Mendorong Produktivitas Sawo Sumpur

Mendorong Produktivitas Sawo Sumpur

Robby Kurniawan

Beberapa waktu belakangan, pemerintah daerah Sumatera Barat giat mengampanyekan agenda pariwisata, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat yang lebih rendah, kabupaten dan nagari. Terkhusus Kabupaten Tanah Datar, beberapa program unggulan tentang pariwisata dan ekonomi kreatif telah digulirkan, seperti pembukaan situs pariwisata hingga ikut mencanangkan konsep pariwisata new normal akibat pandemi.

Menilik lebih dalam lagi, di Kanagarian Sumpur, terdapat potensi, yang tidak hanya berpeluang besar dalam mengenjot agenda pariwisata, tapi juga memiliki kekuatan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Sayangnya potensi itu belum dikelola dengan baik. Ialah sawo Sumpur.

Kanagarian Sumpur adalah bagian kecil dari daerah Tanah Datar. Luas nagari dalam wilayah administratif Batipuh Selatan ini hanya 10 persen dari luas kecamatan, dan kurang dari satu persen dari luas Kabupaten. Meski amat kecil, produksi sawo mereka mencengangkan. Nagari yang memiliki lima jorong ini menghasilkan tak kurang dari dua ribu ton sawo setiap tahunnya. Dan menjadi basis terbesar dari total produksi sawo Tanah Datar (BPS, 2017). Naik ke tingkat provinsi, penghasilan Sawo Sumpur bersama kecamatan Batipuh Selatan berhasil menyumbang sekitar 30 persen dari keseluruhan produksi sawo Sumatera Barat (BPS, 2019).

Melihat angka yang sedemikian besar, kita akan terenyuh dengan membandingkanya dengan komoditas lain yang acap memukul harga sawo, seperti alpukat atau duku. Duku memang tak masuk dalam empat besar produksi tanaman hortikulura Sumatera Barat, produksinya hanya berkisar pada angka seribu ton pertahun 2019, namun buah cilik itu dapat memukul mundur harga sawo di tingkat petani dalam kisaran seribu rupiah perkilonya (Antara Sumbar, 22/2/2020).

Begitu juga dengan melihat perbandingannya dengan produksi alpukat. Total produksi tanaman yang disebutkan terakhir ini kurang lebih sama dengan buah sawo di Sumatera Barat, keduanya ada dalam rentang 5,4 ribu dan 5,5 ribu ton.

Tentu saja hitungan matematis dalam jumlah produksi seperti ini tidak dapat dibandingkan dengan serta-merta. Faktor-faktor lain, seperti masuknya produk dari daerah lain hingga permintaan pasar pada masing-masing hasil tanaman menentukan fluktuasi harga produk mentahan. Hanya saja dengan melihat hasil produksi yang sedemikian besar menuntut jawaban atas bagaimana mengelola potensi ini dengan maksimal.

Sejauh ini produksi komoditas sawo, khususnya di wilayah basisnya, belum mampu menjadi jawaban akan peningkatan perekonomian. Apa pasalnya? Beberapa penelitian telah mencoba menjawabnya, di antaranya Jurnal Agribisnis Universitas Andalas. Disebutkan, kondisi inheren buahnya yang cepat busuk dan keberadaan pasar komoditas ini yang diketahui terbatas, membuat sawo mesti segera “diputar”, dipasarkan (Raesi, 2013).

Di sisi lain, gerakan pemerintah untuk membantu bangunan produksi komunitas sawo Sumpur masih dalam garis tinjaun jauh. Melihat progresivitas pemerintah, dengan membandingkan besarnya potensi komoditas ini, dapatlah dikatakan bahwa gerakannya belum maksimal, untuk tidak mengatakan lambat sekali. Padahal Menteri Pertanian telah menetapkan Sawo Sumpur sebagai varietas unggul (1994). Pasca itu, gerakan pemerintah terkesan belum sistematis dalam merentang pembangunan produksi komoditas ini dari hulu ke hilirnya.

Hal ini dapat dilihat sebagai fokus yang terpecah. Dalam Perda Kabupaten Tanah Datar No 5 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas aturan sebelumnya tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2016-2021, buah sawo hanya disebutkan dua kali. Dalam RPJMD itu, Pemerintah daerah Tanah Datar melihat komoditas Sawo sebagai potensi besar namun belum memposisikan komoditas ini sebagai prioritas pembangunan. Paradigma RPJMD atas wilayah Bapituh Selatan, yang masuk dalam koridor V ini, masih tertuju pada memapankan hasil produksi komoditas yang paling besar jumlahnya dan nyata telah tersedia. Pemerintah belum menekuni upaya pada kreasi komoditas.

Terpaku pada kelemahan spesifik komoditas sawo, seperti yang disebutkan di atas, ataupun menginsafi RPJMD Tanah Datar sedemikian rupa, bukanlah kondisi ideal. Bukan produksi namanya, jika kelemahan tidak dijawab dengan solusi-solusi taktis. Pada tahap yang paling mula dibutuhkan perhatian yang serius untuk mengelola potensi ini. Perhatian serius maksudnya, memberikan opsi jawaban produktivitas langsung pada tangan pertama produksi sawo, yaitu petaninya.

Harus diakui, bukan hanya pemerintah yang belum bergerak maju mendorong produktivitasnya, petani sawo Sumpur pun masih dalam rentang petik, panen, dan jual. Opsi-opsi pengolahan, seperti membuat manisan madu, selai, ataupun cuka rumahan yang jamak ditawarkan, masih dalam banyang-bayang. Demikian disebabkan absennya modal dan alat produksi yang menyokongnya.

Meninjau kembali Kemewahan Sawo Sumpur

Masyarakat Sumpur menyebut sawo dengan manila. Nama itu mengingatkan kita pada sebuah kota di belahan utara asia tenggara, yang menjadi Ibu kota Filipina saat ini. Penyebutan nama itu mengandung arti sejarah. Pada tahun 1812, pemerintah kolonial mengirim bibit sawo dari Filipina untuk ditanamkan di wilayah Sumpur. Bibit tersebut sempat singgah di Bukittinggi, lanjut ke Singkarak dan Sumpur.

Pada wilayah yang terakhir ini, Pemerintah Kolonial mewajibkan masyarakat untuk menanam sawo di pekarangan rumah mereka. Hasilnya dapat disetor pada Belanda. Tujuan utama pemasokan ini adalah untuk menunjang nutrisi orang-orang Belanda, termasuk tentaranya. Fenomena kedatangan bibit ini dan tujuannya, menandai buah kecoklatan ini masuk dalam konsumsi elit pada masa penjajahan.

Sebagai pemenuhan nutrisi, kekayaan manfaat sawo manila sudah diungkap banyak ahli. Kendala buah sawo yang mudah busuk pasca dipetik pun, dalam analisa Kesehatan bukanlah kelemahan. Namun menunjukkan kekayaan kandungan di dalamnya. Kandungan kaya mineral, antioksidan, dan vitamin C dalam sawo matang akan menurun kadarnya dengan lamanya penyimpanan (Kusumiyati, dkk, 2017; lihat juga Rahayu Fitriana, dkk, 2020). Ini cocok untuk konsumsi buah segar yang dibutuhkan pada waktu itu.

Saat ini nagari Sumpur, seperti yang diucapkan anak-anak Muhammad Radjab (Penulis besar Sumatera Barat dan Nasional) ketika pulang ke kampungnya. Kampung yang penuh dengan pohon-pohon besar seperti hutan. Pohon besar itu tak lain adalah pohon manila.

Hampir setiap rumah di Sumpur berdiri pohon sawo berumur puluhan tahun. Rumah penulis sendiri pun demikian. Empat batang manila mengepung rumah kami. Salah satu dari pohon itu diketahui berumur lebih setengah abad. Begitu besarnya penjagaan dan penghargaan masyarakat Sumpur pada tanaman sawo. Penulis hampir tak pernah mendengar ada orang yang menebang pohon ini. “Hanya orang kurang sesendok yang mau merusaknya,” terang ibu penulis.

Pohon yang berumur panjang dan buahnya yang tidak terjebak musim, membuat masyarakat Sumpur menjadikannya bak celengan. Jika tidak ada kendala seperti putik yang gugur akibat angin kencang ataupun konvoi beruk setiap sore yang jeli mengintai, sawo bisa dipetik hampir setiap bulan. Sayangnya harga jual buah manis ini belum semanis rasanya. Kekayaan kandungan gizi dan nutrisinya belum membuat petaninya sehat-sejahtera. Harga awal dari tangan pertama berkisar empat hingga lima ribu rupiah perkilo-gramnya. Belum lagi jika panen besar, harganya bisa turun. Hal ini membuat para petani lebih meletakkannya sebagai penghasilan kedua.

Upaya Pemerintah Upaya Penghubung

Keinginan pemerintah untuk meningkatkan pembangunan daerah dapat dijawab dengan hasil kebun sawo yang melimpah di Nagari Sumpur. Hanya saja pemerintah tidak boleh menunggu bola dengan mengharapkan akan tumbuh tunas kreasi masyarakat semata. Strategi Pembangunan berkelanjutan amat penting dalam peningkatan produktifitas komoditas ini. Kearifan masyarakat dalam berinteraksi dengan kebun manilanya, alam Sumpur yang berjodoh dengan pertumbuhannya, dan kehidupan masyarakat dalam jaringan petani, pemetik, hingga pengepul adalah landasan utama produksi ini.

Pemerintah dalam upaya pembangunan -termasuk dalam membangun kepariwisataan- dapat memperkaya landasan tersebut dengan langkah-langkah seperti, Pertama, mengeksplorasi kandungan sawo sebagai komoditas ikonik Tanah Datar. Branding sawo Sumpur belum memadai untuk bersaing dengan sawo di daerah lain. Padahal di tataran penjual buah sawo di pasar, biasa mengenal perbedaan sawo Sumpur. Tidak sedikit pula wisatawan yang berkunjung ke Danau Singkarang dan singgah ke nagari Sumpur takjub dengan limpahan sawo Sumpur. Namun mereka tak “tercolek” dengan pesan diferensiasi komoditas ini dibanding lainnya.

Kedua, membantu kreasi produksi petani pada komoditas olahan. Gambaran umum tentang kreasi olahan atas komoditas sawo telah disebutkan dalam banyak kesempatan. Peluang pasar untuk transaksi hasil olahan juga terbuka. Madu sawo misalnya dapat dikompetisikan dengan madu kurma. Selai sawo memang belum familiar, tapi menjadi kreasi yang sangat mungkin di tengah kelebihan atas kebutuhan sebelumnya, untuk cuka dan bahan olahan makanan. Belum lagi jika digiring ke produk yang lebih liar lagi seperti pewarna kain dan batik. Hanya saja petani belum tergerak menuju wilayah tersebut. Demikian karena tidak adanya ilmu terapan dan alat produksi untuk mengolahnya.

Jika yang pertama, pemerintah berperan dalam merangkai pertanian dalam packging komunikasi, yang kedua adalah upaya menghubungkan pertanian dengan domain yang lebih luas dalam industri kreatif. Kedua langkah ini bukan pekerjaan yang terpisah-pisah. Tidak dipungkiri, bahwa komunikasi adalah vitur penting dalam pemasaran. Kata yang disebutkan terakhir juga kunci penting dalam pariwisata, begitu juga ekonomi kreatif.

Sampai di sini diketahui, dalam meningkatkan produktifitas sawo Sumpur, tidak hanya dibutuhkan keahlian dalam sektor pertanian, tapi juga adanya sinergitas dengan sektor keahlian lain seperti managemen dan pengelolaan informasi. Informasi ini pula selanjutnya yang dapat menjadi value dalam gerak industri kreatif, dalam beragam produk olahannya.

Ketiga, yang berkaitan erat dengan kedua jalan sebelumnya, adalah membuka jaringan distribusi sawo dan hasil olahannya. Langkah ini tentu bukan tanggung jawab mudah, tapi juga tidak pula disebut sulit. Permintaan sawo cendrung stabil setiap tahunnya. Jangkauan distribusinya sejauh ini berbanding dengan ketahanan komonitas ini dalam disposisi wilayah. Jika pilihan-pilihan produk kreatif atas olahan sawo memungkinkan untuk menjawab tantangan disposisi itu, pasar-pasar baru untuk mengenal kualitas manila Sumpur akan lebih terbuka. Lagi-lagi disebutkan, masing-masing tahapan adalah rangkaian tak terpisahkan satu dan lainnya. Tinggal kemauan pemerintah untuk fokus di wilayah ini dan menyiapkan rangkaian penghubung untuk mencapai itu semua.  (*)


*Robby Kurniawan: Anak Nagari Sumpur, Tanah Datar dan mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca Juga

511,52 Hektar Lahan Pertanian Terdampak Galodo, Bupati Eka Putra Ajukan Reklamasi Lahan ke Kementan RI
511,52 Hektar Lahan Pertanian Terdampak Galodo, Bupati Eka Putra Ajukan Reklamasi Lahan ke Kementan RI
Sebulan Pasca Galodo, Bupati Tanah Datar Ajukan 22 Usulan ke BNPB
Sebulan Pasca Galodo, Bupati Tanah Datar Ajukan 22 Usulan ke BNPB
BNPB menurunkan tim survei pemasangan EWS Gunung Marapi di Batang Lona pada masa transisi darurat ke pemulihan pasca banjir bandang
Bakal Pasang EWS, BNPB Turunkan Tim Survei ke Batang Lona Tanah Datar
Bupati Tanah Datar, Eka Putra meninjau kondisi sabo dam yang berada di Nagari Pasir Laweh, Senin (27/5/2024). Peninjauan itu dilakukan guna memastikan kondisi sabo dam
Tanggap Darurat Selesai, Bupati Tanah Datar: 1 Tahun Ini Kita Kerja Keras Masa Transisi
Puluhan ribu nasi bungkus sudah disalurkan dari dapur umum yang ada di posko utama tanggap darurat Tanah Datar sejak Senin lalu (13/5/2025).
Selama Tanggap Darurat di Tanah Datar, 50 Ribu Lebih Nasi Bungkus Disalurkan dari Dapur Umum
TNI AD sudah memasang lima jembatan bailey di Tanah Datar. Pemasangan ini dilakukan karena jembatan sebelumnya diterjang banjir bandang
Tuntas Dipasang, 5 Jembatan Bailey di Tanah Datar Sudah Bisa Dilalui Kendaraan