Saat Petani Solok Bertahan Hidup dari Sisa Bencana

Oktavinus Warga Nagari Manggu Tana mengumpulkan pasir yang menimbun sawah usai diterjang banjir bandan, Senin 30 Maret 2026. Abdul Latif

Oktavinus Warga Nagari Manggu Tana mengumpulkan pasir yang menimbun sawah usai diterjang banjir bandan, Senin 30 Maret 2026. Abdul Latif

Di atas hamparan sawah yang mati tertimbun material bencana banjir bandang di Nagari Selayo, Kabupaten Solok Sumatera Barat mulai dipadati oleh sejumlah pria dewasa dengan dada telanjang. Mereka yang dulunya ke sawah membawa cangkul, kini berganti dengan menenteng sekop. 

Di antara kerumunan itu, Oktavianus (54) dengan tubuh legam terbakar matahari berkilat oleh keringat. Tangannya yang kekar menggenggam sekop, mengayunkannya berulang kali ke dalam timbunan pasir setinggi lutut. 

Ia tidak sendiri. Di sekelilingnya, tiga orang lain bekerja: satu menggali dengan cangkul, dua mendorong gerobak ke pinggir jalan, satu lagi memasukkan material ke dalam bak truk yang sudah menanti.

 “Bukan banting setir, tapi apa boleh buat. Yang penting halal. Kebetulan banyak material pasir dan batu kecil tertimbun di sawah, kami manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya kepada Langgam.id pada Jumat (19/04/2026).

Bagi Oktavianus dan puluhan warga Jorong Munggu Tanah, material galodo yang menimbun sawah mereka adalah dilema. Di satu sisi, material itu harus disingkirkan agar sawah bisa kembali ditanami. Di sisi lain, menyingkirkan material butuh biaya besar menyewa alat berat, membeli bahan bakar, membayar pekerja. 

Material yang menimbun sawah itu dimanfaatkan untuk dijual kepada sopir truk yang datang mencari muatan. Uang hasil penjualan digunakan untuk biaya hidup sehari-hari dan, ironisnya, untuk membiayai pembersihan lanjutan sawah yang sama.

“Sawah yang dulu memberi kami beras, sekarang materialnya kami jual dulu agar bisa kembali menanam beras,” kata Oktavianus dengan senyum getir.

Dalam sehari, Oktavianus dan kelompoknya bisa menghasilkan sekitar empat hingga enam meter kubik material siap jual. Harga di tingkat pengumpul adalah Rp90.000 per meter kubik. Jika dibagi rata, setiap anggota kelompok bisa membawa pulang sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.

“Lumayanlah untuk ganti uang yang sudah terpakai rehab sawah,” ujar Oktavianus.

Oktavianus tidak sendirian. Sejak awal Ramadan, ia bergabung dengan kelompok warga yang melakukan pembersihan material di sawah-sawah terdampak. Setiap hari, tubuhnya yang legam terbakar matahari harus berpacu dengan terik dan debu yang beterbangan.  

“Kemampuan kami cuma ini. Mau kerja apa lagi? Paling tidak, sambil membersihkan sawah sendiri, kami bisa dapat uang untuk makan hari ini,” katanya singkat.

Bagi Rido (27), sopir truk pasir keberadaan para “pembersih lahan” dadakan ini adalah berkah tersendiri. Sebelum bencana, ia biasa mencari muatan pasir di areal tambang yang berjarak puluhan kilometer dari Nagari Selayo. Antrean di sana bisa sangat panjang. Kadang, ia harus menunggu hingga dua hari hanya untuk mendapatkan satu truk penuh material.

“Sekarang saya tinggal datang ke sini. Material sudah tersedia, tinggal muat. Tidak perlu waktu lama,” katanya. 

Lampiran Gambar

Rido membeli material dari kelompok Oktavianus dengan harga Rp90.000 per meter kubik. Hari itu, ia membawa enam meter kubik—satu truk penuh. Material itu akan ia bawa ke Singkarak, dijual kepada orang-orang yang sedang membangun pondasi rumah, atau ke proyek-proyek pembangunan kecil.

“Satu truk bisa saya jual Rp1.200.000. Nanti hasil penjualan dibagi lagi: untuk gaji saya sebagai sopir, setoran ke pemilik truk, dan biaya minyak solar,” jelasnya.

Rantai ekonomi darurat ini bergerak cepat. Setiap hari, setidaknya dua hingga lima truk hilir mudik dari Jorong Munggu Tanah mengangkut material sisa galodo. Uang berputar dari tangan sopir ke tangan warga, lalu dari tangan warga kembali ke lahan mereka sendiri dalam bentuk biaya pemulihan sawah.

“Ini sama-sama menguntungkan. Warga dapat uang, pemilik lahan sawahnya jadi bersih tanpa keluar biaya, saya juga dapat muatan mudah,” kata Rido.

Menanti Pemulihan Lahan

Sementara itu, Wakil Bupati Solok Chandra menyampaikan keprihatinannya atas kondisi masyarakat yang terdampak. “Ekonomi masyarakat terganggu karena masih ada yang gagal tanam dan panen musim ini,” ujarnya.

Candra menyebutkan, Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan biaya hidup bagi masyarakat terdampak. “Kurang lebih Rp8 juta per kepala keluarga untuk masyarakat yang terdampak,” sebutnya.

Namun, ia mengakui bahwa proses pemulihan lahan pertanian masih jauh dari kata selesai. Pihaknya berkeinginan agar pengolahan lahan yang belum dilaksanakan bisa dikebut, begitu pula rehabilitasi untuk lahan rusak sedang agar bisa segera ditanami kembali.

Candra juga mendorong masyarakat untuk sementara waktu membuat usaha mikro, kecil, dan menengah. Rencananya, sektor UMKM ini akan dibantu melalui Kementerian Koperasi atau Dinas Perdagangan. 

Terkait aktivitas pemanfaatan material galodo di sawah-sawah yang tertimbun, Chandra menegaskan bahwa hal itu secara aturan dilarang. “Sudah disurati ke Kejaksaan Negeri, kemudian oleh Dinas ESDM Provinsi bahwa tidak boleh menambang di daerah terdampak. Ini sudah disosialisasikan ke camat dan wali nagari,” tegasnya.

Namun, ia juga memberi ruang bagi realitas di lapangan. “Kalaupun ada, silakan sesuai aturan yang berlaku,” tambahnya.

Di sisi lain, Candra mengaku sudah menginstruksikan camat dan wali nagari di wilayah terdampak untuk  berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk mempercepat pembangunan bronjong dan normalisasi sungai. Sebab, sedimentasi di lokasi terdampak sudah sangat tinggi. 
“Saya sebetulnya sudah malu dengan masyarakat. Hampir tiap saat saya sampaikan ke atas, tetapi dinamika orang-orang di atas cukup berat. Akhirnya, masalah masyarakat belum terselesaikan,” ucapnya. (FIX)

Baca Juga

Tim gabungan melakukan pencarian pria lansia yang hilang. (Foto: BPBD Limapuluh Kota).
Berangkat ke Ladang, Pria Lansia di Limapuluh Kota Dilaporkan Hilang
Ketua DPD KSPSI Sumbar, Ruli Eka Putra. (Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id)
Gelombang Protes Buruh Sumbar: Upah Dipotong, Anggaran BPJS Diduga Digelapkan Perusahaan
Sejumlah warga menyeberangi sungai Batang Anai mengunakan rakit. (Foto: Camat 2x11 Kayu Tanam)
Jembatan Darurat Rusak Lagi, Putus Akses 3 Nagari di Padang Pariaman hingga Menyeberang Pakai Rakit
Puluhan massa buruh menggelar aksi damai di Kantor Gubernur Sumbar, Senin (4/5/2026). Foto: Buliza Rahmat/Langgam.id
Gubernur Sumbar Tak Muncul, Buruh Ancam Gelombang Demo Besar!
Berita Pessel - berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: Seorang tukang ojek ditangkap diduga melakukan pencabulan anak di bawah umur
Paman di Tanah Datar Cabuli dan Perkosa Keponakan: Tangan Diikat, Mulut Dibekap
Nini Mushani, calon jemaah haji melayani suaminya Syafei Nawa’an. Foto Humas Kemenhaj.
Penantian 14 Tahun Berbuah Haru, Pasutri Asal Padang Akhirnya Berangkat Haji