Dalam dua dekade terakhir, ranking perguruan tinggi dunia dan regional telah berkembang menjadi salah satu ukuran yang sangat diperhatikan dalam pengelolaan perguruan tinggi. Pemeringkatan seperti QS World University Rankings , Times Higher Education (THE), Academic Ranking of World Universities (ARWU), serta berbagai pemeringkatan regional telah menjadi semacam papan skor yang digunakan untuk membandingkan perguruan tinggi antarnegara. Perguruan tinggi yang berada pada peringkat tinggi memperoleh pengakuan internasional, lebih mudah menarik mahasiswa, dosen, peneliti, mitra industri, serta peluang kolaborasi global. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak perguruan tinggi menjadikan peningkatan ranking sebagai bagian dari strategi institusionalnya. Bahkan, target tertentu dalam ranking sering dimasukkan ke dalam indikator kinerja pimpinan perguruan tinggi.
Mengejar ranking pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Ranking dapat menjadi instrumen untuk memacu perguruan tinggi memperbaiki kualitas pendidikan, meningkatkan produktivitas riset, memperluas jejaring internasional, memperbaiki reputasi akademik, serta meningkatkan tata kelola. Masalah muncul ketika ranking berubah dari alat ukur menjadi tujuan utama. Perguruan tinggi dapat terjebak pada perilaku mengejar indikator yang dihitung oleh lembaga pemeringkat, sementara pertanyaan yang lebih fundamental adalah apakah perguruan tinggi benar-benar menghasilkan lulusan berkualitas, menghasilkan ilmu yang bermanfaat, menyelesaikan persoalan masyarakat, dan berkontribusi terhadap pembangunan bangsa akan menjadi kurang diperhatikan. Ranking seharusnya ditempatkan sebagai salah satu cermin mutu, bukan sebagai definisi tunggal tentang mutu perguruan tinggi.
Keuntungan Mengejar Ranking
Keuntungan pertama dari strategi mengejar ranking adalah terciptanya tekanan positif untuk meningkatkan mutu. Ketika perguruan tinggi ingin naik peringkat, ia harus memperbaiki sejumlah aspek yang umumnya memang penting bagi institusi akademik, seperti kualitas penelitian, publikasi ilmiah, reputasi akademik, kualitas dosen, jejaring internasional, serta hubungan dengan dunia industri. Target ranking dapat memaksa organisasi yang sebelumnya nyaman dengan kondisi lama untuk melakukan pembenahan. Dalam konteks ini, ranking berfungsi seperti cermin eksternal yang memperlihatkan posisi suatu perguruan tinggi dibandingkan dengan institusi lain. Perguruan tinggi dapat mengetahui kelemahannya dan kemudian merancang program perbaikan secara lebih terukur.
Keuntungan kedua adalah meningkatnya visibilitas internasional. Perguruan tinggi yang masuk dalam ranking dunia lebih mudah ditemukan oleh calon mahasiswa, peneliti, universitas mitra, lembaga pendanaan, maupun industri internasional. Reputasi ini dapat menciptakan efek berantai. Reputasi yang meningkat menarik peneliti yang lebih baik. Peneliti yang lebih baik menghasilkan penelitian yang lebih berkualitas. Penelitian yang berkualitas meningkatkan peluang kolaborasi dan pendanaan. Semuanya pada akhirnya dapat memperkuat reputasi institusi. Dengan demikian, ranking dapat menjadi pintu masuk menuju suatu ekosistem akademik global. Bagi perguruan tinggi di negara berkembang, masuk ke jaringan tersebut dapat memberikan kesempatan transfer pengetahuan dan teknologi yang sangat penting.
Ranking dan Daya Tarik Talenta
Perguruan tinggi dengan ranking tinggi juga mempunyai keunggulan dalam rekrutmen talenta. Mahasiswa berprestasi cenderung mempertimbangkan reputasi ketika memilih tempat belajar. Demikian pula dosen dan peneliti yang memiliki mobilitas internasional akan lebih tertarik bergabung dengan institusi yang memiliki reputasi akademik kuat. Dalam jangka panjang, kemampuan menarik talenta dapat menjadi salah satu faktor utama yang menentukan perkembangan perguruan tinggi. Mahasiswa unggul menghasilkan atmosfer akademik yang lebih kompetitif, sementara dosen unggul meningkatkan kualitas pembelajaran dan penelitian. Karena itu, ranking dapat berfungsi sebagai modal reputasi yang memperkuat kemampuan perguruan tinggi untuk mendapatkan sumber daya manusia terbaik.
Ranking juga dapat membantu perguruan tinggi membangun jejaring global. Universitas yang memiliki posisi kuat dalam pemeringkatan biasanya lebih mudah mendapatkan undangan untuk bergabung dalam konsorsium penelitian, pertukaran mahasiswa, joint degree, joint research, visiting professor , maupun kerja sama dengan industri global. Jejaring seperti ini tidak selalu dapat dibangun hanya melalui promosi institusi. Reputasi eksternal menjadi semacam tiket masuk ke dalam jaringan tersebut. Oleh sebab itu, bagi perguruan tinggi yang ingin menjadi pemain global, ranking dapat memiliki nilai strategis yang nyata.
Ranking Mendorong Internasionalisasi
Mengejar ranking dunia juga dapat mempercepat internasionalisasi perguruan tinggi. Perguruan tinggi mulai memperbanyak publikasi internasional, menghadirkan dosen atau peneliti dari luar negeri, mengirim mahasiswa ke universitas mitra, membuka program berbahasa Inggris, serta meningkatkan kolaborasi riset internasional. Internasionalisasi semacam ini pada dasarnya positif karena ilmu pengetahuan memang tidak mengenal batas negara. Mahasiswa perlu memahami perkembangan global, sementara dosen dan peneliti harus mampu berinteraksi dengan komunitas ilmiah internasional.
Namun demikian, internasionalisasi tidak boleh diartikan sekadar memperbanyak kerja sama atau menambah jumlah publikasi bersama peneliti asing. Internasionalisasi yang substantif harus menghasilkan pertukaran pengetahuan, peningkatan kompetensi, dan kontribusi ilmiah. Perguruan tinggi harus mampu membawa persoalan lokal ke dalam diskursus global dan sekaligus membawa pengetahuan global untuk menyelesaikan persoalan lokal. Dengan demikian, internasionalisasi bukan sekadar upaya menaikkan skor ranking, melainkan proses memperluas kapasitas akademik.
Ranking Dapat Menjadi Tujuan sebagai Sisi Negatif
Di balik berbagai manfaat tersebut terdapat risiko serius dalam hal ranking menjadi tujuan yang menggeser misi perguruan tinggi. Jika pimpinan perguruan tinggi terlalu berorientasi pada ranking, seluruh sumber daya dapat diarahkan kepada indikator yang menghasilkan skor. Publikasi internasional, misalnya, dapat menjadi sangat dominan karena memiliki bobot tertentu dalam pemeringkatan. Akibatnya, dosen didorong mengejar jumlah publikasi, sementara kualitas proses pendidikan, pembimbingan mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, dan penelitian yang menyelesaikan persoalan lokal dapat kurang memperoleh perhatian.
Masalahnya bukan pada publikasi internasional itu sendiri. Publikasi ilmiah tetap merupakan salah satu instrumen utama pengembangan ilmu pengetahuan. Yang perlu dikritisi adalah perilaku ketika indikator menjadi tujuan. Ketika jumlah artikel lebih dihargai daripada kualitas dan dampaknya, maka sistem dapat mendorong produksi artikel yang fragmentaris, repetitif, atau kurang relevan. Dosen dapat menghabiskan waktu mengejar target publikasi daripada membangun penelitian jangka panjang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dalam kondisi ekstrem, perguruan tinggi dapat terlihat sangat produktif di atas kertas tetapi tidak cukup kuat dalam menghasilkan inovasi yang benar-benar digunakan masyarakat.
Bahaya Ukuran Menjadi Target dalam Ranking
Ketika suatu ukuran dijadikan target, ukuran tersebut dapat kehilangan fungsi sebagai ukuran yang baik. Ketika jumlah publikasi menjadi target utama, orang akan mengoptimalkan jumlah publikasi. Ketika sitasi menjadi target, orang akan mengoptimalkan sitasi. Ketika reputasi menjadi target, institusi akan melakukan berbagai aktivitas untuk meningkatkan persepsi reputasi. Akibatnya, angka dapat meningkat tanpa peningkatan kualitas yang sebanding.
Perguruan tinggi juga dapat mengalami distorsi prioritas penelitian. Penelitian yang mempunyai peluang tinggi untuk diterbitkan dalam jurnal internasional dapat lebih disukai daripada penelitian yang sangat penting bagi kebutuhan daerah tetapi sulit diterbitkan secara internasional. Misalnya, persoalan teknologi tepat guna untuk petani, industri kecil, pengolahan limbah lokal, atau sistem energi pedesaan mungkin memiliki dampak sosial besar tetapi tidak selalu menghasilkan publikasi dengan sitasi tinggi. Jika seluruh kinerja akademik dikendalikan oleh ranking, bidang-bidang tersebut berisiko terpinggirkan. Padahal, perguruan tinggi publik memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas daripada sekadar mengejar pengakuan internasional.
Ranking Belum Tentu Menggambarkan Dampak Nasional
Ranking dunia juga memiliki keterbatasan karena tidak seluruh kontribusi perguruan tinggi dapat dikonversi menjadi angka ranking. Perguruan tinggi mungkin menghasilkan ribuan lulusan yang menjadi guru, insinyur, dokter, birokrat, pengusaha, peneliti, dan pemimpin masyarakat. Dampak para lulusan tersebut terhadap pembangunan bangsa dapat berlangsung selama puluhan tahun. Namun kontribusi tersebut tidak selalu tercermin secara proporsional dalam ranking dunia.
Demikian pula penelitian yang menghasilkan kebijakan publik, teknologi untuk masyarakat, peningkatan produktivitas industri nasional, atau penguatan ketahanan pangan dan energi dapat mempunyai dampak luar biasa besar tetapi tidak otomatis menghasilkan skor tinggi. Oleh karena itu, ranking perlu dibaca dengan hati-hati. Perguruan tinggi yang ranking-nya tinggi belum tentu paling relevan untuk semua kebutuhan masyarakat, dan perguruan tinggi yang ranking-nya belum tinggi tidak otomatis berkualitas rendah. Ranking menunjukkan dimensi tertentu dari kinerja, bukan keseluruhan nilai sebuah perguruan tinggi.
Ranking Regional Lebih Dekat dengan Konteks
Mengejar ranking regional memiliki beberapa kelebihan dibandingkan mengejar ranking dunia secara membabi buta. Perguruan tinggi dapat membandingkan dirinya dengan institusi yang memiliki konteks sosial, ekonomi, budaya, dan tingkat perkembangan yang relatif lebih dekat. Untuk perguruan tinggi di Asia Tenggara, misalnya, persaingan dengan universitas di kawasan dapat memberikan benchmark yang lebih realistis daripada langsung membandingkan seluruh indikator dengan universitas elite di Amerika Serikat atau Eropa yang memiliki sejarah panjang dan sumber daya jauh lebih besar.
Ranking regional juga dapat mendorong perguruan tinggi membangun kepemimpinan akademik di kawasan. Universitas tidak harus selalu menjadi yang terbaik di dunia untuk memiliki pengaruh besar. Sebuah perguruan tinggi dapat menjadi pusat unggulan Asia Tenggara dalam bidang tertentu yang misalnya bioenergi tropis, teknologi pangan, biodiversitas, mitigasi bencana, pertanian tropis, teknologi kelautan, atau transformasi digital. Keunggulan semacam itu justru dapat menjadi strategi yang lebih realistis dan lebih relevan bagi kebutuhan bangsa.
Kelemahan Mengejar Ranking Regional
Akan tetapi, ranking regional juga memiliki risiko. Perguruan tinggi dapat terjebak dalam kompetisi yang tidak produktif dengan universitas tetangga. Energi pimpinan dan dosen habis untuk memperhatikan posisi institusi dari tahun ke tahun, sementara persoalan substansial tidak mengalami perubahan berarti. Ranking yang naik satu atau dua tingkat dapat dirayakan sebagai keberhasilan besar, meskipun tidak ada perubahan signifikan pada kualitas lulusan atau dampak penelitian.
Selain itu, terlalu fokus pada ranking regional dapat menyebabkan orientasi akademik menjadi terlalu kompetitif dan kurang kolaboratif. Padahal, negara-negara dalam satu kawasan justru memiliki banyak persoalan bersama. Perubahan iklim, ketahanan pangan, energi, urbanisasi, kesehatan, kemiskinan, transformasi industri, dan perubahan teknologi merupakan persoalan lintas batas. Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya berlomba menjadi nomor satu, tetapi juga membangun ekosistem pengetahuan regional yang saling memperkuat.
Ranking dan Efisiensi Penggunaan Anggaran
Mengejar ranking membutuhkan investasi. Perguruan tinggi harus menyediakan dana penelitian, laboratorium, database ilmiah, konferensi internasional, mobilitas akademik, pengembangan sumber daya manusia, sistem informasi, serta berbagai kegiatan internasionalisasi. Jika dikelola dengan baik, investasi tersebut memang dapat meningkatkan mutu. Namun apabila dilakukan hanya untuk mengejar skor, terdapat risiko inefisiensi anggaran.
Perguruan tinggi harus selalu bertanya tentang berapa rupiah yang dikeluarkan untuk meningkatkan satu indikator ranking dan berapa besar manfaat akademik yang dihasilkan? Jika biaya peningkatan ranking sangat besar tetapi manfaatnya hanya berupa perubahan posisi yang marginal, strategi tersebut perlu dievaluasi. Anggaran perguruan tinggi seharusnya memberikan manfaat yang jauh lebih luas: meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat laboratorium, mendukung penelitian strategis, meningkatkan kesejahteraan akademik, dan menghasilkan inovasi. Ranking seharusnya menjadi konsekuensi dari investasi mutu, bukan alasan utama untuk mengeluarkan anggaran.
Ranking sebagai Alat, Bukan Kompas Utama
Perguruan tinggi idealnya memiliki dua lapis indikator kinerja. Lapis pertama adalah indikator global dan regional yang diperlukan untuk mengetahui posisi institusi dalam ekosistem pendidikan tinggi dunia. Lapis kedua adalah indikator misi yang secara khusus menggambarkan kontribusi perguruan tinggi terhadap bangsa dan masyarakat. Dengan pendekatan ini, ranking tetap dihargai tetapi tidak menjadi satu-satunya kompas.
Indikator misi dapat mencakup kualitas lulusan, employability, kontribusi terhadap industri, paten yang dimanfaatkan, teknologi yang diadopsi masyarakat, jumlah startup berbasis riset, kontribusi terhadap kebijakan publik, pengembangan daerah, pengabdian masyarakat, serta keberhasilan menyelesaikan persoalan strategis nasional. Perguruan tinggi dapat membuat National Impact Index (NII) atau University Mission Index (UMI) sebagai pasangan dari ranking dunia. Dengan demikian, institusi tidak hanya bertanya tentang kita berada di peringkat berapa, tetapi juga seberapa besar manfaat keberadaan kita bagi bangsa?
Strategi yang Lebih Seimbang
Strategi yang paling sehat bukan memilih antara ranking dunia atau ranking regional, melainkan menentukan prioritas berdasarkan misi dan kapasitas perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang telah memiliki kekuatan akademik, sumber daya manusia, infrastruktur, dan pendanaan yang memadai dapat menetapkan target global. Perguruan tinggi lain mungkin lebih tepat membangun keunggulan regional terlebih dahulu. Bahkan, sebuah perguruan tinggi dapat memilih beberapa bidang untuk bersaing secara global sementara bidang lainnya difokuskan pada kebutuhan nasional dan regional.
Pendekatan ini memungkinkan perguruan tinggi membangun excellence with relevance sebagai keunggulan yang sekaligus relevan. Sebuah universitas tidak perlu menjadi nomor satu dalam segala bidang. Lebih baik menjadi sangat unggul dalam sejumlah bidang strategis daripada menjadi rata-rata dalam semua bidang hanya demi mengejar ranking. Misalnya, Indonesia memiliki kebutuhan besar dalam energi terbarukan, pangan, bioenergi, mineral kritis, biodiversitas, teknologi kelautan, dan transformasi industri. Perguruan tinggi Indonesia dapat membangun pusat-pusat keunggulan global dalam bidang tersebut. Jika dilakukan secara serius, ranking internasional justru akan mengikuti sebagai konsekuensi.
Jangan Terjebak Menjadi Budak Ranking
Pada akhirnya, mengejar ranking dunia maupun regional memiliki plus dan minus. Sisi positifnya adalah mendorong peningkatan mutu, memperkuat reputasi, menarik talenta, memperluas jejaring internasional, meningkatkan produktivitas riset, dan membuka peluang kolaborasi global. Namun sisi negatifnya adalah risiko komersialisasi reputasi, inflasi indikator, distorsi prioritas penelitian, pemborosan anggaran, dan semakin jauhnya perguruan tinggi dari persoalan nyata masyarakat apabila ranking dijadikan tujuan akhir.
Karena itu, perguruan tinggi sebaiknya mengejar mutu. Bukan mengejar ranking tetapi mengejar dampak. Bukan sekadar angka dan tetapi mengejar keunggulan. Ranking dunia dan regional sebaiknya digunakan sebagai instrumen benchmarking untuk mengetahui posisi relatif dan menemukan ruang perbaikan. Perguruan tinggi yang benar-benar kuat tidak menjadikan ranking sebagai tujuan hidup institusinya. Ia membangun kualitas akademik, menghasilkan ilmu pengetahuan, mendidik manusia unggul, menyelesaikan persoalan masyarakat, dan memberikan kontribusi bagi bangsa. Jika semua itu dilakukan dengan konsisten, ranking tinggi bukan lagi sesuatu yang dikejar secara artifisial, melainkan buah yang tumbuh secara alamiah dari perguruan tinggi yang memang bermutu dan berdampak.
*Penulis: Yazid Bindar (Guru Besar Teknik Pangan dan Kemurgi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung)




