Kinerja Perdagangan Sumbar: Ekspor Kian Terjerembab, Impor Membengkak

Ekspor Karet Sumbar

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan. Foto: Ist

Langgam.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat merilis kinerja perdagangan luar negeri atau ekspor impor Sumbar terbaru, pada 10 Juni 2019. Laporan itu mencatat kinerja Januari hingga April tahun ini.

Per April 2019, BPS mencatat nilai ekspor Sumbar yang seluruhnya berasal dari komoditi nonmigas mencapai 104,25 juta dolar Amerika atau setara Rp1,45 triliun jika kurs rupiah dihitung Rp14.000 per dolar.

Angka itu turun 20,43 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dan turun 12,37 persen dari bulan Maret 2019.

Secara kumulatif Januari-April tahun ini, nilai ekspor Sumbar juga turun signifikan hingga 25,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018 lalu.

Kepala BPS Sumbar, Sukardi mengatakan penurunan ekspor yang sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini, merupakan imbas dari melemahnya harga komoditas unggulan Indonesia di pasar global.

“Masih melemahnya harga CPO dan karet serta barang turunnya membuat nilai ekspor juga menurun,” kata Sukardi.

Ia memaparkan dua komoditas tersebut masih mendominasi angka ekspor daerah itu. CPO (cruid palm oil) atau minyak sawit misalnya mendominasi hingga 70,37 persen dari total ekspor Sumbar sepanjang tahun ini.

Begitu juga dengan karet dan barang dari karet berkontribusi sebesar 18,36 persen terhadap total nilai ekspor. Artinya, jika dua komoditas ini anjlok, maka dipastikan kinerja ekspor Sumbar juga jeblok.

Parahnya, sudah lah ekspor kian menurun, nilai impor Sumbar justru meningkat cukup tinggi sepanjang April.

BPS Sumbar merangkum sepanjang bulan itu, nilai impor Sumbar mencapai 44,44 juta dolar Amerika atau berkisar Rp616 miliar.

Angka itu meningkat hingga 17,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan naik 4,28 persen dibandingkan bulan Maret lalu.

Namun, secara kumulatif sepanjang empat bulan pertama tahun ini, total impor Sumbar sebesar 156,94 juta dolar Amerika atau menurun 3,78 persen dibandingkan tahun lalu.

Adapun, impor terbesar daerah ini adalah BBM yang mencapai 30,22 juta dolar Amerika atau lebih dari 70 persen dari total impor Sumbar. Diikuti pupuk, golongan ampas/sisa industri makanan, kertas dan karton, dan mesin atau peralatan mekanik.

Negara pengimpor utama berasal dari Singapura, Rusia, Argentina, China dan Swedia. Sedangkan ekspor Sumbar menyasar Amerika Serikat, India, Bangladesh, Singapura, Sri Lanka, China, dan Jepang.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar Wahyu Purnama A mengingatkan perlunya upaya serius pemerintah meningkatkan kinerja ekspor dan investasi, guna menopang pertumbuhan ekonomi daerah.

“Perlu ada upaya ekstra untuk meningkatkan investasi dan memperbaiki kinerja ekspor, sehingga target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai dengan baik,” ujarnya.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun ini masih bisa melaju di kisaran 5,1 – 5,4 persen atau lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu yang hanya 5,14 persen.

Ramal Saleh, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumbar berpendapat untuk meningkatkan ekspor perlu pemerataan komoditas unggulan yang tidak lagi didominasi CPO dan karet.

“Idealnya, porsi sawit dan karet hanya 30 persen dari total ekspor Sumbar, bukan seperti sekarang yang 70 persen,” katanya.

Ia menilai perlu ada keberanian dan keseriusan pemerintah daerah bersama pelaku usaha, akademisi dan seluruh stakeholder untuk mengembangkan komoditas lokal lainnya berorientasi ekspor.

Sebab, menurutnya ada banyak komoditas unggulan Sumbar yang bisa dikembangkan dan menjadi primadona pasar global, seperti kopi, pala, cengkeh, teh, vanila, kayu manis, cokelat, gambir, dan lada.

Jika pengembangan komoditas tersebut dilakukan dengan baik, ia yakin Sumbar tidak akan lagi tergantung pada ekspor sawit dan karet.

 

Baca Juga

Padang masuk ke dalam delapan kota di Indonesia menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati masa tua. Hal itu berdasarkan survei GoodStats
Triwulan I/2024: BPS Catat Ekonomi Sumbar Tumbuh 4,37 Persen, Masih di Bawah Nasional
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Sumatra Barat (Sumbar) pada 2023 lalu mencapai 13.341.025 orang.
Berikut 10 Kabupaten/Kota dengan Jumlah Wisatawan Nusantara Terbanyak di Sumbar
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wahyu Wibawa mengungkap beberapa alasan yang menentukan tingkat adopsi varietas padi di
Tahun Lalu Ekonomi Sumbar Hanya 4,62 Persen, BI Sarankan 3 Kunci Dongkrak Pertumbuhan
Berita Sumbar terbaru dan terkini hari ini: BI mencatat, terjadi perlambatan pertumbuhan perekonomian Sumbar selama delapan tahun terakhir.
BI Proyeksikan Ekonomi Sumbar Bisa Tumbuh 5,31 Persen Tahun Ini
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk Sumatra Barat (Sumbar) pada 2023 lalu sebanyak 5.757.205 jiwa. Jumlah ini mengalami
Jumlah Penduduk Sumbar Bertambah di 2023, Ini Rincian Per Kabupaten/Kota
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumatra Barat (Sumbar) pada 2023 lalu sebesar 5,94 persen. Persentase ini mengalami penurunan dibandingkan
Berikut Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten/Kota di Sumbar pada 2023