Kisah Pemuda Pesisir Selatan Dirikan Pesantren Sederhana Tanpa SPP

Kisah Pemuda Pesisir Selatan Dirikan Pesantren Sederhana Tanpa SPP

Pesantren Ashabul Kahfi di Pesisir Selatan. [dok. Ist]

Tidak Dipungut SPP

Dijelaskannya, pesantren tidak memungut biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) kepada anak-anak didiknya. Operasional pesantren berasal dari dana bantuan donatur dan masyarakat setempat. Anak didik hanya dikenakan biaya baju seragam, kitab ajar, dan biaya listrik Rp 50 ribu sebulan.

Bahkan untuk sembilan kitab ajar satu anak hanya membayar Rp 100 ribu rupiah saja. Kondisi ini menyesuaikan ekonomi masyarakat di kampung, apalagi terdampak pandemi covid-19 saat ini.

“Waktu itu saya sampaikan kepada kawan, apakah siap untuk mengabdi? Paling tidak ini tanggungjawab kita sebagaimana nilai tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian, waktu itu kawan-kawan siap, karena siap mari kita berjuang, sampai sekarang,” katanya.

Soal pemilihan nama Ashabul Kahfi Heru mengaku terinspirasi dari nama salah satu surat di Alquran yaitu surat Al Kahfi. Dalam surat itu bercerita tentang perjuangan pemuda yang mengasingkan diri dalam goa. Kisahnya tujuh pemuda mengasingkan diri dalam goa karena ingin melakukan pembaruan dan perubahan karena adanya raja yang zalim saat itu.

Dia ingin mengambil semangat para pemuda itu bahwa sebagai seorang pemuda yang menghadapi berbagai macam perosalan di zaman ini harus melakukan pergerakan dan pembaruan. Ditambah dengan banyaknya umat yang tidak paham agama.

Berawal dari delapan orang, sampai sekarang sudah ada 12 orang yang menjadi tenaga pengajar dan Heru sebagai pimpinan pondok. Semua tidak digaji dan hanya pengabdian saja di pesantren. Meski tidak digaji, setidaknya para guru terdaftar dalam data EMIS Kementerian Agama (Kemenag).

Guru-guru menurutnya tidak mengajar secara penuh setiap hari. Mereka ada yang mengajar misalnya tiga hari seminggu dan di hari lain mereka ada yang bekerja seperti di ladang, perkebunan, atau pekerjaan lainnya. Heru sendiri juga bekerja sebagai penyuluh agama selain mengurus pesantrennya.

“Jadi saya semangat untuk pesantren ini karena ada dukungan dari banyak kawan-kawan, jujur kalau saya sendirian tidak akan sanggup saya, mungkin akan saya tinggalkan saja,” katanya.

Selain itu, pesantren di bawah naungan Yayasan Tarbiah Islamiah Ashabul Kahfi ini juga mengurus juga sudah mengurus sejumlah persyaratan pendirian sebagai sekolah swasta mulai akta notaris, SK Kemenkumham, dan nomor statistik pesantren di Kemenag.

Pesantren Ashabul Kahfi ini merupakan sekolah yang sederajat dengan SMP dan SMA. Saat ini sudah ada empat kelas yang terdiri dari 3 kelas tingkat madrasah dan 1 kelas tingkat aliyah. Total ada 21 siswa saat ini yang sedang dalam pendidikan.

Halaman:

Baca Juga

Sejumlah potongan tubuh diduga milik mayat di aliran sungai Batang Anai, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat
Keluarga Minta Diusut Tuntas, Punggung Guru yang Meninggal di Mes Polisi Pesisir Selatan Memerah
Sosok mayat perempuan ditemukan di aliran sungai di Nagari Barung Barung Balantai, Kacamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan,
Kasus Guru PPPK Meninggal di Mes Polisi, Orang Tua Korban Beberkan Kejanggalan
Sejumlah potongan tubuh diduga milik mayat di aliran sungai Batang Anai, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat
Guru PPPK Meninggal di Kamar Mes Polisi, Kasus Masih Diselidiki
Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2022, BI Sumbar Bawa Rp 5,9 Miliar ke Mentawai
Pengusaha Dapur MBG di Pesisir Selatan Polisikan Yayasan dan Pemilik Lahan, Klaim Rugi Rp1 Miliar
Muhammad Nur, Pengawas Madrasah di Sumbar. (Dok. Istimewa)
Merdeka Mengajar: Refleksi Jelang Tahun Ajaran Baru
Ilustrasi pocong. (Dok. AI)
Heboh Video “Pocong Begal” Gegerkan Warga Pesisir Selatan, Ini Kata Polisi