Langgam.id — Dunia olahraga Sumatera Barat kehilangan dua tokoh yang selama ini dikenal memiliki dedikasi besar dalam pembinaan dan prestasi olahraga. Ustadz Drs. H. Munandar Maska dan legenda angkat berat Thio Hok Seng meninggal dunia pada waktu yang hampir bersamaan, meninggalkan duka mendalam bagi insan olahraga di Ranah Minang.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia Sumatera Barat, Hamdanus, mengatakan Sumatera Barat kehilangan dua sosok panutan yang telah mengabdikan hidup mereka untuk olahraga.
“Sumatera Barat kehilangan dua tokoh olahraga yang sangat kami hormati. Seorang adalah wasit dan pelatih karate yang berdedikasi, penuh pengalaman, pribadi yang menyejukkan dan penuh keteladanan. Seorang lagi adalah legenda angkat berat Sumbar yang sudah mendunia,” ujar Hamdanus, Selasa (12/5/2026).
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Hamdanus bersama jajaran KONI Sumbar mendatangi dua rumah duka. Mereka terlebih dahulu mengikuti prosesi pemakaman Munandar Maska di Masjid Raya Ganting, Padang, sebelum melanjutkan takziah ke rumah duka Hok Seng di kawasan Pondok.
Wafat Saat Bertugas di Kejurnas Karate
Munandar Maska meninggal dunia saat menjalankan tugas sebagai wasit dalam Kejuaraan Nasional Karate di Bandung, Jawa Barat. Almarhum sempat tak sadarkan diri di arena pertandingan sebelum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 17.05 WIB.
Munandar lahir di Padang pada 30 Agustus 1962. Selain aktif di dunia olahraga, ia juga dikenal sebagai tokoh dakwah dan pembina masyarakat. Alumnus UIN Imam Bonjol Padang itu juga pernah menjadi pengurus Masjid Raya Ganting, salah satu masjid tertua di Indonesia.
Di mata rekan-rekannya, Munandar dikenal sebagai pribadi hangat dan dekat dengan banyak kalangan. Jenazahnya diterbangkan dari Bandung ke Padang pada Selasa pagi sebelum dishalatkan di Masjid Raya Ganting, tempat yang selama ini juga menjadi bagian dari pengabdiannya.
Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan seorang cucu.
Hok Seng dan Jejak Prestasi Dunia
Sementara itu, kepergian Hok Seng juga meninggalkan kehilangan besar bagi olahraga Sumbar. Namanya dikenal sebagai salah satu atlet angkat berat terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Karier Hok Seng mulai menanjak setelah tampil pada Pra-PON 1984. Setahun kemudian, ia sukses mempersembahkan medali emas bagi Sumatera Barat pada PON XI di Jakarta.
Prestasinya terus berlanjut di level internasional. Pada Kejuaraan Dunia Angkat Berat 1987 di Lima, Peru, Hok Seng meraih medali emas dunia. Capaian itu kembali dipertahankannya pada 1988 di Luksemburg.
Di Jerman, ia juga mencatatkan rekor deadlift 226 kilogram yang mengukuhkan namanya sebagai atlet angkat berat kelas dunia.
Namun perjalanan hidup Hok Seng selepas pensiun jauh dari sorotan. Ia menjalani berbagai pekerjaan demi menghidupi keluarga, mulai dari membantu pengurusan surat kendaraan hingga melatih atlet muda.
Sejak 2010, Hok Seng tetap mengabdikan dirinya sebagai pelatih angkat berat dengan penghasilan sederhana. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial di organisasi Himpunan Tjinta Teman (HTT).
Bagi banyak insan olahraga di Sumbar, Hok Seng bukan hanya simbol prestasi, tetapi juga keteguhan menjalani hidup setelah masa kejayaan berlalu.
Hamdanus berharap keluarga kedua almarhum diberikan ketabahan menghadapi kehilangan tersebut.
“Semoga amal ibadah almarhum H. Munandar Maska diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Untuk Hok Seng, semoga tenang di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Hamdanus.






