Perubahan Iklim Merusak jaringan irigasi dan Menggagalkan Panen

Perubahan iklim telah menjadi 'monster' global yang mengepung kita dari segala penjuru, mengingatkan kita secara tak terelakkan bahwa kita telah bermain-main dengan kekuatan alam yang jauh lebih besar dari yang kita duga.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perilaku manusia yang serampangan terhadap lingkungan telah membuka pintu bagi bencana alam yang tak terhitung jumlahnya, dan sektor pertanian adalah salah satu yang paling menderita dari segala konsekuensi yang mengerikan ini.

Para petani, pahlawan tak dikenal di tanah pertanian, menjadi penerima langsung dari amarah alam yang tidak terduga ini. Kenaikan suhu yang tidak terduga, hujan yang tidak menentu, dan gelombang panas ekstrem tidak hanya mengacaukan agenda tanam-panen tradisional, tetapi juga merusak hasil panen dengan cara yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Betapa tragisnya bagi mereka yang bergantung pada bumi untuk menyediakan kehidupan mereka, saat mereka harus merangkak di bawah tekanan yang tak terhindarkan dari cuaca yang semakin tidak terduga.

Salah satu dampak perubahan iklim di Nagari Sungai Gayo Lumpo tidak hanya menyebabkan kebingungan bagi para petani dalam mengelola sawah, tetapi juga merusak seluruh sistem pertanian.

Akibatnya, produksi padi pun terganggu. Sungai Gayo Lumpo, yang merupakan sumber utama air untuk persawahan, kini menghadapi tantangan serius. Longsor mengancam keberlangsungan jaringan irigasi, sementara aliran sungai mengering karena pasokan air yang berkurang dari Sungai Lubuak Kasai Indah.

Penyebab utama longsor adalah penebangan kayu secara besar-besaran pasca tahun 2009, ketika korban gempa diberi izin untuk mengambil kayu dari hutan guna membangun kembali rumah mereka. Kayu yang tersisa kemudian terbawa deras oleh air hujan, menyebabkan hambatan pada aliran sungai dan memicu banjir bandang yang menghancurkan segala yang ada di jalurnya.

Perubahan iklim juga menyebabkan petani mengalami serangkaian kegagalan panen akibat kekeringan dan serangan hama yang semakin sering terjadi. Ini mengharuskan beberapa petani untuk mengubah jenis tanaman yang ditanam, beralih dari padi ke tanaman seperti cabai dan timun yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem.

Meskipun terdapat infrastruktur irigasi yang seharusnya mendukung tata kelola sawah, perubahan iklim telah menyasar ekosistem lokal, memperparah kondisi keseluruhan. Sumber air utama di Sungai Gayo Lumpo, Lubuk Kasai Indah, yang sebelumnya merupakan sumber kehidupan bagi pertanian, kini terancam oleh fenomena perubahan iklim.

Pemandangan yang menyedihkan adalah ketidakmampuan Sungai Batang Lumpo untuk menyediakan air yang cukup bagi persawahan, memaksa petani untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk memompanya. Di samping itu, jaringan irigasi yang sudah terlanjur rusak membuat situasi semakin sulit bagi para petani.

Pada akhirnya, periode antara bulan April dan Juli tahun 2023 menjadi momen krusial, Nagari Sungai Gayo Lumpo sering kali menjadi sasaran bencana alam seperti banjir dan longsor. Dampaknya bagi sektor pertanian adalah kegagalan panen yang terus menerus menghantui para petani, menjadi bukti nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar teori, tetapi sudah menjadi kenyataan yang pahit bagi komunitas pertanian lokal.

Namun, dalam kelamnya realitas ini, ada sinar harapan yang bersinar redup di kejauhan. Upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim pada pertanian bukanlah mimpi belaka, tetapi merupakan kenyataan yang bisa dikejar. Salah satu solusi adalah dengan mengubah paradigma pertanian kita, beralih dari cara-cara lama yang tidak berkelanjutan menuju praktik-praktik modern yang lebih ramah lingkungan.

Mengurangi penggunaan bahan kimia beracun dan pupuk sintetis adalah langkah awal yang berani, mengirimkan pesan bahwa kita sedang bergerak menuju masa depan yang lebih hijau.

Tidak hanya itu, mengintegrasikan teknologi pertanian modern ke dalam lanskap pertanian juga merupakan langkah yang penting. Dari drone yang melayang di langit untuk memantau tanaman hingga sistem irigasi cerdas yang meminimalkan pemborosan air, teknologi telah membuka pintu bagi solusi-solusi inovatif yang dapat membantu para petani menghadapi tantangan perubahan iklim dengan lebih baik.

Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa pada akhirnya, kekuatan sejati dalam menghadapi krisis ini terletak pada pengetahuan. Membekali para petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa dihargai dengan uang.

Dengan memberikan pelatihan dan edukasi tentang praktik pertanian yang berkelanjutan, kita mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa depan yang tak terduga dengan keyakinan dan ketangguhan.

Jadi, perubahan iklim mungkin merupakan tantangan yang tak terelakkan. Seyogianya, tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah pada keputusasaan. Dengan langkah-langkah yang tepat dan tekad yang kuat, kita dapat membangun sebuah masa depan; di mana pertanian yang berkelanjutan bukan hanya impian, tetapi kenyataan yang hidup dan bernyawa.

Rahmi Awalina, S.TP.,MP, Dosen Teknik Pertanian dan Biosistem Fateta – Univ. Andalas

Baca Juga

Content Creator For Business : Strategi Efektif Membangun Brand Awareness
Content Creator For Business : Strategi Efektif Membangun Brand Awareness
TANAH ULAYAT TOL PADANG-PEKANBARU
Wacana Penghapusan Insentif Guru Dalam Model Fungsi Utilitas
Tingkatkan Kualitas Program Siaran Televisi di Sumbar, KPI Pusat Sambangi Unand
Tingkatkan Kualitas Program Siaran Televisi di Sumbar, KPI Pusat Sambangi Unand
Raih Cumlaude, Bupati Dharmasraya Resmi Menyandang Gelar Magister Administrasi Publik dari Unand
Raih Cumlaude, Bupati Dharmasraya Resmi Menyandang Gelar Magister Administrasi Publik dari Unand
Menguatkan Petani untuk Adaptif dengan Perubahan Iklim
Menguatkan Petani untuk Adaptif dengan Perubahan Iklim
Teknik Pertanian Berkarya: "Transformasi Pasca Panen di Nagari Ketaping"
Teknik Pertanian Berkarya: "Transformasi Pasca Panen di Nagari Ketaping"