Suhatril Rangkayo Basa: Model Pembangunan Nagari dan Pengabdian

Suhatril Rangkayo Basa: Model Pembangunan Nagari dan Pengabdian

Andrezal. (Foto: Dok. pribadi)

Pada sebuah kesempatan, penulis bertemu dengan Suhatril Rangkayo Basa dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Andalas pada hari Sabtu (12/10/2022).  Rombongan pengabdian bertemu dengan Suhatril di Kejulasi. Sebuah usaha yang dia dirikan dan sekarang bergerak di pengolahan produk susu serta wisata edukasi. Tepatnya di Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam.

Kejulasi bukan lagi sebuah nama baru. Usaha ini telah cukup dikenal karena memiliki produk unggulan berupa keju mozzarella. Sebuah terobosan baru dalam industri pengolahan susu lokal. Kehadiran Kejulasi bertujuan untuk meningkatkan potensi pertanian dan peternakan lokal dengan menyerap produk masyarakat ke dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Selain itu, lokasi Kejulasi juga sangat strategis karena berada di kaki Gunung Merapi. Spot view utamanya adalah Gunung Merapi yang terlihat sangat dekat. Kontur gunung dan sebaran pepohonan terlihat sangat jelas. Tidak hanya itu di kejauhan juga terlihat gugusan Bukit Barisan yang tidak kalah memikat mata. Udara yang sejuk serta jauh dari kebisingan kota menjadi alasan yang tepat untuk berkunjung ke sini.

Dalam sesi diskusi kegiatan ini, Ketua Pengabdian Dr. Apriwan, S.Sos., M.A mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai kegiatan industri susu milik Suhatril. Salah satu pertanyaannya ialah, “apakah Kejulasi mempertimbangkan dampak lingkungan?”. Suhatril menjelaskan isu lingkungan memang salah satu hal yang sedang diusahakan, “secara marketing (kami) memang mengembangkan isu tersebut”. Diskusi terus berjalan. Sharing knowledge dari kedua pihak telah menyoroti hal-hal lebih dasar seperti kebijakan pemerintah, model pembangunan dan ide pengabdian.

Selain pelaku UMKM, Suhatril ternyata juga menjadi Ketua Forum UMKM Agam dan Penyuluh Pertanian Organik. Dari pengamatannya di bidang pertanian. Dia menyimpulkan bahwa ada benang merah antara pertanian dan UMKM untuk pembangunan nagari. Menurutnya pertanian dan peternakan adalah potensi nyata bangsa ini. Dengan sumberdaya manusia yang tidak banyak menempuh pendidikan tinggi. Sektor ini mampu menghasilkan produk terus menerus.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi sektor pertanian sebesar 12,98% PDB kuartal II tahun 2022. Dia mengajak rombongan pengabdian membayangkan, sebesar apa dampak yang dihasilkan oleh pertanian jika para pelakunya telah mengenyam pendidikan tinggi? Dari sana kita sepakat bahwa peternakan dan pertanian memiliki potensi sangat besar untuk ekonomi negara. Jika dijalankan dengan terencana dan serius.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dampak dari kebijakan pemerintah saat ini untuk pertanian? Suhatril melihat “kebijakan pemerintah banyak yang tidak tepat sasaran”. Upaya untuk meningkatkan hasil produksi terus didorong. Padahal masalah utama di lapangan adalah pasca panen. Saat panen raya, produk pertanian yang melimpah tidak semuanya terserap pasar. Pemertintah juga tidak memberikan jaminan untuk hasil panen. Ada yang terputus antara hulu dan hilir dalam hal ini.

Kebijakan pemerintah yang bersifat top down idealnya mampu mengatasi permasalahan pertanian ini. Namun banyaknya kepentingan yang bersaing di pemerintah pusat membuat pemerintah daerah harus memaksimalkan peran. Daerah harus mampu membangun sendiri kepentingannya, “pembangunan daerah harus dibangun nagari” begitulah tegasnya. Namun di nagari-nagari juga muncul polemik mengenai relevansi tradisi merantau dengan keadaan nagari saat ini.

Banyaknya anak muda keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan ataupun mencari pekerjaan menjadi masalah di nagari hari ini. Potensi pertanian dan pengembangan UMKM menjadi tidak bisa dimaksimalkan. Menurut Suhatril, harus ada pembagian peran yang jelas. Petani mengurus hal-hal pertanian dari proses tanam hingga panen. UMKM betugas menyerap hasil produksi pertanian, melakukan pengolahan dan pemasaran. Petani tidak bisa melakukan dua tugas sekaligus. Selain itu petani umumnya adalah generasi yang tidak akrab dengan pengoperasian teknologi.

Di masa sekarang, kecanggihan teknologi memberikan peluang besar dalam pemasaran produk. Anak muda harus mengambil peran ini, mereka cepat belajar dan memiliki waktu lebih banyak serta memiliki akses pada berbagai hal hebat yang disediakan internet. Oleh karena itu anak muda harus tetap di nagari untuk memaksimalkan potensi nagari mereka masing-masing. Nagari harus mampu menyasar anak muda untuk pelatihan pemasaran produk dan sebagainya.

Bagaimana dengan generasi muda yang melanjutkan pendidikan? Nagari harus memberikan perhatian khusus, membangkitkan kesadaran mereka dan membangun ikatan dengan nagari. Pada tahap lebih nyata, nagari bisa memberikan bantuan pendidikan kepada mereka. Dengan begitu kesadaran mereka akan tanggung jawab atas nagari akan terbentuk. Maka persoalan pertanian, merantau dan pertumbuhan UMKM bisa diselesaikan.

Lebih jauh dari itu, petani-petani harus diorganisasikan menjadi kelompok ekonomi kecil. Daya beli mereka harus diarahkan untuk mengkonsumsi produk UMKM lokal. Memastikan UMKM tetap hidup. Selain itu juga berfungsi menyeragamkan kualitas produk sesuai permintaan UMKM. Pengorganisasian paling tepat menurut penulis adalah koperasi. Secara garis besar bisa dibentuk koperasi petani (bahan dasar), koperasi produksi (UMKM), dan koperasi konsumsi. Tujuannya adalah membentuk ekosistem dan memastikan perputaran uang tidak terbuang keluar daerah. Koperasi juga menekankan keadilan, semua anggota adalah pekerja sekaligus pemilik modal.

Dan upaya-upaya itu telah dibuktikan Suhatril dengan caranya di Kejulasi. Sejak berdiri sampai sekarang, perkembangan Kejulasi berjalan positif. Dia berharap pemerintah bisa lebih serius dalam hal pembangunan daerah serta mendukung pertanian organik yang murah. Kejulasi bisa dijadikan bahan percontohan bagi pemerintah dalam pembangunan pertanian dan UMKM lainya. Selain produk pengolahan susu, Kejulasi juga melakukan pembinaan pada kelompok petani milenal yang memproduksi pupuk organik.

Dia mengingatkan, upaya ini adalah bentuk dari pengabdian dan pembinanaan masyarakat. Hal semacam ini memang bukan sesuatu yang menggoda bagi pemerintah. Isu pertanian dan pembangunan ekonomi kerakyatan membutuhkan waktu dan keseriusan berkelanjutan dalam prosesnya. Sedangkan para elit membutuhkan daya ledak untuk mendorong elektabilitas mereka di dunia perpolitikan.

Terahkir, dia mengatakan hendak mencoba menyuarakan lagi idenya tersebut di politik lewat pemilu 2024 nanti. Tujuannya jelas, merealisasikan idenya secara luas untuk pembangunan daerah, memaksimalkan potensi pertanian dan mendorong pertumbuhan UMKM. Dari pertemuan ini, penulis mendapatkan pelajaran penting. Pengabdian adalah sebuah kerja abadi, kerja yang benar-benar memberi arti dan penuh kesadaran untuk kebaikan masyarakat luas. (*)

Andrezal adalah mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Andalas

Ikuti berita terbaru dan terkini dari Langgam.id. Anda bisa bergabung di Grup Telegram Langgam.id News Update di tautan https://t.me/langgamid atau mengikuti Langgam.id di Google News pada tautan ini.

Tag:

Baca Juga

Dekranasda Gandeng Perantau Perluas Pasar IKM Payakumbuh
Dekranasda Gandeng Perantau Perluas Pasar IKM Payakumbuh
Mahasiswa Unand Rintis Start-Up untuk Bantu UMKM
Mahasiswa Unand Rintis Start-Up untuk Bantu UMKM
Strategi Peningkatan Nilai Jual Produk UMKM
Strategi Peningkatan Nilai Jual Produk UMKM
Jokowi Sumbar, pengamat,
Pemuda, Politik dan Sumatera Barat
Muhammadiyah Sumbar Pasca Muswil 42
Surau yang Terlanjur Roboh dan Masjid yang Tidak Utuh
Pentingnya Desain Kemasan dalam Pemasaran Produk
Pentingnya Desain Kemasan dalam Pemasaran Produk