Memupuk Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya Pemilahan Sampah

Tidak dapat dipungkiri, bahwa setiap hari kita pasti akan menghasilkan sampah dari setiap kegiatan dan aktivitas yang dilakukan. Baik di lingkungan rumah tangga, lingkungan tempat tinggal, bahkan di lingkungan tempat kerja.

Pelaksanaan berbagai kegiatan pekerjaan di perkantoran ataupun hotel, minimal akan menghasilkan sisa-sisa bahan tak terpakai seperti kertas bekas, botol minuman plastik, kardus, kaleng, dan lain-lain.

Begitu juga aktivitas di pasar pasar yang banyak menghasilkan sampah baik organik maupun anorganik. Penumpukan bahan-bahan tak terpakai tersebut, tentu saja akan menjadi masalah apabila dibiarkan terus-menerus, dan tidak dilirik sebagai suatu peluang yang baik.

Salah satu penyebab sampah menjadi berbau dan menyengat adalah proses pembusukan sampah organik yang terperangkap di dalam plastik dan jenis sampah anorganik lainnya, sehingga proses dekomposisi terjadi secara anaerobik dan menghasilkan gas metana.

Sementara itu, sampah-sampah anorganik yang sebenarnya masih dapat diolah dan didaur ulang bisa menjadi barang bermanfaat kembali dan bahkan menjadi nilai tambah ekonomis. Sehingga sampah anorganik tersebut berakhir di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) tidak akan menumpuk apabila dilakukan proses daur ulang.

Oleh karena itu, pemilahan sampah dari sumber menjadi sangat penting dilakukan untuk meningkatkan persentase daur ulang sampah dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.

Apabila tiap individu masyarakat terbiasa memilah sampah sedari rumah walaupun hanya dengan membedakan antara sampah organik dan anorganik, maka proses pengelolaan di TPS ataupun TPST 3R akan menjadi lebih mudah. Idealnya pemilahan dilakukan dengan membedakan sampah menjadi minimal 6 jenis, antara lain sampah organik, kaca, B3, kertas atau karton, plastik, dan residu.

Untuk memudahkan pemilahan sampah sebaiknya kita perlu mengidentifikasi jenis sampah atau potensi sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari. Selanjutnya mengelompokkan sampah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik, sampah anorganik dan sampah atau Limbah Bahan Berbahaya Beracun (Limbah B3).

Itulah fungsi ketiga tempat sampah diatas, yaitu sebagai wadah penempatan sementara berdasarkan jenis sampah organik, sampah anorganik dan Limbah B3. Bila memungkinkan jumlah wadah tersebut bisa lebih dari tiga, kelompok sampah anorganik bisa dibagi lagi seperti sampah plastik diberi tempat tersendiri, begitu juga dengan sampah kaleng, kaca, karet dan sebagainya.

Wadah sampah perlu diberi label untuk memudahkan dalam penempatan sampah sehingga tidak tercampur, sebaiknya perlu juga diberi warna, seperti warna HIJAU untuk sampah basah, KUNING untuk sampah kering dan MERAH untuk limbah B3.

Jika penempatan sampah telah sesuai maka rantai pertama dalam aktivitas pengelolaan sampah dapat dinyatakan aman karena tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi lingkungan sekitar. Selanjutnya sampah siap diangkut ke tujuannya masing-masing, seperti TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah.

Bagi sampah anorganik yang bisa didaur ulang kembali, sampah tersebut bisa dibawa ke bank sampah untuk ditabung ataupun diolah sesuai dengan kreatifitas yang diinginkan.

Sementara limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3 (bahan, zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya).

Di lingkungan rumah limbah B3 bisa ditemukan seperti bola lampu bekas, baterai bekas, oli bekas dan sejenisnya. Penjelasan lebih rinci terkait Limbah B3 diatur dalam PP 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah B3. Dengan mengetahui jenis sampah yang dihasilkan maka penempatannya harus juga disesuaikan, jangan sampai tercampur dengan sampah jenis lainnya.

Jangan menempatkan sampah organik di tempat sampah anorganik, apalagi di tempat limbah B3, atau sebaliknya. Sebab bercampurnya jenis sampah dapat mengurangi kualitas sampah itu sendiri terutama sampah yang akan didaur-ulang dan bisa menjadi nilai tambah ekonomis.

Jika pemilihan sampah telah dilakukan dengan benar berarti kita telah patuh terhadap Undang-Undang dan Peraturan terkait pengelolaan sampah. Kita sudah dapat berkontribusi membuat aktivitas pengelolaan sampah berjalan lebih efektif dan efisien serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Bila dilakukan pekerjaan memilah sampah itu sangat mudah namun kebanyakan rumah tangga tidak melakukannya. Hanya 9,3% rumah tangga di Indonesia yang sering dan selalu melakukan pemilahan sampah, 19% kadang-kadang dan 71,7% tidak melakukan (Hasil Survei SUSENAS 2017).

Ada banyak faktor yang menyebabkan masyarakat tidak melakukannya pemilahan sampah, bisa saja karena “tidak tahu”. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan banyak sosialisasi cara pengelolaan sampah yang benar seperti tertuang dalam Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana disebutkan di atas.

Agar masyarakat mengetahui ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan tersebut. Apalagi wadah atau tempat sampah seperti disebutkan di atas sudah didistribusikan dan tersebar di tengah-tengah masyarakat, seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional, tempat rekreasi, taman taman kota, pusat perkantoran, sayang kalau pemanfaatannya tidak tepat.

Ketika sosialisasi sudah dilakukan diharapkan masyarakat secara sadar bisa menempatkan sampah sesuai petunjuk yang terdapat pada wadah sampahnya. Memang mengubah kebiasaan itu terasa berat, butuh proses dan waktu yang lama.

Memunculkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk itu keterlibatan semua pihak termasuk anak-anak, bahkan semua institusi, dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh.

Sebab aktivitas pemilihan sampah itu wajib dilakukan oleh setiap orang pada sumbernya, demikian amanat yang tertuang dalam Permen LH 81/2012.

*Rahmi Awalina adalah Dosen Fateta Unand dan Penggiat Lingkungan

Ikuti berita terbaru dan terkini dari Langgam.id. Anda bisa bergabung di Grup Telegram Langgam.id News Update di tautan https://t.me/langgamid atau mengikuti Langgam.id di Google News pada tautan ini.

Baca Juga

Awal 2023, Unand Lepas 1.210 Wisudawan
Awal 2023, Unand Lepas 1.210 Wisudawan
MAHUPIKI Sosialisasi UU KUHP di Sumbar, Rektor Unand: Penanda Sejarah Hukum Indonesia
MAHUPIKI Sosialisasi UU KUHP di Sumbar, Rektor Unand: Penanda Sejarah Hukum Indonesia
Hadapi Dunia Kerja, Unand Bekali Calon Wisudawan Pelatihan Karir
Hadapi Dunia Kerja, Unand Bekali Calon Wisudawan Pelatihan Karir
Strategi Peningkatan Nilai Jual Produk UMKM
Strategi Peningkatan Nilai Jual Produk UMKM
Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Aplikasi Teknologi Pengolahan Berbasis Pengembangan Bahan Baku Lokal
Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Aplikasi Teknologi Pengolahan Berbasis Pengembangan Bahan Baku Lokal
Menunggu Jalan Perubahan
Menunggu Jalan Perubahan