Seabad Gempa Padang Panjang, Sekolah Pascasarjana Unand Ajak Publik Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Langgam.id – Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (Unand) menggelar Lecture and Learning Session Series #46 bertema Seabad Gempa Padang Panjang: Menguatkan Kesiapsiagaan Masa Kini di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid itu menghadirkan Sekretaris Utama BNPB RI Rustian, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi, serta penulis buku Gempa Tujuh Hari, Yose Hendra.

Dalam pemaparannya, Rustian mengingatkan bahwa Sumatra Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi.

“Berdasarkan catatan sejarah, sejak 1797 hingga 2022 sedikitnya telah terjadi sembilan gempa besar, mulai dari gempa dan tsunami megathrust Mentawai 1797, gempa megathrust 1833, Gempa Padang Panjang-Lembah Anai 1926, Gempa Pasaman 1977, Gempa Kerinci-Solok Selatan 1995, Gempa Solok-Tanah Datar 2007, Gempa Padang 2009, Gempa dan tsunami Mentawai 2010, hingga Gempa Pasaman Barat 2022,” katanya.

Menurutnya, rangkaian bencana tersebut menunjukkan bahwa masyarakat terutama kelompok berpenghasilan rendah, masih memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman gempa bumi.

“Karena itu, pengurangan risiko bencana perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang,” ujarnya.

Rustian juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai bagian dari strategi mitigasi. Ia mencontohkan rumah panggung tradisional Minangkabau yang memiliki karakter konstruksi adaptif terhadap gempa.

“Desain tiang rumah yang tidak ditanam langsung ke tanah membuat bangunan dapat mengikuti arah guncangan gempa. Prinsip ini memiliki kemiripan dengan konsep base isolator yang digunakan pada teknologi bangunan modern saat ini,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi memaparkan pembelajaran dari penanganan pascagempa Padang 2009. Ia menyebut bencana tersebut mengakibatkan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan, baik kategori ringan, sedang maupun berat.

Menurut Dody, proses pemulihan pascagempa melahirkan sejumlah pembelajaran penting, di antaranya inovasi teknologi konstruksi, perbaikan standar bangunan dan kualitas pembangunan, pembenahan tata kelola perizinan bangunan, peningkatan kapasitas tenaga tukang, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya bangunan tahan gempa.

“Tantangan ke depan adalah bagaimana mempertahankan kesadaran dan kehati-hatian masyarakat agar tidak menurun seiring berjalannya waktu,” ungkapnya.

Pada sesi bedah buku, Yose Hendra menjelaskan alasan pentingnya mengkaji gempa dari perspektif sejarah.

Menurutnya, masyarakat Sumatra Barat hidup berdampingan dengan sistem tektonik yang hingga kini masih aktif, baik akibat Zona Subduksi Mentawai maupun keberadaan Sesar Sumatra di daratan.

Ia menjelaskan bahwa sejarah memperlihatkan gempa besar di jalur Sesar Sumatra cenderung berulang, seperti yang terjadi pada 1822, 1926, dan 2007 di segmen Sumani-Sianok.

“Selain itu, wilayah ini juga mengenal fenomena doublet earthquake, yakni dua gempa utama yang terjadi berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar yang berbeda,” tuturnya.

Yose mengungkapkan, gempa 28 Juni 1926 menjadikan Padang Panjang sebagai wilayah dengan dampak paling parah sehingga dikenal sebagai Gempa Padang Panjang.

“Sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan 1.709 rumah berada di wilayah X Koto. Sebanyak 247 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk 220 korban di Padang Panjang dan X Koto,” ucap Yose.

Penjelasan Yose, kerusakan juga meluas hingga Fort de Kock (Bukittinggi), Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, dan Lubuk Sikaping.

“Kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai sekitar 10 juta gulden,” imbuhnya.

Ia menambahkan, istilah “Gampo Tujuh Hari” lahir karena setelah gempa utama pada 28 Juni 1926, ratusan gempa susulan terus terjadi selama berhari-hari.

“Getaran bahkan masih dirasakan hingga Agustus 1926 dengan sedikitnya 56 gempa berkekuatan cukup kuat,” tuturnya.

Menurut Yose, istilah tersebut kemudian menjadi memori kolektif masyarakat Minangkabau mengenai salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi pada abad ke-20.

“Nama “Gampo Tujuh Hari” dipopulerkan melalui berbagai pemberitaan media pada masa itu dan diperkuat oleh penyebutan anggota Volksraad Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo dalam percakapannya dengan ahli zoologi Edward Richard Jacobson,” pungkasnya. (WAN)

Baca Juga

Mengenang Seabad Gempa Dahsyat Padang Panjang, Yose Hendra Luncurkan Buku Gempa Tujuh Hari
Mengenang Seabad Gempa Dahsyat Padang Panjang, Yose Hendra Luncurkan Buku Gempa Tujuh Hari
Ahli Geologi Sumatra Barat (Sumbar), Ade Edward meminta masyarakat untuk selalu memantau perkembangan dari gempa terkait dengan evakuasi
Belajar dari Venezuela, Sumbar Diingatkan Tragedi Gempa Kembar Guncang Padang Panjang 1926
Ahli Geologi Sumatra Barat (Sumbar), Ade Edward meminta masyarakat untuk selalu memantau perkembangan dari gempa terkait dengan evakuasi
BMKG: Gempa Bermagnitudo 4,7 Guncang Padang Dipicu Sesar Mentawai 
Tiga kali gempa beruntun terjadi di Sumatra Barat pada Jumat (2/5/2025). Dua kali mengguncang Padang Panjang dan satu kali terjadi
Gempa M 4,7 Guncang Padang hingga Kagetkan Warga 
Dinilai Masih Kurang, Pemerintah Diminta Lengkapi Infrastruktur Mitigasi Bencana
Gempa Magnitudo 4,3 Guncang Padang dan Padang Pariaman, Ini Penjelasan BMKG
Aktivitas gempa bumi di Sumatra Barat meningkat dalam sepekan terakhir. BMKG mencatat, pada periode 10-16 Oktober 2025 terdapat 57 kali
Gempa M4,7 Guncang Bonjol Pasaman