Power Media: Pembentukan Budaya dan Pola Pikir Generasi Muda

Power Media: Pembentukan Budaya dan Pola Pikir Generasi Muda

Fransiska Vazyabilla (Foto: Dok. Pribadi)

Pada zaman yang serba canggih dan penuh dengan perkembangan teknologi saat ini, media adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari generasi muda. Dalam perkembangannya, media memiliki power untuk mempengaruhi yang cukup besar. Baik budaya ataupun pola pikir akan mudah terpengaruh akibat besarnya peran dan power yang dimiliki oleh media. Baik pengaruhnya dari segi informasi, hingga hiburan yang ditampilkan. Pengaruh ini juga dapat membawa pada dampak positif dan negative bagi para penggunanya.

Media dapat membentuk budaya dalam masyarakat, bukan hanya membentuk, namun media juga dapat menghilangkan dan memudarkan budaya yang awalnya begitu kental di sebuah wilayah. Namun meski begitu, media juga menjadi ajang keberagaman pembentukan budaya bagi generasi muda di Indonesia. Salah satu contonya adalah, ketika maraknya lagu-lagu Kpop dan dance di kalangan generasi muda, media sosial menawarkan tempat untuk anak muda memperkenalkan tarian daerah yang di iringi dengan music dance terkini. Hal ini memperlihatkan bahwa pengaruh media memang sangat besar dalam berbagai aspek.

Dinamika teknologi media memainkan peran kunci untuk pembentukan budaya modern. Dimana media menyediakan platform bagi generasi muda yang ingin mengembangkan dan mengekpresikan keterampilan yang memengaruhi tren budaya. Namun dibalik kemudahan tersebut, media juga dapat membawa budaya yang bernuansa negative pada generasi muda. Media mampu menjangkau seluruh dunia, karenanya semua orang dapat melihat dan mempelajari budaya dari negara lain. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang perlahan berubah menjadi individualisme. Juga hal-hal lain seberti gaya hidup bebas dan aborsi yang perlahan menjadi biasa dikalangan generasi muda Indonesia.

Bukan hanya budaya, power media juga dapat mempengaruhi pola pikir generasi muda. Salah satunya pola pikir tentang paham feminisme yang digaungkan oleh orang-orang luar negri. Pengaruh media sangatlah besar untuk membuat paham ini dipahami sebagai sebuah paham yang menginginkan kesetaraan. Ketika media memberikan informasi tentang berbagai ketidakadilan gender yang dialami oleh kaum perempuan, lalu memunculkan paham feminisme, hal ini akan mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang generasi muda tentang gender dan hal-hal yang seharusnya dilakukan untuk mengurangi ketidakadilan tersebut.

Bukan hanya hal positif, power yang dimiliki media juga dapat membentuk pola pikir yang mengarah pada hal negative pada generasi muda. Salah satu contohnya adalah iklan-iklan yang beredar dimedia, yang secara tidak langsung membentuk stereotip pada pola pikir generasi muda dalam memandang peran perempuan ataupun laki-laki. Salah satunya adalah iklan tentang scencare yang banyak dilakoni oleh para perempuan, sehingga hal ini  membentuk pola pikir pada orang-orang bahwa scencare hanya untuk kaum perempuan. Hal ini akhirnya membawa stereotip yang berujung pada terbentuknya pola pikir bahwa laki-laki tidak seharusnya ikut memakai scencare. Padahal itu merupakan hal yang netral dan bisa digunakan oleh siapa saja.

Dengan menyajikan informasi dan isu-isu politik ataupun sosial, media dapat mempengaruhi dan membentuk sudut pandang dari generasi muda. Saat masa kampanye pemilihan presiden 2024 kemarin, medialah yang membawa pengaruh dan pembentukan kata-kata gemoy yang akhirnya melekat pada salah satu paslon. Power medialah yang mengarahkan generasi muda dan masyarakat untuk sampai pada pola pikir dan sudut pandang itu. Biasanya media menggiring sudut pandang generasi muda sesuai dengan target yang diharapkan media. Kebanyakan orang tidak dapat menyadari hal tersebut, sehingga terbawa arus dan mengikuti alur yang dibentuk oleh media.

Pada era besarnya power media dalam mempengaruhi generasu muda, maka penting untuk generasi muda untuk lebih selektif dan memiliki pemahaman tentang dampak yang diakibatkan oleh konten yang ditampilkan media. Generasi muda harus mengetahui dan mendalami tentang power media, agar dapat menjadi agen perubahan pada arah yang positif dan dapat membangun masyarakat. Karena pada dasarnya, sasaran utama media adalah generasi muda yang selalu penasaran akan banyak hal. Ketika generasi mudanya membentuk pola pikir yang sesuai dengan harapan media, maka akan lebih muda mengendalikan hal-hal selanjutnya.

Itulah pentingnya pendidikan yang dapat meningkatkan literasi para generasi masa depan. Karena target utama media adalah mereka, jadi penting untuk membuat mereka memililki benteng pertahana yang baik agar tidak mudah terpengaruh.

Penulis: Fransiska Vazyabila (Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas)

Tag:

Baca Juga

Menyorot Fenomena Korean Wave di Indonesia
Menyorot Fenomena Korean Wave di Indonesia
Kecelakaan Tunggal di Malalak, Kapolda Sumbar Minta Sopir Bus ALS Serahkan Diri
Kecelakaan Tunggal di Malalak, Kapolda Sumbar Minta Sopir Bus ALS Serahkan Diri
Halal Bihalal Bersama Anak Panti Asuhan, Ketua LK2S Ny. Genny Apresiasi DWP Dinsos Padang
Halal Bihalal Bersama Anak Panti Asuhan, Ketua LK2S Ny. Genny Apresiasi DWP Dinsos Padang
Jabatan Gusti Chandra sebagai Direktur Kredit dan Syariah merangkap tugas Pjs Direktur Utama (Dirut) dan seluruh Direksi Bank Nagari,
Bank Nagari Klaim Selama Libur Lebaran Layanan Perbankan Berjalan Baik dan Lancar
Amazing Grace Production dan Yayasan Rumah Film Indonesia (YARFI) bekerja sama dengan BNN RI sedang mempromosikan film baru
Film Start Up Never Give Up Segera Tayang di Bioskop, Ricky Yanuarfi: Mantan Pecandu Berpeluang Sukses
Inspeksi Pascalebaran, Bupati Dharmasraya Temukan Kendaraan Dinas Tak Layak Jalan
Inspeksi Pascalebaran, Bupati Dharmasraya Temukan Kendaraan Dinas Tak Layak Jalan