Semangkuk Warisan Bapak: Daging Garing yang Menjaga Rasa Soto Roda Jaya Sejak 1968, Berawal dari Jualan Gerobak

Langgam – Hujan mengguyur Kota Padang sejak malam hingga pagi, Minggu (27/9/2026). Di tengah udara yang masih menyisakan dingin dan jalanan yang basah, rasa lapar membawa langkah menuju sebuah warung soto di Jalan Tepi Pasang, Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat.

Namanya Soto Minang Roda Jaya. Dari kawasan Alai Parak Kopi, perjalanan menuju warung itu melewati tepian pantai kota, berbelok di sekitar Masjid Raya Al Hakim, menyusuri arah Jembatan Siti Nurbaya, lalu memutar melewati Simpang Enam. Dengan bantuan petunjuk digital, kurang dari 10 menit kemudian, warung di dekat Simpang Kinol itu terlihat.

Dinding luarnya berwarna putih. Bagian dalamnya memadukan merah dan putih. Di bagian atas depan bangunan, sebuah gonjong berdiri tegak, menaungi papan nama bertuliskan Soto Minang.

“Bungkus atau makan di sini?” sapa seorang pegawai dari balik meja kasir.

Pilihan jatuh pada kursi paling belakang, berdekatan dengan dapur tempat semangkuk soto diracik.

Di sana, tangan-tangan pekerja bergerak cepat. Potongan daging garing tersimpan dalam toples bening bertutup hijau. Daging lunak dan paru ditempatkan dalam dua wajan berbeda. Di atas meja, kuah kaldu terus mendidih. Asapnya mengepul, memenuhi ruang dapur dengan aroma rempah dan kaldu sapi.

Tidak sampai tiga menit, semangkuk soto tiba di meja. Kuahnya bening kekuningan, ditaburi seledri cincang. Di sampingnya terdapat sepiring nasi putih dengan taburan bawang merah goreng dan pecahan kerupuk merah.

Sendok pertama mengangkat kuah yang masih mengepul. Warna keemasannya memperlihatkan jejak kaldu sapi yang berpadu dengan kapulaga, pala, dan serai.

Di dalam mangkuk, potongan daging hadir dengan tekstur berbeda. Daging garing memberi sensasi renyah ketika digigit. Daging lunak terasa kenyal namun mudah dikunyah. Sementara paru sapi menyumbang rasa khas jeroan dengan sentuhan asin.

Potongan kentang pipih dan bihun melengkapi isi mangkuk. Tidak diperlukan tambahan cabai merah atau kecap manis. Rempah yang larut dalam kuah sudah membawa rasa sendiri. Di balik semangkuk soto itu, ada resep keluarga yang telah dijaga sejak 1968.

Asri Efendi (48), yang akrab disapa Ipen, bersama kakaknya, Nurfizali (58), merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga tersebut. Keduanya adalah dua dari empat bersaudara anak Buyusaf Zalvitan, perintis Soto Roda Jaya.

Bagi Ipen, ada satu hal yang membuat racikan keluarganya berbeda: daging garing.

“Yang membedakan Soto Roda Jaya itu ada pada daging garing. Mungkin kami yang bisa membuat, sementara yang lain tidak. Kalaupun ada yang mirip, itu adalah bekas anggota kami,” ujar Ipen.

Menurut dia, soto lain bisa saja menyajikan daging lunak dan paru. Namun, Roda Jaya menyatukan ketiganya dalam satu mangkuk.

Daging garing itu tidak lahir dari proses singkat. Daging sapi terlebih dahulu direbus, kemudian digoreng hingga kering. Bumbu yang digunakan merupakan racikan keluarga.

Bahan bakunya pun dijaga sejak awal. Daging sapi yang digunakan merupakan daging segar dari pemotongan harian, bukan daging beku atau persediaan lama. Pasokannya diperoleh dari rumah potong yang telah menjadi langganan sejak usaha ini berdiri pada 1968.

Setiap pagi, bahan-bahan dibeli ke pasar. Tidak ada bahan sisa dari hari sebelumnya. Sesampainya di warung, proses memasak dimulai. Empat jam diperlukan untuk menyiapkan seluruh racikan, sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB.

“Kami tidak buka pagi pagi karena tidak akan terkejar pembuatannya. Jadi warung dibuka pukul 11.00 siang dan baru ditutup menjelang tengah malam,” katanya.

Waktu buka warung menjadi bagian dari ritme dapur yang telah berlangsung bertahun-tahun. Ada waktu untuk memilih bahan, mengolah daging, meracik bumbu, hingga memastikan kuah siap disajikan.

Namun dari seluruh proses itu, kuah menjadi bagian yang paling dijaga. “Insyaallah kami mempertahankan rasa ini karena yang meracik soto ini hanya dua lidah orang, saya dan kakak. Yang lain tidak boleh mengolah kuah,” tegas Ipen.

Jika Nurfizali berhalangan karena bepergian atau sakit, Ipen mengambil alih sendiri proses pengolahan kuah.

Bagi keluarga ini, rasa bukan sekadar hasil dari resep tertulis. Ada kebiasaan mencicipi, mengenali bumbu, dan memastikan rasa yang keluar dari tungku tetap berada pada jalurnya.

“Samoa salera kita ini, kemana pun kita makan pasti. Kalau lidah orang kita pasti ada terasa garam, cuka, apapun rasanya soto apapun bahannya itu harus dirasakan ada rasonya sadonya,” kata Ipen saat menjelaskan easa soto buatannya.

Dari Gerobak di Pasar Raya Padang

Cerita Soto Roda Jaya bermula dari Buyusaf Zalvitan, ayah Ipen dan Nurfizali. Buyusaf merintis usaha tersebut ketika berusia 35 tahun. Sebelum memiliki usaha sendiri, ia bekerja sebagai pegawai atau buruh di warung soto milik orang lain.

Pengalaman dari pekerjaan itu menjadi bekal ketika ia memutuskan berdagang sendiri. Ia mulai meracik bumbu dan mengolah soto dengan racikan yang dibuatnya sendiri.

Pada masa awal, soto dijajakan menggunakan gerobak dorong di kawasan Pasar Raya Padang. Saat itu, usaha tersebut dikenal dengan nama Minang Baroda.

“Kata Baroda itu diambil dari kata gerobak,” ujar pria asal tapin Danau Singkarak itu.

Gerobak menjadi titik awal perjalanan usaha keluarga tersebut sebelum kemudian berpindah ke tempat permanen.

Pada 2000, keluarga Buyusaf mengambil alih sebuah tempat di Jalan Tepi Pasang, Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, tepatnya di kawasan Simpang Kinol.

Sejak menempati lokasi tersebut, nama usaha berubah menjadi Soto Minang Roda Jaya.

Nama itu kemudian melekat pada warung yang hingga kini tetap berada di lokasi yang sama.

Ipen menegaskan, keluarga mereka tidak pernah membuka cabang di tempat lain. Jika ada pihak yang menggunakan nama Minang Baroda atau mengatasnamakan cabang lain, menurut dia, tempat tersebut bukan bagian dari dapur keluarga mereka.

Dua Bersaudara Menjaga Tungku

Dari empat bersaudara anak Buyusaf, dua laki-laki dan dua perempuan, hanya Ipen dan Nurfizali yang meneruskan usaha soto. Dua saudara perempuan mereka memilih mengikuti suami masing-masing.

“Dua saudara perempuan saya mengikuti suaminya masing masing,” ujarnya.

Kini, Ipen dan Nurfizali menjadi dua orang yang menjaga resep peninggalan ayah mereka.

Harga seporsi Soto Roda Jaya mengikuti kondisi bahan baku di pasaran. Saat ini, seporsi soto dengan nasi untuk makan di tempat dibanderol Rp34.000. Untuk dibungkus, harganya Rp40.000 tanpa nasi dan Rp50.000 jika ditambah nasi.

Di tengah perjalanan usaha yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, muncul pertanyaan tentang siapa yang akan meneruskan resep tersebut.

Apakah resep yang dirintis Buyusaf sejak 1968 akan berpindah ke generasi ketiga? Ipen tersenyum tipis ketika membicarakannya.

Ada perubahan zaman yang ia lihat di sekitar usaha keluarganya. Anak-anak muda dinilai lebih banyak tertarik pada bisnis modern dan makanan siap saji. Sementara kuliner tradisional membutuhkan waktu, ketekunan, dan proses panjang untuk menjaganya tetap hidup.

Karena itu, keberlanjutan resep keluarga tersebut belum memiliki kepastian. Yang tersisa hari ini adalah semangkuk soto yang masih dibuat dengan bahan segar, kuah yang hanya diracik oleh dua orang, serta daging garing yang menjadi penanda sejak usaha itu dirintis.

Di dapur kecil di Jalan Tepi Pasang, warisan itu masih mengepul dari sebuah mangkuk.

“Harapan kami, makanan legendaris ini tidak hilang di Sumatra Barat, karena saingan makanan tradisional kini banyak makanan modern, sehingga generasi saat ini banyak yang tidak tahu lagi dengan makanan asal Minangkabau, jadi semoga ke depannya makanan tradisional ini tidak hilang,” imbuhnya. (ICA)

Baca Juga

Sedapnya Rendang Pak Gole, Setia Menjaga Rasa Sejak 1950 hingga Digemari Pelanggan Mancanegara
Sedapnya Rendang Pak Gole, Setia Menjaga Rasa Sejak 1950 hingga Digemari Pelanggan Mancanegara
Kawasan Padang Teater Pasar Raya, Rabu (16/9/2026)/ Foto: Langgam/Fajar
Pemko Alokasikan Rp450 Juta untuk Penataan Padang Teater Jadi Pusat Kuliner
Disdikbud menginteruksikan siswa memakai masker untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.
Pemko Padang Tetapkan PJJ Sampai Jumat Imbas Udara Memburuk
Kawasan Padang Teater Pasar Raya, Rabu (16/9/2026)/ Foto: Langgam/Fajar
Revitalisasi Pasar Raya, Pemko Bakal Ubah Padang Teater Jadi Pusat Kuliner
PJJ Berakhir, Disdik Kota Padang Putuskan Sekolah Tatap Muka
PJJ Berakhir, Disdik Kota Padang Putuskan Sekolah Tatap Muka
Komisi X DPR RI Tinjau Rehabilitasi Sekolah Terdampak Banjir Padang
Komisi X DPR RI Tinjau Rehabilitasi Sekolah Terdampak Banjir Padang