Lebaran Sudah Berakhir, Apakah Kita Sudah Sepenuhnya Saling Memaafkan?

Tradisi bermaaf-maafan sudah melekat dalam budaya Indonesia, tepatnya bagi masyarakat yang beragama Islam. Tradisi ini ditandai dengan adanya makanan kue raya dan juga Tunjangan Hari Raya (THR).  Tradisi bermaaf-maafan juga menjadi pertanda sudah berakhirnya bulan Ramadan dan mulai memasuki bulan kemenangan. Bulan ini dikatakan bulan kemenangan dikarenakan masyarakat yang beragama Islam sudah berhasil ‘menang’ dalam berpuasa selama satu bulan mengendalikan hawa nafsunya di bulan Ramadan.

Tradisi saling memaafkan ini pun memiliki aspek filosofis dalam kehidupan berbudaya. Berangkat dari umat muslim yang menyatakan bahwa pada hari lebaran adalah hari kita kembali suci, maka kita disunahkan untuk saling meminta-maaf agar kita kembali suci. Baik suci terhadap Tuhan Yang Maha Esa maupun suci terhadap sesama manusia. Tradisi ini pun terus menerus terjadi apabila hari lebaran telah tiba.

Hebohnya suasana lebaran yang saling kunjung-mengunjungi keluarga, kerabat, dan juga tetangga terkadang membuat kita lupa bahwasanya ada sosok yang kita tidak sempat untuk meminta maaf terhadapnya, padahal dia telah berjerih payah dan menjadi sosok utama dalam membantu peran kita sebagai manusia. Sosok tersebut adalah diri kita sendiri. Orang yang selalu berjerih payah dalam perihal bertahan hidup hingga detik ini.

Suatu pertanyaan yang sangat mendalam adalah “sudahkah kita meminta maaf terhadap diri kita sendiri?.” Mustahil kita bisa sepenuhnya memaafkan dan sepenuhnya suci jika kita sendiri masih belum mampu untuk meminta maaf terhadap diri sendiri. Diri sendiri yang kuat dan hebat dalam menjelajahi kerasnya kehidupan. Organ-organ dalam tubuh yang masih mampu berfungsi maksimal dalam menjalankan perannya masing-masing. Fisik yang juga sudah bekerja keras demi menjalani kehidupan yang begitu menakjubkan ini.

Sudahkah juga kita meminta maaf kepada kedua orang tua kita yang masih mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Tak terbatas pada usia anaknya yang sudah semakin dewasa, di mata orang tua kita. Kita hanyalah anak kecil yang dilahirkan dan dibesarkan oleh air keringat mereka. Meskipun terkadang rasa egois kita masih kental terhadapnya, tetap maafkanlah kedua orang tuamu. Maafkanlah orang tua kita atas tidak mampunya dia memberikan cinta sebagaimana yang kita inginkan. Hanya karena dia tidak mencintai kita sebagaimana yang kita inginkan, bukan berarti dia tidaklah mencintai kita.

Maafkan jugalah saudara maupun kerabatmu yang suka ikut campur dan terkadang membuat hatimu terluka olehnya. Manusia terkadang membuat salah, tetapi manusia juga makhluk yang tidak sempurna. Semuanya bisa diusahakan dan manusia mampu untuk berubah. Lakukanlah pertengkaran hebat pada saat itu jika bisa. Hanya saja, janganlah sampai pertengkaran kita di saat itu menjadikan kita musuh abadi sampai pada saat ini. Ribuan momen kebaikan yang kita rakit bersama akan terasa picik jika dirusakkan hanya karena suatu kesalahan belaka.

Akhir dan yang terkadang dapat terlupakan yakni bermaafanlah kepada saudara kita yang telah gugur dan telah berada di alam lain. Minta maaf dan juga maafkanlah kesalahan mereka yang telah berlalu. Jika memang itu terlalu mengiris dan merobek hati kecilmu, relakanlah. Sesuatu yang sudah berbeda alam tidak akan mungkin bisa dibalikkan kembali. Hanya satu yang mampu kita lakukan dan satu hal itulah yang memiliki titik tertinggi dari mencintai, yaitu mengikhlaskan. Ikhlaskanlah segala perbuatannya selama hidup di dunia ini.

Semoga di Lebaran tahun 2024 ini kita menjadi pribadi yang semakin berlapang dada, sepenuhnya memaafkan atas segala kesalahan yang telah orang lain lakukan maupun yang telah kita lakukan. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak memiliki kesalahan, maka dari itu ikhlaskanlah. Kembali suci terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan juga terhadap sesama Manusia. Semakin menghargai perbedaan yang ada, karena sesungguhnya tidak ada manusia yang dapat bertahan hidup tanpa adanya bantuan dari manusia lainnya. Sampai jumpa di lebaran selanjutnnya.

*Penulis: Arief Setyawan (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas)

Baca Juga

Membangun Fondasi Kuat Perencanaan Humas Sebagai Strategi Mencapai Kesuksesan yang Optimal
Membangun Fondasi Kuat Perencanaan Humas Sebagai Strategi Mencapai Kesuksesan yang Optimal
Eksistensi Komunikasi Korporasi dalam Menjaga Reputasi Perusahaan
Eksistensi Komunikasi Korporasi dalam Menjaga Reputasi Perusahaan
Urgensi Komunikasi dalam Membangun Reputasi dan Branding
Urgensi Komunikasi dalam Membangun Reputasi dan Branding
Padang Bersih, Tanggung Jawab Siapa?
Padang Bersih, Tanggung Jawab Siapa?
AO Mekaar PNM Sebagai Agen Perubahan
AO Mekaar PNM Sebagai Agen Perubahan
Ajaibnya Matrilineal di Minangkabau
Ajaibnya Matrilineal di Minangkabau