Langgam.id — Dua pakar Sosiologi Universitas Negeri Padang (UNP) menegaskan pentingnya penguatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sosiologi. Penekanan tersebut mengemuka dalam kegiatan SANTIKA SYNTHESIS 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP, Selasa (5/5/2026).
Kedua pakar tersebut, Dr. Delmira Syafrini dan Prof. Dr. Erianjoni, menilai TKA Sosiologi tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar ujian hafalan. TKA kini berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan siswa dalam membaca fenomena sosial, menalar kasus, serta mengaitkan konsep sosiologi dengan realitas masyarakat.
Dalam makalahnya, Delmira menjelaskan bahwa TKA Sosiologi dirancang untuk menguji pemahaman konsep sekaligus kemampuan analisis siswa terhadap berbagai gejala sosial. Siswa, menurut dia, dituntut tidak hanya mengenali konsep, tetapi juga mampu membangun kesadaran sosial serta memahami dinamika masyarakat secara lebih mendalam.
“TKA Sosiologi mendorong siswa memiliki kemampuan analitis, adaptif, dan peka terhadap perubahan sosial,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan bentuk soal TKA yang semakin beragam, mulai dari pilihan ganda sederhana hingga pilihan ganda kompleks seperti multiple choice multiple answers (MCMA). Variasi tersebut menuntut ketelitian siswa dalam membaca soal berbasis kasus, bukan sekadar mengandalkan hafalan.
Delmira menekankan peran strategis guru dalam menyiapkan siswa. Ia menyarankan penggunaan peta konsep, pengenalan kata kunci, serta latihan berbasis kasus. Selain itu, siswa perlu dibiasakan memahami soal melalui tahapan mengidentifikasi fenomena, menentukan konsep utama, dan memilih jawaban yang paling relevan.
Sementara itu, Erianjoni menyoroti perubahan karakter soal TKA yang semakin menekankan aspek penalaran. Ia menilai tantangan tidak hanya dihadapi siswa, tetapi juga sekolah dan guru dalam menggeser pola pembelajaran dari hafalan menuju pemahaman konseptual.
Menurut dia, soal TKA Sosiologi 2026 banyak mengangkat isu-isu seperti konflik sosial, perubahan sosial, struktur masyarakat, penelitian sosial, globalisasi, serta dampak teknologi terhadap perilaku sosial.
“Pemahaman sosiologi sebagai ilmu menjadi kunci, mulai dari sifat empiris, teoritis, kumulatif, hingga non-etis. Ini penting agar siswa mampu melihat gejala sosial secara ilmiah,” katanya.
SANTIKA SYNTHESIS 2026 mengusung tema “Write The Vision, Draw The Reality” dan diikuti 531 peserta olimpiade sosiologi tingkat SMA/sederajat dari 89 sekolah di 17 provinsi. Selain itu, kompetisi tingkat mahasiswa berupa esai dan video dokumenter diikuti 41 peserta dari 11 provinsi.
Ketua pelaksana kegiatan, Aufa Raihan, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai ajang kolaborasi nasional antara mahasiswa dan pelajar untuk memperkuat daya berpikir kritis di bidang sosial.
Di sela kegiatan, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara UNP, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat, serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi kabupaten/kota se-Sumbar.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan ilmu sosial, khususnya dalam menyiapkan siswa menghadapi pembelajaran dan asesmen yang berbasis penalaran.






