PalantaLanggam – Nagari Parambahan sejatinya tidak kekurangan hasil. Setiap musim panen, beras unggulan lahir dari sawah-sawah yang digarap dengan kerja keras dan kearifan lokal. Namun, di balik melimpahnya produksi, tersimpan persoalan klasik: banyak produk nagari masih melangkah ke pasar tanpa identitas, tanpa cerita, dan tanpa nilai jual yang sepadan. Di tengah tren konsumen yang kini membeli berdasarkan kepercayaan dan narasi, kualitas semata tidak lagi cukup.
Kondisi tersebut menempatkan Nagari Parambahan pada risiko yang sama dengan banyak wilayah agraris lainnya menjadi pemasok bahan mentah tanpa menikmati keuntungan terbesar dari jerih payah warganya sendiri. Pertanyaan mendasarnya pun mengemuka: sampai kapan potensi besar hanya berhenti sebagai potensi?
Menjawab tantangan itulah, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas Periode I Tahun 2026 menginisiasi kegiatan bertajuk “Public Speaking, Konten Kreatif dan Branding UMKM serta Demonstrasi Pembuatan Jamu Sehat” di Nagari Parambahan, Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk menguatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi lokal agar bernilai ekonomi, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kegiatan yang dihadiri oleh Wali Nagari Parambahan Yatrinaldi, Ketua Badan Permusyawaratan Nagari Eldi Basmen, unsur Kerapatan Adat Nagari, ibu-ibu PKK, kelompok tani, pelaku UMKM, serta berbagai elemen masyarakat ini menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin antara komunikasi, ekonomi, dan kesehatan.
Pada sesi pertama, materi “Public Speaking, Konten Kreatif, dan Branding UMKM di Era Digital” disampaikan oleh Nadya Hana dan M. Avario Degno Iswandi dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. Keduanya menegaskan bahwa banyak produk UMKM nagari tersisih bukan karena kualitas, melainkan karena lemahnya identitas dan komunikasi merek. Produk dijual tanpa nama yang konsisten, tanpa cerita asal-usul, tanpa kemasan yang mencerminkan nilai lokal, dan tanpa pesan yang membangun kepercayaan konsumen.
Branding, dari perspektif Public Relations, tidak semata soal logo atau desain kemasan, melainkan proses membangun reputasi dan kepercayaan jangka panjang. Beras Nagari Parambahan seperti Anak Daro, Sokan, dan Bujang Marantau sesungguhnya memiliki cerita kuat tentang alam, tradisi, dan kualitas yang selama ini belum sampai ke tangan konsumen. Karena itu, keterampilan public speaking diperkenalkan sebagai modal dasar agar pelaku UMKM mampu menyampaikan nilai produknya secara jujur, runtut, dan meyakinkan.
Nagari Parambahan sendiri merupakan bagian dari kawasan agraris Kabupaten Solok yang dikenal dengan kekayaan varietas padi lokal unggulan. Beras Anak Daro dan Sokan, yang termasuk dalam Bareh Solok, telah memperoleh pengakuan luas atas kualitas dan cita rasanya, bahkan sebagian telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis. Sementara itu, varietas Bujang Marantau juga dikenal sebagai plasma nutfah lokal bernilai tinggi yang berpotensi besar jika didukung oleh sistem pemasaran dan branding yang tepat.
Selain penguatan identitas, peserta juga diajak memahami pentingnya konten kreatif sebagai sarana utama promosi di era digital. Konten sederhana, foto produk dengan cahaya alami, cerita singkat tentang proses panen, hingga video aktivitas di sawah, dinilai mampu membangun kedekatan emosional dengan konsumen. Media sosial, khususnya Facebook yang kini banyak dimanfaatkan ibu-ibu melalui fitur Facebook Pro, dipandang sebagai peluang strategis untuk memperluas jangkauan pasar, termasuk ke komunitas perantau.
Sesi berikutnya diisi oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Divano Azzahwa dan Fawwaz Abiyyu Akbar, yang membahas penguatan branding dan pemasaran beras lokal melalui analisis target market. Dalam pemaparannya, masyarakat diajak memahami bahwa pengemasan, penetapan harga, dan strategi pemasaran digital merupakan kunci untuk menciptakan nilai tambah produk. Selama ini, pemasaran tradisional dari mulut ke mulut dinilai membatasi pasar dan menekan harga jual, meskipun kualitas produk tergolong unggul.
Kegiatan kemudian dilengkapi dengan demonstrasi pembuatan jamu sehat yang dipandu oleh Edya Verby Oktavianis dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas. Sesi ini mendapat respons antusias karena menyentuh kebutuhan kesehatan masyarakat sehari-hari. Sebagai nagari agraris, mayoritas warga Parambahan bekerja di sawah dengan kondisi lingkungan yang lembap dan aktivitas fisik tinggi, sehingga rentan mengalami kelelahan dan gangguan kesehatan.
Jamu sehat diperkenalkan tidak hanya sebagai solusi menjaga kebugaran, tetapi juga sebagai peluang ekonomi baru. Dengan bahan alami yang mudah diperoleh dari ladang dan kebun sekitar serta proses pembuatan yang sederhana, jamu berpotensi dikembangkan menjadi produk UMKM berbasis kesehatan. Beberapa warga bahkan menyampaikan ketertarikan untuk menjadikannya usaha bersama, khususnya bagi ibu-ibu PKK.
Dalam sambutannya, Wali Nagari Parambahan Yatrinaldi menegaskan bahwa kegiatan seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan nagari saat ini. Menurutnya, kemampuan mempromosikan produk secara luas, ditambah inovasi usaha berbasis kesehatan, akan berdampak langsung pada peningkatan perekonomian dan kemandirian masyarakat. Kolaborasi dengan mahasiswa dan Universitas Andalas dinilai sebagai langkah strategis dalam menyiapkan Nagari Parambahan agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Transformasi ekonomi berbasis pengetahuan menjadi keniscayaan di tengah arus pasar digital yang bergerak cepat. Tanpa branding, tanpa cerita, dan tanpa strategi komunikasi yang jelas, produk unggulan berisiko kalah sebelum bersaing. Karena itu, penguatan UMKM, literasi digital, dan inovasi kesehatan perlu ditempatkan sebagai prioritas pembangunan nagari.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah nagari, masyarakat, dan perguruan tinggi, Nagari Parambahan memiliki peluang besar untuk tidak hanya bertahan, tetapi melompat menjadi contoh nagari yang mampu mengubah potensi lokal menjadi nilai ekonomi yang nyata, berkelanjutan, dan menyejahterakan. (*/)






