Taktik Unik Partai Gerindra Raih Perhatian Gen Z di Era Sosial Media

Taktik Unik Partai Gerindra Raih Perhatian Gen Z di Era Sosial Media

Oktavia Ramadhani. (Foto: Dok. Pribadi)

Generasi Z, yang umumnya terdiri dari individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, adalah salah satu generasi yang memiliki karakteristik unik dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu hal yang membedakan Gen Z dari generasi sebelumnya adalah tingkat ketertarikan mereka pada politik yang cenderung sangat minim.

Namun, dengan Pemilu Indonesia yang semakin mendekat, partai-partai politik harus menemukan cara kreatif untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari generasi ini yang jumlahnya tidak dapat diabaikan.

Partai-partai politik Indonesia telah memasuki dunia media sosial dengan tekad yang lebih besar untuk meraih perhatian dan dukungan dari Gen Z. Salah satu partai yang berhasil mencuri perhatian adalah Partai Gerindra. Melalui pendekatan unik mereka di platform media sosial Twitter (sekarang dikenal sebagai X), Partai Gerindra telah berhasil membangun ikatan emosional dan menciptakan buzz di kalangan generasi muda.

Saat ini, media sosial bukan hanya menjadi alat untuk berbagi informasi, tetapi juga menjadi platform politik yang penting. Dalam konteks Pemilu, para partai politik di Indonesia telah meningkatkan upaya mereka di media sosial untuk mencapai audiens yang lebih luas, terutama Gen Z yang cenderung aktif di platform-platform seperti Twitter. Partai Gerindra adalah salah satu partai yang mengambil langkah proaktif dalam memanfaatkan media sosial untuk meraih perhatian Gen Z.

Salah satu taktik utama yang digunakan oleh Partai Gerindra adalah interaksi kreatif dengan pengguna media sosial. Admin akun Twitter Gerindra telah menjadi ahli dalam merespons cuitan-cuitan dari pengguna dengan tingkat kreativitas dan humor yang tinggi. Mereka sering merespons dengan balasan yang lucu, cerdas, dan sesekali kontroversial yang mampu memicu tawa dan perdebatan di kalangan Gen Z. Respons ini menciptakan kesan bahwa Partai Gerindra adalah partai yang tidak kaku dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan bahasa dan budaya Gen Z.

Selain itu, Partai Gerindra juga dikenal aktif memberikan hadiah-hadiah menarik dalam bentuk saldo e-money seperti ShopeePay, GoPay, OVO, Dana, dan sebagainya kepada para pendukung setia mereka. Hal ini menciptakan insentif bagi Gen Z untuk terlibat aktif dengan partai tersebut di media sosial. Hadiah-hadiah ini seringkali diberikan melalui berbagai kompetisi dan tantangan yang kreatif, yang juga mempromosikan partisipasi aktif dari pengguna media sosial.

Taktik-taktik yang digunakan oleh Partai Gerindra telah menarik perhatian Gen Z di media sosial. Namun, mengapa Gen Z begitu responsif terhadap pendekatan ini? Berikut beberapa alasan yang dapat menjelaskan hal tersebut:

  1. Keterlibatan Aktif: Gen Z adalah generasi yang cenderung aktif di media sosial, dan mereka menyukai interaksi yang langsung. Partai Gerindra telah memahami hal ini dan merespons dengan cepat dan kreatif terhadap cuitan-cuitan pengguna, yang menciptakan rasa keterlibatan dan relevansi yang kuat.
  2. Humor dan Kreativitas: Gen Z menghargai humor dan kreativitas dalam konten media sosial. Partai Gerindra telah berhasil menggunakan humor dalam respons mereka, menciptakan citra partai yang lebih akrab dan menarik.
  3. Hadiah dan Insentif: Hadiah-hadiah dalam bentuk saldo e-money menjadi daya tarik tambahan bagi Gen Z. Mereka merasa dihargai dan mendapatkan manfaat langsung dari interaksi mereka dengan partai politik.
  4. Viralitas: Cuitan-cuitan yang lucu atau kontroversial dari Partai Gerindra kadang-kadang menjadi viral karena mendapatkan banyak likes dan retweets. Hal ini membuat Gen Z merasa bahwa mereka berpartisipasi dalam sesuatu yang populer dan penting.

Untuk memahami mengapa taktik Partai Gerindra begitu efektif, kita dapat merujuk pada pandangan Robert Cialdini, seorang ahli psikologi sosial terkenal. Dalam bukunya yang terkenal, "Influence: The Psychology of Persuasion," Cialdini menguraikan enam prinsip dasar yang mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan tertentu, salah satunya adalah prinsip "liking" atau kesukaan.

Cialdini berpendapat bahwa seseorang lebih cenderung menerima atau tertarik pada pesan atau tindakan dari seseorang yang mereka sukai atau yang memiliki kesamaan dengan mereka. Ini berarti bahwa jika seseorang ingin mempengaruhi atau menarik perhatian seseorang, mereka harus mencari tahu apa yang disukai oleh orang tersebut dan menciptakan kesamaan atau ikatan dengan mereka.

Dalam hal ini, Partai Gerindra telah berhasil menerapkan prinsip "liking" dengan sangat baik. Melalui interaksi yang positif, humor, dan pemberian hadiah, Partai Gerindra telah berhasil menciptakan kesamaan dan ikatan emosional dengan Gen Z di media sosial. Meskipun tidak bisa dipastikan bahwa semua yang berinteraksi dengan akun media sosial Gerindra akan memilih partai tersebut pada pemilu, yang pasti adalah mereka telah mengenal dan memiliki persepsi positif terhadap partai tersebut.

Taktik yang digunakan oleh Partai Gerindra di media sosial memiliki dampak jangka panjang yang berpotensi signifikan. Selain mendapatkan perhatian dan dukungan dari Gen Z, Partai Gerindra juga telah menciptakan citra diri mereka sebagai partai yang tidak kaku dan dapat berkomunikasi dengan generasi muda.

Hal ini dapat membawa dampak positif dalam jangka panjang, terutama ketika Gen Z semakin banyak yang memasuki usia pemilih. Walaupun tidak dapat dipastikan bahwa semua Gen Z yang berinteraksi dengan media sosial Gerindra akan memilih partai tersebut, yang pasti adalah mereka telah mengenal dan memiliki persepsi positif terhadap partai tersebut. Hal ini dapat membuat Partai Gerindra menjadi salah satu pilihan utama Gen Z saat pemilu nanti.

*Penulis: Oktavia Ramadhani (Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas)

Baca Juga

Inovasi Digital: Transformasi Ekonomi Budaya melalui Media Online
Inovasi Digital: Transformasi Ekonomi Budaya melalui Media Online
Transformasi Identitas Budaya Era Digital: Kajian Media dan Pengaruhnya
Transformasi Identitas Budaya Era Digital: Kajian Media dan Pengaruhnya
Lebaran Sudah Berakhir, Apakah Kita Sudah Sepenuhnya Saling Memaafkan?
Lebaran Sudah Berakhir, Apakah Kita Sudah Sepenuhnya Saling Memaafkan?
Campur Tangan Humas dan Media Menunjang Perputaran Ekonomi dalam Masyarakat
Campur Tangan Humas dan Media Menunjang Perputaran Ekonomi dalam Masyarakat
Pelanggaran HAM oleh Penegak Hukum: Luka Perih yang Merusak Kepercayaan Publik
Pelanggaran HAM oleh Penegak Hukum: Luka Perih yang Merusak Kepercayaan Publik
Implementasi Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau Guna Melestarikan Budaya & Kearifan Lokal Sumatera Barat
Implementasi Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau Guna Melestarikan Budaya & Kearifan Lokal Sumatera Barat