merupakan surau besar yang benar-benar mirip pesantren.

Menurutnya, Surau Batuhampar mewariskan kekayaaan historis keberhasilan sistem pendidikan surau dalam mengembangkan kaum ulama di Minangkabau.

"Sejauh data sejarah yang ada, surau Syekh Abdurrahman di Batuhampar dapat dikatakan merupakan representasi dari sistem 'pesantren' ala Minangkabau. Memang banyak surau lain di Minangkabau pada periode yang sama, tetapi dari segi kelengkapan sarana dan fasilitas, Surau Batuhampar kelihatannya tetap nomor wahid," tulis Azyumardi.

Wafat di usia 122 tahun, Syekh Abdurrahman meninggalkan nama besar karena telah mendidik ribuan orang dengan sistem pendidikan surau yang digagasnya. Beberapa di antara murid Syekh, kemudian menjadi ulama. Mereka adalah Syeikh Salim Batubara, Syekh Ibrahim Kubang dan Syekh Sulaiman Ar Rasuli (Inyiak Canduang).

Dan, meski tak pernah melihatnya, nama Syekh Abdurrahman tetap terbawa, ketika sejarah mematri nama Mohammad Hatta, cucunya, jadi salah seorang proklamator yang memerdekaan negeri ini. (HM)

Artikel ini diolah kembali dan diterbitkan ulang dari artikel sebelumnya: Syekh Abdurrahman Batuhampar: Kakenda Bung Hatta, Penggagas Sistem Pesantren Surau

Baca Juga

Ahli Faraidh yang Kokoh dan Bersemangat Itu Telah Berpulang
Ahli Faraidh yang Kokoh dan Bersemangat Itu Telah Berpulang
Syekh Muhammad Sa'ad Mungka: Syaikhul Masyaikh Ulama Minangkabau
Syekh Muhammad Sa'ad Mungka: Syaikhul Masyaikh Ulama Minangkabau
Jejak Intelektual Syekh Mudo Abdul Qadim: Ulama Besar Penyebar Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Sammaniyah
Jejak Intelektual Syekh Mudo Abdul Qadim: Ulama Besar Penyebar Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Sammaniyah
“Demokrasi Kita” Sebuah Pesan untuk Masa Depan
“Demokrasi Kita” Sebuah Pesan untuk Masa Depan
2 Mahasiswa Bung Hatta Lulus Ikuti Program Sakura Science di Saga University Jepang
2 Mahasiswa Bung Hatta Lulus Ikuti Program Sakura Science di Saga University Jepang
Langgam.id - Seiring perkembangan zaman, Museum Bung Hatta kini bisa dinikmati secara virtual dalam bentuk platform Metaverse.
Museum Bung Hatta Kini Tampil Virtual Berbasis Metaverse